Kampung kecil ini steril dari kebencian yang dihembuskan provokator berbaju agama. Warganya hidup rukun dan damai. Agama minoritas, menghormati mayoritas. Sedangkan mayoritas, menyayangi minoritas.
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
DI bawah sinar surya yang terik. Kami berjalan menyusuri gang yang lengang.
Lalu Heru Nuryadin beberapa kali menyapa warga dengan ramah. Warga balik membalas sapaan mantan ajudan Wali Kota Mataram periode 2010-2021 H Ahyar Abduh (Alm) itu, tak kalah takzim. Sopan dan santun.
“Niki (ini, Red) namanya Pure Bajing,” kata Lalu Heru.
Ia menunjuk sebuah bangunan luas dan besar. Khas dengan ornamen dan pahatan Bali. Di dalamnya ada tempat ibadah umat Hindu yang terdiri atas unsur mandala suci.
“Tapi yang ini bukan pure yang terbesar. Ada yang lebih besar lagi namanya pure Buana Natha,” ujarnya sambil menunjuk ke arah sisi di sebelah barat dari pure Bajing.
Kami berjalan lagi ke arah selatan. Masih menyusuri gang yang sama. Sampai akhirnya di depan, membentang jembatan kecil. Di bawahnya menganga dan cukup dalam, sungai dengan aliran air yang jernih.
Lalu Heru menunjuk bangunan dengan cat putih. Bangunan itu mirip rumah warga, tetapi siapa sangka bila itu adalah Musala. “Ini Musala,” jelasnya.
Dua pure besar dan satu musala. Tiga bangunan itu telah menggambarkan, apa yang akan diceritakan tulisan ini: ketika umat muslim menjadi minoritas.
Sebuah kondisi yang jarang terjadi. Di mana kebanyakan perkampungan di Lombok, umat muslimlah yang menjadi mayoritas dan agama lain minoritas.
Di Sindu Barat ini, umat Hindu sekitar 600 kepala keluarga (KK). Sedangkan umat muslim 100 KK. Bahkan sebenarnya, jumlah pastinya 80 KK, sebab 20 KK berstatus penyewa. Belum menjadi warga yang menetap di sana.
Rumah warga Hindu dan Islam juga sangat homogen. Tidak ada batas antara keduanya. Membaur menjadi satu, hidup rukun dan berdampingan.
“Dalam beberapa kegiatan nasional dan hari besar keagamaan mereka juga merayakan bersama-sama,” terangnya.
Lalu Heru lalu memperlihatkan dua lubang di tengah gang itu. “Ini adalah lubang yang menjadi simbol toleransi dan persatuan. Lubang ini sengaja disiapkan permanen untuk menancapkan tiang kalau ada lomba panjat pohon pinang,” tuturnya.
Pada kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW misalnya. Tidak hanya umat Islam tetapi umat Hindu ikut memeriahkan.
“Warga di sini tertawa dan bahagia bersama. Mereka memahami dengan sangat baik, setiap orang terlahir dalam rupa dan kondisi yang berbeda tetapi hakikatnya bersaudara. Seperti kata Sayidina Ali: mereka yang bukan saudaramu dalam Iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” kisahnya.
Kalau ada umat Islam yang meninggal dunia di mana disalatkan jenazahnya?
“Ya di Musala ini juga,” kata Lalu Heru, menunjuk Musala yang kecil itu.
Sebenarnya di seberang jembatan ada kampung. Namanya kampung Lekok. Disebut Lekok, persis seperti namanya dalam arti bahasa Sasak adalah berlubang atau dalam konteks ini bermakna cekung.
Kampung yang dibatasi oleh aliran sungai itu memang terlihat berada di posisi dataran lebih rendah. Tempat kami berdiri dalam rata-rata air setara dengan tembok atau atap rumah warga di perkampungan itu.
“Terlihat lebih rendah kan?” ujar Lalu Heru.
Di kampung itu sebenarnya ada masjid yang lebih besar dan luas. Tetapi warga muslim di Sindu Barat lebih nyaman menyalati jenazah muslim di Musala kecil yang lebih mirip desain rumah tadi.
“Ya mungkin karena salah satunya warga merasa ini adalah kampung halamannya. Umat Hindu yang ada di dekat mereka juga sangat menghargai setiap prosesi keagamaan termasuk menyalati jenazah di tempat ini,” kisahnya.
Tapi ada satu hal yang menjadi awik-awik atau kesepakatan yang terus dipatuhi umat muslim di sana. Sepanjang aturan itu ditaati, tidak pernah ada persoalan yang serius antara umat Islam dan Hindu di kawasan itu. Apa itu?
“Kalau ada jenazah yang akan dikuburkan tidak boleh dibawa ke utara, tetapi harus dibawa ke selatan, melewati jembatan kecil ini,” jelasnya.
Kesepakatan ini telah ditaati sejak tahun 1960-an. Tahun ini diambil sejak umat Islam mulai bermukim di kawasan itu.
“Sebab dulu aslinya ini adalah kawasan umat Hindu,” jelasnya.
Aturan ini dijunjung tinggi. Menjadi kesepakatan yang disosialisasikan ke pendatang ataupun anak keturunan turun-temurun.
“Apa alasan awik-awik ini ada, nanti ada Haji Imron yang menjelaskan,” kata Lalu Heru.
Bulan berarti, Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Cakranegara Utara itu tidak tahu alasan di balik keberadaan awik-awik itu. Lalu Heru tahu, namun menurutnya, sosok yang paling dituakan dan dihormati di kalangan umat Islam di Sindu Barat itu yang paling tepat menjelaskannya.
Haji Imron tidak hanya menjadi kelompok pertama umat Islam yang menempati kawasan itu sejak tahun 1969 silam. Tetapi juga saksi dan perwakilan dari umat muslim yang menyetujui awik-awik itu.
“Biar beliau nanti yang menceritakan kenapa jenazah tidak boleh dibawa ke utara,” katanya.
Sebelum umat Islam bermukim di sana, kawasan Sindu Barat itu dikenal sebagai griya Sindu. “Dulunya di sini adalah rumah para pedanda, sehingga kemuliaan-kemuliaan dalam keyakinan umat Hindu terletak di sini,” ucapnya. (bersambung)
Editor : Marthadi