SUHARLI, Mataram
Perjalanan Akhyar menjadi Masseur cukup panjang. Awalnya, Akhyar merupakan atlet cabor atletik. Masuk memperkuat atlet pelajar NTB tahun 2005.
Kesehariannya, Akhyar hanya berlatih. Mengasah kemampuan berlarinya di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB.
Angkatannya di PPLP, adalah pelari NTB terkenal di level Indonesia, seperti Andrian, Nelly, dan sebagainya.
Dia masuk di PPLP hingga lulus SMA tahun 2009. Selama di PPLP, karirnya menjadi atlet atletik tak semoncer yang lain. Sehingga, dia tidak pernah merasakan euforia berlari di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON).
”Tidak pernah tampil di PON kalau saya,” kata Akhyar.
Ia pun mulai memutar otak. Mencari, hal apa yang perlu dikerjakan. “Jadi saya itu merenung dulu, apa yang ingin bisa capai setelah tidak menjadi atlet,” tuturnya.
Akhyar pun masuk bergabung ke Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Dari situ, ia belajar menjadi Masseur.
”Saya baca literaturnya. Dari buku, YouTube, dan dari pengalaman para Masseur khusus untuk Sport Injury,” kata Akhyar.
Dari situ, Akhyar mencoba memberanikan diri. Awalnya memijat para atlet yang masih di PPLP. “Dari pengalaman awal, saya akhirnya mengikuti pelatihan menjadi Sport Injury,” kata dia.
Setelah mendapatkan sertifikat pelatihan, jasa Akhyar pun mulai digunakan. Awalnya bergabung sebagai Masseur klub futsal bernama Vamos. Klub itu bermain di liga futsal Indonesia. ”Pemilik klub pak Aryanto Prametu yang mengajak saya bergabung,” tutur suami dua anak itu.
Meski tidak menjadi pemain dan hanya menjadi Masseur, Akhyar berhasil membawa Vamos juara. Bahkan Vamos pun tiga kali berturut juara liga nasional.
“Klub Vamos jadi tim terkuat pada masanya,” kata dia.
Sekitar tahun 2017, Aryanto Prametu ditunjuk sebagai manajer Timnas Futsal untuk berlaga di level Internasional. Baik kelas Asia Tenggara maupun kualifikasi piala dunia futsal.
”Saat pak Aryanto menjadi manajer Timnas Futsal saya juga dibawa sebagai Masseur atlet,” kata dia.
Dengan jasa Aryanto-lah, Akhyar semakin melejit. Hingga dia bisa ditunjuk sebagai Masseur timnas. ”Banyak jasanya bapak itu kepada saya,” ungkap Akhyar.
Selama di Timnas Futsal dia berkenalan dengan dokter Ahmad Nizar Cah Noor. Dokter asal Makassar khusus menangani persoalan atlet timnas futsal. ”Saya diajarkan banyak hal sama dokter itu,” ujarnya.
Termasuk juga diajarkan bagaimana cara menghandle semua persiapan atlet. Mulai dari menyiapkan makanan, jadwal latihan, hingga selesai latihan.
”Semua saya belajar. Bahkan saya selalu membantu dokter untuk mempersiapkan semua itu. Nanti pak dokter yang tetap mengecek kesehatan pemain,” kata dia.
Dokter Nizar mengajarkannya untuk disiplin dan profesional. Sebab, pundak nama timnas juga berada ditangannya. ”Kalau pemain sakit yang bertanggung jawab adalah dokter dan Masseur,” beber Akhyar.
Makanya, dari makanan hingga segala kebutuhan yang dibutuhkan pemain sudah terjamin. Jangan sampai jelang bermain, mereka harus sakit. ”Itu semua kita jaga,” ujarnya.
Dari prestasi dan ketekunannya itulah Akhyar dibawa dokter Nizar untuk bergabung ke timnas sepak bola.
Kebetulan, dokter Nizar juga ditunjuk sebagai dokter pemain timnas sepak bola Indonesia.
”Saya bergabung ke timnas sepak bola senior tahun 2019. Pada saat itu juga baru ditangani pelatih STY (Shin Tae-yong) asal Korea Selatan,” bebernya.
Setiap timnas bergabung untuk latihan, Akhyar selalu dipanggil. Apalagi mendekati kejuaraan, baik tingkat Asia Tenggara maupun Asia, hingga kualifikasi piala dunia. ”Selalu dipanggil,” ujarnya.
Dari pengalamannya menjadi Masseur, pelatih STY sangat disiplin. Tidak boleh terlambat atau membuat kesalahan.
“Dari situ saya belajar untuk menjadi Masseur profesional,” kata dia.
Pernah saat itu dia berbohong ke STY. Saat itu, dia diperintahkan STY untuk Masseur salah satu pemain.
Tetapi, saat itu pemain yang harus di pijat memilih tidur. Tidak mau dipijat.
”Saat hendak saya Masseur, pemain itu bilang ke saya untuk mengatakan sudah di Masseur ke STY,” ujarnya.
Akhyar yang polos, mau mengikuti suruhan pemain itu. Sehingga, STY waktu itu bertanya kepada Akhyar terkait perintahnya.
”Saya bilang ke STY, sudah di Masseur. Saya jawab begitu karena atas perintah pemain yang akan di Masseur. Padahal saya belum Masseur pemain itu,” ujarnya.
Akhyar yang berbohong akhirnya ketahuan. Saat latihan STY pun bertanya ke pemain yang harus di Masseur.
“Tetapi pemain itu jawab ke STY belum di Masseur. Ketahuan belum Masseur atlet, saya pun dimarah STY,” tuturnya.
STY marah besar. Wajar, Akhyar telah berbohong. Tidak menjalankan perintahnya. “Dari peristiwa itu saya kapok,” ujarnya.
“Tidak berani lagi berbohong ke STY,” kata dia. (bersambung/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post