LombokPost - Melemahnya daya beli ditambah persaingan usaha art shop yang ketat membuat perajin tenun harus memutar otak mendatangkan pembeli. Salah satunya dengan mengandalkan pasar lokal.
UMKM Mina Tenun menjadi salah satu art shop yang memilih bertahan dengan mengandalkan pasar lokal.
Koordinator Mina Tenun Sudiman mengatakan, pihaknya tidak bekerjasama dengan travel agen. Itu membuat kunjungan wisatawan ke tempatnya relatif terbatas.
“Agak susah kalau tidak kerja sama dengan travel. Walau kita kenal dengan guide, kalau sudah diarahkan harus dibawa ke tempat tertentu, wisatawan biasanya mengikuti,” katanya.
Baca Juga: The People’s Cafe Bawa Menu Wiken Film ‘Empat Musim Pertiwi’ ke Meja Makan
Kondisi tersebut membuat Mina Tenun lebih banyak menyasar konsumen lokal. Pembelinya datang dari berbagai wilayah di Lombok, seperti Lombok Barat dan Lombok Timur.
Mereka umumnya membeli kain tenun untuk kebutuhan busana adat, termasuk keperluan nyongkolan dan begawe.
Strategi menyasar pasar lokal juga membuat Mina Tenun berupaya menjaga harga tetap kompetitif.
Sudiman menyebut harga produknya tidak dibebani biaya tambahan dari komisi perjalanan.
Baca Juga: Enam UMKM NTB Siap Unjuk Produk di Trade Expo Indonesia 2026
“Kalau di sini murni harga asli. Kisaran Rp 1-1,5 juta untuk kain tenun songket,” ujarnya.
Harga tersebut, lanjut dia, disesuaikan dengan kualitas produk. Mina Tenun juga memastikan produk yang dipasarkan berasal dari penenun lokal Sukarara.
Langkah itu menjadi pembeda di tengah banyaknya produk kerajinan yang beredar di pasaran.
Saat ini, Mina Tenun menaungi sekitar 16 hingga 20 penenun. Produksi utama meliputi kain songket dan sapuk atau ikat kepala khas Sasak.
Ketika stok menipis atau ada permintaan terhadap motif tertentu, Mina Tenun juga menggandeng perajin dari dusun sekitar.
Selain menjaga ketersediaan produk, langkah tersebut ikut membuka ruang pemasaran bagi penenun lainnya.
Baca Juga: Digelar 13-16 Oktober 2026, Rinjani Travel Mart Ke-7 Bidik Transaksi Rp 30 Miliar
Sudiman berharap pemerintah daerah dapat membantu membuka akses pasar bagi art shop kecil.
Menurutnya, distribusi kunjungan wisatawan maupun tamu pemerintahan perlu diperluas agar tidak hanya terkonsentrasi pada usaha yang telah memiliki jaringan dengan travel agen.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton yang menunggu tamu sesekali datang,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan