Bertani zaman sekarang tak perlu lahan luas. Pekarangan atau lantai rumah bisa dimanfaatkan menjadi ladang pertanian dengan sistem hidroponik. Cocok bagi warga perkotaan.
ALI ROJAI, Mataram
******************
TANGAN Dede Angsakti begitu cepat mencabut akar tananam kangkung yang ada di green house milik SMKPPN Mataram. Setelah itu ia langsung membersihkan akar kangkung yang dicabut dari media air yang ditaruh dalam pot plastik berisikan air. “Ini banyak dicari,” kata pria yang menjadi guru di SMKPPN Mataram itu.
Sejumlah tanaman kangkung ditanam di green house ukuran 10x20 meter itu. Tercatat sekitar 30 tanaman kangkung yang hanya akarnya saja terlihat di media air tersebut. Akar kangkung ini kata dia, akan dijual. Sebagai obat ambeien. Jadi, tidak hanya daunnya saja yang bisa dimasak. Namun juga akar tanaman kangkung memiliki khasiat mengobati ambeien. “Barusan orangnya nelpon. Minta akar kangkung lagi,” terang dia.
Akar tanaman kangkung ini terlihat cukup besar. Tidak seperti kangkung dibudidayakan di sawah atau di kali. Tak hanya kangkung, namun jenis sayur atau buah di green house ini lebih besar dibandingkan yang biasanya. “Kalau di sini tidak ada hama. Tidak ada tanaman liar. Jadi buah atau sayur lebih besar ,” ujar pria asli Lombok Tengah ini.
Tak hanya kangkung, namun sayur lainnya seperti seledri, bayam, kacang panjang, mentimun tumbuh dengan subur. Tanaman ini terlihat berbeda. Lebih besar. Kata Dede, teknologi hidroponik bisa memanfaatkan pekarangan rumah. Bahkan di rumah bertingkat bisa digunakan teknologi ini. “Teknologi ini tidak membuat kotor. Hasil panennya juga lebih besar,” ujar pria 25 tahun ini.
Ia mencontohkan tanaman mentimun. Tanaman yang menggunakan media pasir akan lebih besar buahnya dengan mentimun yang ditanam di lahan terbuka. Mentimun tanaman menjalar. Tinggal ditanam menggunakan media pasir dalam ember maka tanaman ini menjalar. Bahkan buahnya pun lebih besar karena nutrisi terjaga. “Tidak ada tanaman liar di sampingnya untuk berbagi nutrisi. Tidak diganggu tanaman lain,” terang pria lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mataram ini.
Banyaknya buah mentimun tergantung dari perawatan. Berapa jumlah bunga maka itulah jumlah mentimun. “Satu tanaman bisa menghasilkan 20 buah satu bulan. Tidak perlu ke pasar cari mentimun,” terangnya.
Teknologi hidropnik cocok di daerah perkotaan. Di Mataram teknik seperti ini sangat cocok. Begitu juga dengan hidroponik NFT (Nutrient Film Technique). Konsep dasar sistem ini adalah mengalirkan nutrisi hidroponik ke akar tanaman secara tipis. Tujuan dari pengaliran secara tipis ini adalah supaya akar tanaman bisa memperoleh asupan air, oksigen, dan nutrisi yang cukup. “Kalau NFT khusus untuk tanaman sawi,” terangnya.
Sistem NFT biasanya kebanyakan digunakan di skala industri. Namun juga digunakan di skala rumahan karena ada air mancur. “Daripada buat taman air mancur, lebih baik buat hidroponik NFT,” tuturnya. (r5/*)
Editor : Redaksi Lombok Post