Menjaga kerukunan di Sindu Barat pada saatnya nanti akan diwariskan pada para pemudanya. ‘Patah tumbuh yang hilang berganti’ begitu kata pepatah. Orang-orangnya boleh pergi (baca: meninggal), tetapi semangat kerukunan tak boleh mati.
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram
PURA Buana Natha. Berdiri tegak di lingkungan Sindu Barat.
Pura ini memiliki mata air yang disucikan. Tak pernah mengering walaupun kemarau berkepanjangan.
Siang menjelang sore kemarin, terdengar lantunan gamelan dari arah dalam pura.
“Om swastiastu,” kalimat pembuka menyapa mereka yang tengah bermain gamelan.
Seketika, bocah-bocah yang tengah asyik memainkan alat musik tradisional itu berhenti. Menoleh semua ke arah kami.
Seorang remaja berdiri tergopoh-gopoh menghampiri. Setengah membungkukkan badan menjulur tangan mengajak bersalaman. Kami pun membalas dengan gestur tubuh yang serupa.
Remaja itu adalah Ida Bagus Natha Surriyatanaya. Tokoh remaja Hindu di Sindu Barat. Ia bersedia meluangkan waktu berbincang di siang yang mendung.
“Kita selalu rukun dan hidup damai di sini,” jawabnya ketika ditanya tentang umat Muslim yang hidup berdampingan dengannya.
Ida Bagus, usianya memang relatif masih sangat muda. 24 tahun.
Namun tanda-tanda kepemimpinan terlihat dari bagaimana ia menjadi pembina kesenian Muda Mudi Dharma Laksana di Sindu Barat. Remaja lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan fokus keilmuan seni karawitan itu memperlihatkan tekad kuat mengajak teman-temannya melakukan hal yang positif seperti berkesenian.
“Yang penting positif-positif aja,” imbuhnya.
Dalam pandangan Ida Bagus, umat Muslim sudah seperti saudara dalam kemanusiaan. “Kami tidak pernah berkonflik, antara mereka dan kami sudah tidak jarak. Semua membaur jadi satu di sini,” ujarnya.
Ketika bermain atau berkegiatan bersama, tidak ada yang mempertajam perbedaan. Tidak ada yang menanyakan apa agama seseorang di sana, tetapi semua menonjolkan rasa sekampung halaman: Sindu Barat.
“Kita nongkrong bareng, main bola bareng, saling mengisi dan membantu kalau ada kegiatan-kegiatan, walaupun kita beda umat,” ungkapnya.
Tak jarang pula, kalau ada kegiatan di pura, remaja Muslim ikut memeriahkan. Begitu sebaliknya ketika ada kegiatan yang berkaitan dengan agama Islam, remaja Hindu ikut riang gembira.
“Kami punya perkumpulan pemuda di mana pemuda Hindu dan Muslim ada di dalamnya. Perkumpulan itu namanya Bawaq Beton, Nyame Tanpa Batas atau NTB,” ujarnya.
Dalam perkumpulan itu, para pemuda membicarakan banyak hal positif yang bisa dikerjakan bagi lingkungannya. Mulai dari gotong royong lingkungan hingga pentas pertunjukan.
Ida Bagus mengatakan, para orang tua mereka selalu mengajarkan untuk menghormati umat Muslim walaupun minoritas di lingkungan itu. “Kita ditekankan yang penting saling menghargai dan menghormati, itu pesan dari orang tua kami,” ungkapnya.
Bahkan ketika ada yang meninggal dunia dari kalangan umat Hindu, umat Muslim berdatangan. Mereka datang dan mengikuti ngonye. Sebuah prosesi melayat dalam agama Hindu.
“Datang malam hari, pakai kain, kehadiran mereka (umat Muslim) menambah kekuatan bagi kami yang ditinggalkan. Rasa persaudaraan ini yang membuat kami ingin terus saling menjaga,” ungkapnya.
Ida Bagus mengatakan punya sahabat seorang Muslim yang sangat akrab dengannya. “Namanya Pilot, dia sering masuk dan bermain ke sini (Pura Buana Natha),” ujarnya sembari tersenyum.
Kehangatan persaudaraan yang digambarkan Ida Bagus memberi gambaran lebih utuh. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang tinggi antara umat Hindu dan Muslim di Sindu Barat.
Pandangan dari perspektif pemuda ini begitu penting. Kelak Ida Bagus dan anak-anak muda lainnya yang akan mewarisi tugas menjaga kerukunan dan menjadi benteng persatuan di Sindu Barat.
“Kami ingin terus menjaga dan memelihara rasa persaudaraan ini hingga kapan pun. Mewarisi rasa persaudaraan ini pada anak cucu kami. Ini adalah harta yang paling berharga di kampung kami. Jadi kami semua harus merawatnya bersama-sama,” ujarnya.
Lalu apa pendapat Ida Bagus saat bulan Ramadan, di mana umat Muslim sering menggunakan pengeras suara untuk bertadarus?
“Ya nggak apa-apa. Biasa saja. Kami juga sering menggunakan pengeras suara untuk berbagai kegiatan keagamaan seperti Odalan, dan lain-lain. Jadi saling memahami saja yang penting tidak berlebihan dan saling bersinggungan,” harapnya. (*).
Editor : Redaksi Lombok Post