Jalan AA Gde Ngurah Cakranegara malam itu tidak terlalu ramai. Hujan yang mengguyur Jumat malam (29/1) lalu membuat sejumlah kursi dan meja di Kafe Rain basah.
Meski begitu alunan musik dimainkan tiga anak muda membuat suasana tetap terasa hidup. Pengunjung begitu menikmati lagu yang dibawakan para musisi lokal tersebut.
Kafe ini terlihat unik. Didesain menggunakan kayu. Dihiasi bunga-bunga. Sehingga terkesan alami.
“Kalau sekarang kita hanya buka sampai jam sepuluh malam. Kalau lebih kita dirazia,” kata Muhammad Kurniawan, owner Kafe Rain.
Pemberlakuan jam malam membuat dia harus putar otak. Karena menurutnya, yang namanya kafe pasti pengunjung banyak yang datang pada malam hari.
Di satu sisi jam buka dibatasi sampai pukul 22.00 Wita. “Biasanya kita buka sampai jam satu malam,” ucap pria asal Penujak, Lombok Tengah ini.
Untuk menyisatinya, maka jam buka dibuat lebih awal. Kafe yang biasanya buka pukul 10.00 Wita, kini mulai beroperasi pukul 08.00 Wita.
Selama mewabahnya Covid-19, kata Wawan, sapaan karibnya, banyak musisi yang kehilangan pekerjaan. Mereka (musisi) yang biasanya dapat job mengisi acara disejumlah kafe di Senggigi atau hotel, sekarang tidak ada lagi.
“Bukan tamu sepi, tapi karena ada pembatasan gerak karena Covid-19,” ujar dia.
Melihat banyaknya musisi lokal tidak dapat job atau manggung di kafe Senggigi, membuat dirinya menampung mereka. Wawan mempekerjakan mereka untuk mengisi acara di kafe miliknya.
“Kita tidak bayar seperti di kafe yang biasa tempatnya manggung. Yang penting ada pakai makan aja,” ungkap dia.
Wawan mempersilakan teman-teman musisi untuk mengisi acara di kafe miliknya yang baru dirintis. Dia ingin teman-teman seperjuangannya bisa tampil di kafe miliknya sebelum Senggigi normal kembali.
“Kalau sudah normal teman-teman ini bisa balik ke Senggigi,” tutur dia.
Menurutnya, musik menjadi daya tarik dalam sebuah kafe. Jika musik yang dimainkan bagus tentu akan membuat pengunjung betah.
Kata dia, orang datang ke kafe bukan hanya untuk menikmati hidangan saja, namun juga untuk menikmati fasilitas lainnya yang disediakan. Di Kafe Rain kata dia, ada live musik. Bahkan pengunjung bisa nyanyi dengan diiringi musik dimainkan musisi. “Pengunjung juga bisa request lagu,” ungkap pria yang jago main gitar ini.
Wawan mulai bermain musik sejak zaman tidak enak. Sebelum tampil di kafe atau hotel, dia ngamen di jalan dan warung-warung PKL. “Dulu pernah kita dikejar bencong saat ngamen,” kenang Wawan.
Dia pernah merasakan pahit manisnya membawakan lagu di kafe. Pada 2013 lalu dia dibayar Rp 25 ribu sekali tampil. Dalam seminggu dia bisa tampil empat sampai enam kali dari kafe satu ke kafe lainnya.
Begitu juga dengan bayaran tinggi pernah dirasakan. Pada 2019 dia pernah dibayar Rp 4 juta untuk mengisi acara di salah satu hotel di Cakranegara. “Satu kali tampil juga pernah dibayar Rp 9 juta,” kata dia.
Kini, dari hasil bermain musik dia bisa membangun rumah dan membeli mobil. Bahkan sampai sekarang dia masih kerap bermain musik di kafe untuk mengisi acara.
“Kalau ngisi acara di kafe sendiri jarang. Ada teman-teman yang ngisi. Bagi-bagi rezeki,” ujarnya.
Dia membuka usaha kafe bukan karena ikut-ikutan. Tapi dia ingin kafe yang dibukanya bisa tampil beda. Bisa membuat pengunjung terhibur dengan lagu-lagu yang dibawakan. “Kita di sini jualannya musik. Selain makanan tentunya,” ungkap dia. (ali rojai/r3) Editor : Administrator