Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sisi Lain Pertemuan AWGIPC ke-71 di Lombok Tengah, UKM Lokal Mulai Gandrungi Kain Ecoprint (1)

Lestari Dewi • Kamis, 9 November 2023 | 21:02 WIB

Syafriani Salamah menunjukkan contoh kain yang menggunakan teknik ecoprint pada pameran ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) ke-71 di Hotel Pullman Lombok, Selasa (7/11).
Syafriani Salamah menunjukkan contoh kain yang menggunakan teknik ecoprint pada pameran ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) ke-71 di Hotel Pullman Lombok, Selasa (7/11).
Sejumlah stan pameran ambil peran dalam pertemuan ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) ke-71 di Lombok. Termasuk Aseupan Daun memperkenalkan teknik ecoprint, menghias kain dengan bahan-bahan alami. Berikut ulasannya.

------------

PAKAIAN cantik dengan warna dan motif tak biasa terpajang diantara rak kayu berwarna coklat. Rak lainnya memuat lembaran-lembaran kain yang tak kalah menarik tentunya. Membuat penasaran bagi siapa saja yang melintas di depannya. Tak terkecuali Koran ini.

Stan itu bernama Aseupan Daun, dikelola langsung oleh Syafriani Salamah atau Ani akrab disapa. Wanita cantik dan ramah asal Bogor itu belum lama ini pindah ke Pulau Lombok. Tepatnya di Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Sudah lama bergelut di bidang fashion di Kota Kembang, Ani bersama sang suami asal Paris itu hijrah ke Pulau Lombok. Memperkenalkan kain-kain cantik buatannya dengan teknik baru yaitu ecoprint.

Teknik ini mulai digandrungi di kota-kota besar, pergerakan yang masif menjadikan ecoprint sebagai industri kreatif baru yang memiliki nilai ekonomi.

"Ecoprint ini menggunakan bahan-bahan alami sebagai pewarna kain hingga motif-motif uniknya," ucap Ani di sela-sela pameran pertemuan ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) ke-71 di Hotel Pullman Lombok, kemarin (8/11).

Berangkat dari perkembangan industri di era modern seperti saat ini, memunculkan keresahan terhadap kelestarian alam. Melihat efek tersebut membuat sebagian orang mulai beralih pada produk-produk yang lebih alami dan ramah lingkungan.

Sebagai pelaku usaha kecil menengah (UKM), ia getol memperhatikan aspek ramah lingkungan pada produk yang dijualnya. Tidak hanya memilih bahan yang alami, proses pembuatan, hingga produk tersebut dikemas sangat diperhatikan Ani.

"Saya ingin menampilkan yang beda dari lainnya, semakin rumit pembuatannya semakin bernilai harganya," ujar Ani yang gemar produk handmade ini.

Seperti namanya 'eco', teknik ini mengambil bahan-bahan dari alam sebagai bahan utamanya. Proses pembuatan pun dilakukan secara alami tanpa bahan kimia yang terlibat di dalamnya.

"Tidak ada sama sekali, semua alami," katanya.

Teknik pewarnaan ini pada dasarnya pembuatannya menggunakan kontak langsung antara kain dengan daun, bunga bahkan kulit bawang bombai. Daun, bunga, kulit bawang tersebut akan memberikan motif pada kain putih yang digunakan.

"Warna yang dihasilkan bergantung pada jenis daun atau bunga yang digunakan," imbuh Ani sembari menunjukkan kain.

Dengan menggunakan metode tertentu, bentuk dan warna dari daun ataupun bunga yang digunakan akan tercetak ke kain. Agar warna alami dari daun atau bunga tidak pudar, digunakan air tawas di proses akhir pembuatannya.

"Sehingga seluruh bahan pembuatan ecoprint hanya menggunakan bahan alami," ungkapnya. (lestari dewi)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#ecoprint #ukm #Ekonomi Kreatif