Dokter I Gusti Ayu Yunia Arlini menceritakan pengalaman hidupnya yang sangat berharga dalam buku berjudul ‘Hidup Keduaku dengan Seribu Wajah’. Buku berlabel kisah nyata itu ia tulis sejak tahun 2019. Satu tahun setelah ia berjuang menerima kenyataan pahit sebagai penyandang autoimun, penyakit yang dijuluki seribu wajah.
--------------------------
TAK ada satu pun manusia di dunia ini yang mengetahui dengan pasti kapan ia akan mati. Tapi pada suatu hari di Februari 2018, melalui sebuah email, Arlini menerima laporan Titer Antibodi Antinuklear atau tes ANA yang hasilnya menunjukkan positif autoimun.
“Saat itu dunia seolah runtuh. Saya tidak punya masa depan lagi. Selamat tinggal semua rencana dan mimpi di masa depan,” kata Arlini dalam salah satu paragraf di bagian pertama bukunya.
Saat Lombok Post berkunjung ke rumahnya di wilayah Kecamatan Selong, Lombok Timur, Arlini menceritakan secara langsung perjuangannya melawan penyakit seribu wajah. Dari awal mula ia mengetahui terpapar autoimun, sampai dengan bagaimana ia menghadapinya, hingga hidup dengan damai bersamanya.
Belakangan, dia mengetahui jika gejala autoimun telah ia rasakan sejak duduk di bangku SD. Tapi puncaknya tiba pada tahun 2017. Tahun di mana ia mendapatkan penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan tingkat Provinsi NTB dan berlanjut ke tingkat nasional. Di tahun itu juga ia terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) NTB.
Selain menjadi ASN, dokter jebolan Universitas Diponegoro itu juga menjadi satu dari dua dokter estetika atau dokter kecantikan yang namanya cukup tersohor di Lotim. Selain membuka praktik dokter dari sore sampai malam, ia juga menjalani usaha klinik kecantikan bernama Kamila Skincare. Sungguh tak bisa dibayangkan, bagaimana kesuksesan karir dan segala kesibukannya hilang dalam sekejap mata, sesaat setelah ia membuka lembaran hasil tes ANA yang menyatakan dirinya positif autoimun.
Melawan Penyakit dengan Menerimanya
Perempuan kelahiran 1984 ini memang bukan dokter biasa. Saat ditemui Lombok Post, ia mengenakan masker dan terlihat sangat sehat. Bicaranya tersusun rapi. Setiap pertanyaan ia jawab dengan detail. Salah satu yang sangat runut dan melekat di ingatannya adalah tentang bagaimana ia menghadapi autoimun.
Autoimun atau yang akrab dikenal dengan penyakit lupus memang masih menjadi penyakit misteri di dunia medis. Dijuluki seribu wajah karena gejala dan penyebabnya berbeda-beda.
Satu hal yang mungkin cukup pasti pada penyakit ini tak tersembuhkan. Orang yang terpapar autoimun dan bisa bertahan hidup seperti Arlini bukan berarti dinyatakan sembuh. “Tapi disebut remisi,” tutur ibu dua anak itu.
Gejala autoimun yang terjadi pada Arlini merupakan yang cukup unik dan bisa dikatakan sangat berat. Di mana ia tak bisa menerima segala jenis obat. Di tahun 2017, tak lama setelah ia pulang dari Tanah Suci menjalankan tugas sebagai TKHI, ia menenggak obat dan mengalami alergi berat.
Tak sampai di sana, sebelum mengetahui dirinya positif autoimun, Arlini juga sempat menjalani operasi usus buntu yang berlangsung selama lima jam penuh rasa sakit. Hal itu karena tubuhnya yang alergi obat membuat anastesi tidak bekerja dengan baik. Tak terbayangkan, bagaimana ia dibedah dalam keadaan sadar.
Momen terpenting dalam cerita Arlini bertumpu pada saat pertama kali ia menerima hasil tes ANA yang menyatakan dirinya positif autoimun. Kabar terburuk dalam hidupnya.
“Saat itu saya divonis tidak bisa bertahan hidup lebih dari sembulan bulan. Saya menangis seharian. Lalu besoknya membuat berbagai rencana untuk menghadapinya,” kata alumni SMAN 1 Selong itu.
