LombokPost--Ragam cara Pemkot Mataram memperingati HUT Korpri yang jatuh hari ini tanggal 29 November 2023. Salah satunya melalui lomba dance yang berlangsung meriah di halaman kantor wali kota.
-----
MUSIK adalah bahasa universal. Tapi sepertinya orang-orang harus bersepakat menambah satu lagi: dance.
Camat Sekarbela Cahya Samudra sudah sejak pagi hari rela berkostum nyentrik. Memakai udeng tapi dengan pakaian sporty: kaos pink, celana panjang kain putih, dan sepatu sneaker. Tak lupa, baluran selendang dengan warna terang di pinggang.
Tentu ini bukan untuk didebat kostumnya. Cahya dan tim mau menonjolkan sisi budaya atau sporty. Ini cuma buat hepy-hepy. Toh, semua bahagia dan tertawa. Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana saja senyum-senyum sepanjang acara.
“Kami tiga minggu persiapan,” ungkap Cahya Samudra. Wajahnya sedikit tegang. Peluhnya bercucuran padahal belum saja tampil.
Kalimat berturutnya formal. Baluran pakaian nyentrik itu tak bisa menyembunyikan karakter aslinya seorang abdi negara.
“Sesuai arahan pak Sekda, kami melaksanakan ini dalam rangka untuk membangkitkan motivasi pelayanan penuh bagi masyarakat,” ujarnya.
Seperti ucapannya tadi, arahan itu berupaya dilaksanakan sebaik-baiknya. “Ini sepertinya akan asyik, peserta yang lain juga terlihat enjoy menari mengikuti irama,” jawabnya saat ditanya apa yang dipikirkan dengan pakaian nyentrik itu dan lomba dance ini.
Tiga minggu berlatih seharusnya waktu yang cukup buat mengafal gerakan. Cahya Samudra juga meng-hire instruktur untuk mengajarkan gerakan demi gerakan.
Tapi Cahya dan timnya benar-benar menantang umur. Menghafal banyak gerakan yang membutuhkan gerakan lentur dan luwes, bak remaja sweet seventeen-an.
“Kesulitannya hanya saat mengapal gerakan kaki kanan atau kiri duluan, jadi usia tidak pernah menghalangi kami untuk tampil dan keluar menjadi yang terbaik,” katanya dengan ekspresi percaya diri.
Tegang?
Cahya tersenyum. “Iya,” akunya kemudian tersenyum luruh.
Sepanjang kariernya sebagai ASN ini adalah yang pertama ia menari di hadapan banyak pasang mata. Ada pimpinan pula. Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana yang senyum-senyum melihat aksi anak buahnya melawan usia.
“Rasanya lebih baik pidato berjam-jam daripada menari,” ungkapnya.
Sekalipun ia telah berlatih berminggu-minggu. Tetap saja ada perasaan canggung, grogi, tapi berharap di ujung penampilan mendapat tepuk tangan meriah.
“Kami latihan setiap sore, setelah selesai jam kerja sampai magrib,” tuturnya.
Di rumah, ia juga rajin berlatih sendiri. Dan tanpa mengajak istrinya.
“Dia juga berlatih tapi untuk tim yang lain,” celetuknya, sembari tertawa kecil.
Waktu yang ditunggu tiba. Cahya bersiap memberikan penampilan terbaik. Di tim yang berjumlah 10 orang hanya ia dan seorang pejabat kelurahan bergender laki-laki. Selebihnya perempuan semua.
Sampai lagu selesai Cahya terlihat lancar dan fasih memperagakan setiap gerakan. “Semoga setelah ini tidak encok pinggang,” kelakarnya sambil menyeka keringat. (zad)
Editor : Kimda Farida