Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Bocah Tiga Tahun Menanti Pendonor Mata, Butuh Satu Kornea Lagi

Administrator • Senin, 4 Mei 2020 | 23:26 WIB
Faeyza Agha Tambahani (kiri)
Faeyza Agha Tambahani (kiri)
Usianya baru tiga tahun. Sedang lucu-lucunya. Namun, dia harus hidup dengan mata yang tidak sempurna. Mata kirinya sudah mendapat pendonor. Kini Faeyza Agha Tambahani, bocah mungil itu, menanti pendonor untuk mata kanannya.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

SEKILAS tidak ada yang berbeda dari penampilan Agha, sapaan Faeyza Agha Tambahani. Mirip bocah seusianya. Aktif ke sana kemari. Yang membedakan hanya kacamata tebal yang dikenakannya. Jika dicermati, di mata kanan Agha terlihat ada garis-garis putih. Tepatnya di bagian kornea.

”Itu memang kerusakan mata Agha,” ujar Raymond Tambahani, sang ayah. Raymond mendekap anaknya yang menggelayut di pangkuannya. Agha sendiri terlihat asyik makan kue yang disediakan Lions Eye Bank Jakarta (LEBJ).

Agha lahir pada 11 September 2016. Begitu lahir, Agha bayi diletakkan di dada Finna Hevarina, ibunya. Saat itulah Raymond melihat ada guratan putih di dua mata Agha. Waktu itu dia pikir anaknya terkena katarak.

Waktu berlalu. Agha tumbuh seperti anak kebanyakan. Bicaranya lancar. Belajar berjalan pun cepat. Namun, dia sering menabrak. Kepalanya beberapa kali terbentur. Sering dia jatuh saat berjalan. ”Saya tak ingin masa golden age Agha sia-sia,” ujarnya.

Raymond lalu berkonsultasi ke dokter mata. Sejak lahir hingga berusia 2 tahun, Agha sampai ganti dokter empat kali. Tujuannya ialah mencari opini diagnosis sebanyak mungkin. Selain itu, dia ingin tahu tindakan apa yang harus dilakukan kepada anak keduanya tersebut.

Tiga dokter menyarankan agar Agha dioperasi setelah berusia 5 tahun. ”Ada juga yang menyarankan agar dibuatkan lubang di kelopak matanya supaya dapat melihat dengan lebih baik,” ungkapnya. Raymond merasa tak puas dengan jawaban itu. Dia mencari opsi lain.

Raymond akhirnya berkonsultasi ke LEBJ. Dia dan istrinya bertemu dengan dr Sharita Siregar SpM(K), kepala LEBJ. Kebetulan dokter Tasha, sapaan Sharita, pernah mempelajari ilmu donor mata pada anak.

”Dokter Tasha menyarankan agar kami konsultasi juga ke salah satu profesor yang mengajarinya. Kebetulan profesor tersebut sedang di Indonesia,” ungkapnya.

Lalu, pada Juli 2017, konsultasi dilakukan. Tim dokter menyatakan siap mengoperasi mata Agha. Jawaban itu membuat Raymond dan istrinya merasa lega sekaligus waswas.

Pekerjaan rumah selanjutnya ialah mencari pendonor mata. Tidak mudah. Butuh kesabaran ekstra. Sembari menunggu, Raymond mengajari Agha untuk kegiatan lainnya. Untuk bicara, misalnya, Raymond membacakan buku cerita.

Kabar baik itu datang pada Desember 2018. LEBJ memberikan informasi bahwa ada pendonor mata dari Amerika. Kornea pendonor sesuai dengan kebutuhan Agha. Tapi hanya untuk mata kiri. Meski begitu, Raymond dan istrinya senang bukan main. Dokter pun siap melakukan operasi pada bulan yang sama.

Dokter Tasha juga tidak menyarankan dua mata dioperasi sekaligus. Sesuai aturan kedokteran, operasi mata tidak boleh dilakukan dalam satu waktu yang sama. ”Nanti, kalau gagal, masih ada satu mata yang berfungsi,” katanya.

Operasi cangkok kornea itu memang tidak mudah. Termasuk risiko tinggi. Sebab, Agha masih anak-anak yang organnya bisa terus berkembang. Meski demikian, menurut Tasha, operasi sedini mungkin adalah langkah terbaik. Agar otot matanya terbiasa melihat jarak jauh dan dekat.

Operasi cangkok kornea berjalan sukses. Mata kiri Agha mau beradaptasi dengan kornea baru. Meski demikian, dokter tetap memantau. Treatment rutin terus dilakukan. Obat tetes diberikan untuk memastikan tidak ada penolakan pada kornea baru. Karena masih masa adaptasi, Agha harus memakai kacamata untuk melindungi matanya dari iritasi. Lensa kiri silinder, sedangkan lensa kanan normal.

Satu setengah tahun berlalu sejak operasi pertama, kini Raymond dan Finna menanti pendonor kedua untuk mata kanan. Itu sama sulitnya dengan mencari pendonor pertama. Melihat angka kerusakan kornea di tanah air, donor mata memiliki kebutuhan yang tinggi. Namun, di Indonesia, tidak mudah mendapatkan pendonor organ.

LEBJ sendiri sudah mendapatkan izin dari Bank Mata Indonesia untuk mewadahi donor mata. Lembaga tersebut telah mempermudah prosesnya. Mulai pendaftaran yang bisa dilakukan secara online hingga pengambilan donor yang didatangi tim.

”Donor mata ini dilakukan setelah pendonor meninggal dan prosesnya hanya 15 menit,” ungkap Tasha. Yang diambil bukan bola mata, melainkan korneanya. Karena itu, setelah kornea diambil, kondisi mata tidak cekung. Tetap normal.

Karena tak kunjung mendapatkan pendonor, Raymond dan Finna akhirnya ikut mendaftar jadi pendonor. Mereka sudah menandatangani surat persetujuan untuk diambil kornea matanya ketika meninggal nanti. Di KTP keduanya sudah ada stiker hologram yang menyatakan bahwa mereka adalah pendonor mata. Stiker itu dikirim LEBJ sebagai tanda bahwa mereka terdaftar. Sekaligus sebagai pengingat bagi keluarga atau tenaga medis jika nanti keduanya meninggal. Agar segera menghubungi LEBJ supaya bisa dilakukan pengambilan kornea mata.

”Saya juga ajak teman-teman untuk donor,” kata Finna. Awalnya teman-temannya takut jika nanti jadi pendonor akan kehilangan mata. ”Mereka selalu bilang ingin ’pulang’ (meninggal, Red) dengan organ yang lengkap,” imbuhnya.

Namun, Finna tak putus asa. Dia terus memberikan pengetahuan dan mencontohkan untuk berdonor. Akhirnya beberapa teman mendaftar untuk jadi pendonor. Raymond dan Finna tak ingin ada anak lain yang harus menunggu lama seperti Agha. Jika terlalu lama, dia khawatir akan mengganggu tumbuh kembang anak.

Tugas Finna dan Raymond kini belum selesai. Mereka harus mengajari Agha agar bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan. ”Diajari warna-warna, bentuk binatang, dan huruf-huruf juga,” ucapnya.

Mereka juga terus berusaha mencari pendonor mata lagi. Meski saat pandemi Covid-19 belum boleh dilakukan operasi, mereka tak berhenti. Siapa tahu setelah pandemi usai, Agha bisa menjalani cangkok kornea mata kanan. (*/c9/oni/JPG/r6) Editor : Administrator
#Donor Mata #Cangkok Kornea