Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kegigihan Tim Masjid Jalan Cahaya Menebarkan Kemanfaatan kepada Umat

Baiq Farida • Senin, 16 Januari 2023 | 15:18 WIB
MENYIAPKAN KURSI RODA: Brigadir Agus Salim sedang menyiapkan kursi roda baru untuk anak lumpuh dari keluarga tak mampu di Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia, belum lama ini.
MENYIAPKAN KURSI RODA: Brigadir Agus Salim sedang menyiapkan kursi roda baru untuk anak lumpuh dari keluarga tak mampu di Desa Sukamulia, Kecamatan Sukamulia, belum lama ini.
Sudah setahun tim Masjid Jalan Cahaya bergerak mengadakan berbagai kegiatan. Mereka terus menebarkan kebaikan kepada orang banyak melalui beberapa program.

-------------------

HERMAN HUSDIAWAN tampak begitu riang. Dia merasa perjuangannya selama setahun telah membuahkan hasil, seiring dengan telah berdirinya sebuah masjid yang selama ini diidam-idamkan. Meski demikian, dia merasa tugas ke depan lebih berat.

Iya, terhitung 31 Desember 2022, sebuah masjid di kompleks Perumahan Granada Residence, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, resmi dalam pengelolaannya. Masjid yang sudah berdiri sejak lima tahun lalu itu, juga resmi bernama “Masjid Jalan Cahaya”.

“Tempatnya luas, dekat dengan Mataram, dengan Lombok Tengah. Pokoknya strategis. Memang begitulah doa kami, agar diberikan tempat terbaik,” ujar Herman Husdiawan.

Pria yang akrab disapa Kak Wawan itu sudah lama bergerak, menebarkan kemanfaatan. Misalnya dengan membagi-bagikan nasi ke masjid-masjid dan sejumlah pondok pesantren. Gerakannya tersebut berada di bawah naungan masjid. “Bayangkan, bergerak atas nama masjid tapi tidak ada masjidnya,” ujarnya.

Kenapa masjid? Dia mengaku, masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah. Tetapi semua kegiatan terpusat di situ. Mulai kegiatan sosial, pendidikan, terutama kegiatan keagamaan dan dakwah. “Yang pantas menaungi sebuah gerakan kebaikan adalah masjid,” imbuhnya.

Wawan memulai gerakannya itu pada September 2021. Awalnya, dia bergerak sendiri dengan membagikan nasi ke masjid-masjid dengan biaya pribadi. Tapi lama kelamaan banyak yang ikut berdonasi. Baik berbentuk nasi kotak maupun uang.

Karena semakin banyak amanah dari para donatur dan orang-orang yang ikut mebantu, Wawan merasa tidak bisa bergerak sendiri. Dia kemudian melibatkan beberapa orang. “Dan sekarang ada 10 orang dalam tim ini. Kami terus bergerak,” imbuh bapak empat anak ini.

Dalam perjalanannya, Wawan bersama rekannya mendapat banyak rintangan. Seperti fitnah dari beberapa orang. Tetapi dia tidak pernah putus asa, karena semua aral itu dianggapnya sebagai bumbu-bumbu perjuangan. “Sekarang sudah 12 pesantren se-Pulau Lombok yang kami bina. Misalnya kami rutin bagikan telur dan nasi,” ceritanya.

Sambil bergerak, tim ini terus mencari masjid yang bisa dikelola. Misalnya dengan mencari lahan yang pas maupun mencari masjid yang bersedia dikelola oleh tim ini. Tetapi upaya ini tidak mudah, karena setiap masyarakat yang ditawari masjidnya dikelola, selalu ditolak. “Padahal kami mau kelola secara profesional,” ujar Wawan.

Ketika bergerak atas nama masjid dan belum ada masjid, Wawan mengaku tim Masjid Jalan Cahaya ini tetap bisa melaksanakan kegiatannya. Bahkan sudah mampu mengelola keuangan sekitar Rp 100 juta setiap bulan. “Kenapa bisa begitu? Karena kami tahu cara mengelolanya, karena kami belajar. Cara merawat dan mendidik donatur itu kami tahu. Kami punya konsep pengelolaannya,” katanya.

Tetapi bukan semata karena itu. Menurutnya, faktor dominan karena kehendak dan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Wawan meyakini tanpa kehendak Tuhan, tidak mungkin bisa melakukan semua itu. “Tentu ada pertolongan Allah,” tegasnya.

Kata dia, masjid harus dikelola secara profesional layaknya sebuah perusahaan besar. Karena itu butuh kompetensi di bidang itu. Untuk mendapatkan ilmu itu, Wawan mengaku sempat ikut pelatihan dan belajar ke mana-mana. Termasuk sempat studi banding ke Kalimantan Barat. “Di sana ada sebuah masjid kecil, tapi semuanya berpusat di sana. Ada kegiatan sosialnya, punya bisnis, rumah sehat, lahan pertanian, punya perumahan, hingga apartemen. Dan semua yang bekerja orang-orang profesional. Saya belajar 10 hari di sana,” cerita Wawan.

Itu semua membentuk pola pikir Wawan. Dia kemudian berkomitmen berjuang melalui masjid. Hingga akhirnya pada 31 Desember 2022 lalu, Wawan bersama rekannya ditawari mengelola masjid di Perumahan Granada Residence, Kecamatan Gerung. “Per 1 Januari 2023 lalu, kami membangunkan kamar mandi,” jelasnya.

Dalam pengelolaan masjid, tidak bisa setengah-setengah. Tetapi harus mendedikasikan seluruh waktu untuk masjid. Sebab yang dikelola adalah rumah Allah, bukan milik masyarakat atau perorangan. “Masjid diurus full time, full heart, full dakwah. Begitu kami diajarkan,” kata Wawan.

Setelah ada masjid, Wawan bersama timnya berkomitmen terus bergerak secara masif. Ada beberapa rencana ke depan yang akan dilakukan. Seperti mencetak banyak penghafal Alquran. (Habibul Adnan/*) Editor : Baiq Farida
#Masjid Jalan Cahaya