Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal M Subeki, Dalang Pembuat Wayang dari Limbah Jerigen di Terara Lombok Timur

Administrator • Selasa, 1 Agustus 2023 | 22:38 WIB
KELUARGA BESAR PELTI LOTIM: Pengurus dan atlet PELTI Lotim berpoto bersama di lapangan tenis GOR Lotim di Selong, belum lama ini.
KELUARGA BESAR PELTI LOTIM: Pengurus dan atlet PELTI Lotim berpoto bersama di lapangan tenis GOR Lotim di Selong, belum lama ini.
M Subeki merupakan satu-satunya dalang wayang Sasak yang masih eksis di Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim). Selain dikenal berbeda dengan tokoh Raja Jayeng Ranenya yang dipayungi, Subeki juga merupakan sosok perajin wayang yang tekun.

 

DIA baru saja menyelesaikan pembuatan wayang dari limbah jerigen saat Lombok Post berkunjung ke rumahnya di Kampung Satelit, Desa Terara, Kecamatan Terara, kemarin (31/7). Sosok wayang yang baru jadi itu adalah Jayeng Rane. Di samping sosok itu, ada juga sosok Umar Maye, Selandir, Rengganis, dan puluhan tokoh wayang Sasak lainnya. Tidak semua terbuat dari limbah jerigen. Tapi Subeki mengeluarkan sebagian koleksinya untuk dapat memperlihatkan perbedaan antara wayang dari kulit dan wayang dari limbah jerigen. “Tidak jauh berbeda kan,” kata Subeki.

Lelaki kelahiran 1962 itu terlihat tidak baik-baik saja dengan kondisi hidung yang dibaluti perban. Ia mengatakan mengalami cedera ringan karena kecelakaan. Namun cedera di hidungnya itu tidak membuat semangatnya menurun saat menceritakan banyak hal tentang dirinya dan wayang Sasak.

Dimulai dari tahun 1975, saat usianya masih belia. Entah bagaimana ia jatuh hati pada wayang. Perasaan cinta pada wayang yang tiba-tiba muncul di hatinya membawanya belajar dari satu tontontan ke tontontan lainnya. Dari satu pembacaan cerita serat menak ke cerita lainnya. Ia pun menulis dan membaca ulang bahasa Jawa Jawi atau Jejawen.

“Kalau ditanya guru, saya berguru pada Lalu Nasib. Tapi tidak secara langsung. Saya belajar dari dia dari setiap pertunjukannya,” terang Subeki.

Tidak semua dalang bisa membuat wayang. Tapi Subeki memilih belajar dan menguasai cara membuat wayang karena ia merasa harga wayang mahal. Dengan membuat wayang sendiri, ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk memainkan wayang yang ia inginkan. Selain itu, dari menjadi perajin wayang, ia juga bisa menjualnya pada dalang lain yang membutuhkan.

Wayang limbah jerigen sendiri mulai terpikirkan olehnya sejak tiga tahun lalu. Ia mengatakan, mungkin ia adalah satu-satunya orang yang membuat wayang dari limbah jerigen di negeri ini. Alasannya sederhana, saat itu wayang kulitnya sering dimakan tikus. “Kalau dari jerigen ini tidak dimakan tikus. Kena air juga aman. Kalau wayang kulit langsung rusak kalau kena air,” tuturnya.

***

Sejumlah jerigen kosong berjejer di ruangan kecil tempat Subeki bekerja sebagai perajin wayang Sasak. Di tempat itu ia baru saja selesai mengukir bagian kepala sosok Raja Jayeng Rane. Sembari merapikan peralatan, Subeki menceritakan tahapan-tahapan pembuatan wayang pada Lombok Post.

Tahapan pertama adalah memastikan tokoh yang akan dibuat. Hal ini penting, karena menentukan ukuran dan bahan yang dibutuhkan. Jika besar dan dibuat dari kulit, maka bahan kulit sapi yang dibutuhkan akan banyak. Begitu juga jika membuatnya dengan bahan plastik dari limbah jerigen.

Selanjutnya adalah memotong jerigen sesuai kebutuhan. Lalu membuat bentuk, mengukir, menghaluskannya. Proses akhir adalah pewarnaan.

Semua bagian tidak mudah. Tahapan demi tahapan membutuhkan ketekunan dan kelihaian sebagai perajin. Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan satu buah wayang tidaklah sedikit. “Bisa satu bulan,” kata Subeki.

Sejauh ini, wayang-wayang dari limbah jerigen itu ia buat untuk kebutuhannya sendiri. Ada satu wayang kulit Rengganis yang tangannya dimakan tikus dan diganti dengan tangan dari bahan limbah jerigen.

Subeki tersenyum saat mengatakan hampir tidak ada yang tahu beda wayang berbahan kulit dengan wayang berbahan limbah jerigen jika hanya memandangnya dari jauh. Kecuali disentuh.

Selain menjadi dalang dan perajin wayang, Subeki juga menjadi pemasok minyak ke para pedagang eceran. Itulah mengapa ia memiliki banyak jerigen di rumahnya. Wajar saja jika ia juga memiliki ide membuat wayang dari limbah jerigen.

Berbicara harga, selama ini Subeki menjual wayang-wayangnya pada dalang lain seharga Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Harga bisa jauh lebih tinggi tergantung ukurannya. “Kalau dari jerigen, yang tadinya Rp 700 ribu, bisa jadi Rp 500 ribu atau Rp 400 ribu,” tuturnya.

Di luar harga dan dalang yang kemungkinan akan memesan wayangnya dalam jumlah banyak nantinya, ia memikirkan jika sebagian besar wayang yang dimainkan nantinya terbuat dari limbah jerigen. Hal ini ia utarakan saat koran ini menanyakan nama sanggar wayangnya, yakni Sanggar Wayang Kulit Sekardiujan. “Ya, jadinya bisa wayang kulit atau wayang jerigen Sekardiujan,” tuturnya. (fatih kudus jaelani) Editor : Administrator
#wayang #Lotim #M Subeki #terara