Ia pun menyiapkan serangkaian cara untuk bertahan. Langkah pertamanya adalah membuat dinding atau tembok antara dia dengan dunia di luar dirinya. Hal itu dilakukan untuk menghindari informasi yang tak penting, atau sekiranya membuat dia akan merasa kian terpuruk.
Seperti melihat status teman-temannya yang tengah bersenang-senang di luar sana. Sementara ia dirundung sakit yang tak ada obatnya. “Saya menutup semua akun media sosial. Yang saya tonton hanya Youtube berisi pengajian dan materi tentang bertahan dari autoimun,” jelasnya.
Arlini juga sempat bergabung dengan Yayasan Lupus Indonesia, tapi ia memilih keluar karena merasa terganggu dengan informasi rutin tentang anggota yang dikabarkan meninggal dunia. Baginya hal itu meruntuhkan semangat dalam dirinya.
Upaya membangun tembok itu berjalan baik. Kata dia, hal pertama yang paling penting dan sekaligus paling berat dalam melawan penyakit seribu wajah adalah menerimanya.
“Saya belajar menerima penyakit ini sebagai teguran dari Allah SWT. Sekaligus kesempatan untuk saya hidup kembali menjadi orang yang jauh berbeda. Lebih baik dan peduli terhadap sesama,” ungkapnya.
Saat mengidap sakit di tubuhnya, Arlini akan menyembuhkan dirinya dengan meminum segelas air putih. Ia meminta kepada Allah SWT agar segelas air putih itu dijadikan obat untuknya.
Di saat seperti itu, Arlini mengingat pasien-pasiennya di puskesmas yang dibawakan air putih (jampi) oleh keluarganya untuk diminum agar segera sembuh. Sebagai seorang dokter yang memahami ilmu pasti kesehatan, tak jarang ia menggumam atau memprotes tindakan di luar medis itu dalam hati.
“Sekarang malah saya katakan pada diri saya, rasain kamu Arlini. Sekarang kamu membutuhkan air putih yang di doakan sebagai obat,” tuturnya.
Tentang Buku Hidup Keduaku dengan Seribu Wajah
Hampir seluruh pengalaman Arlini dalam upayanya menghadapi dan bertahan hidup dari penyakit autoimun disuguhkan dalam bukunya. Buku yang terbit Agustus 2023 itu disunting dr Delly Chipta Lestari dan diberikan sekapur sirih oleh suaminya dr H Kurnia Akmal, juga prolog menarik dari dr Zakiah Maghraby.
Meski belum lama terbit, buku yang masih dicetak terbatas itu telah menuai banyak respons positif dari pembacanya. Salah satu di antaranya adalah sesama pengidap penyakit autoimun. Tentu Arlini bahagia mendapat respons dari pembaca. Apalagi itulah tujuan utamanya berbagi cerita melalui buku.
Kebanyakan dari penyandang penyakit seribu wajah berupaya menutup diri atau sebisa mungkin tidak diketahui oleh orang lain di sekitarnya. Padahal menurut Arlini, peran keluarga dan orang terdekat lainnya sangat berperan dalam membantu mereka menghadapi autoimun.
Seperti Arlini yang diberkahi dengan sosok ibu yang membantunya mengurus anak-anak selama sakit, juga suami yang penuh sabar dan setia mendampinginya. Begitu juga dengan karyawan-karyawannya di klinik.
Ia bersyukur karena saat ini ia bisa meluangkan waktu jauh lebih banyak, bahkan hampir semua waktunya di rumah bersama keluarga. Apalagi setelah mengajukan pensiun dini. Pada Desember 2019, ia resmi pensiun sebagai ASN.
Hal lainnya yang tak kalah penting ingin ia sampaikan adalah mengedukasi masyarakat tentang penyakit autoimun. Salah satunya tentang penyakit autoimun yang sebenarnya tidak menular.
Hampir semua hal Arlini ceritakan dalam bukunya. Termasuk kesalahannya mengkonsumsi obat penggemuk badan yang belakangan ia ketahui memiliki kandungan steroid dan antialergi yang bisa merusak sistem metabolisme dan merusak sistem kekebalan tubuh.
Masih dalam buku itu, Arlini juga menceritakan kisah menariknya sebagai penyandang penyakti autoimun di masa pandemi Covid-19. (tih/r5)
Editor : Rury Anjas Andita