Buah durian tidak hanya bisa dinikmati di pasar durian, atau lapak-lapak pinggir jalan saja. Berburu langsung ke dalam hutan, sensasi kenikmatan buah durian jauh lebih berbeda. Salah satunya di Taman Hutan Raya (Tahura) Karang Sidemen, Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara.
----------
USAI menjalankan ibadah solat subuh, Muhammad Sidiq mulai bersiap menuju lokasi pohon durian miliknya. Bermodalkan motor bebek modifikasi, karung berukuran besar dan parang atau sabit siap dibawanya menuju Taman Hutan Raya (Tahura) Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara.
Lokasi rumah Sidiq, akrab disapa, tak jauh dari hutan kemasyarakatan (HKm) itu, jatah ia mengelola lahan seluas 2,5 hektare (Ha).
Dari jalanan aspal desa, Sidiq memacu motor bebeknya melipir ke arah kiri dari lokasi Horti Park. Jalan itu searah menuju Wisata Kolam Danau Biru yang belum lama ini usai diserahterimakan pemerintah daerah kepada pemerintah desa.
Jalan terjal, berkerikil, tanah becek akibat air hujan memacu adrenalin Koran ini untuk mengegas motor matik, mengikuti motor yang sedang dikendarai Sidik didepan. Jalan sepanjang tiga kilometer (Km) itu dapat ditempuh sekitar 45 menit.
Tiba di pertigaan jalan hutan, tampak jalan setapak seukuran lebar ban motor. Membuat siapa saja yang melintas harus ekstra waspada. Meski demikian, bapak tiga anak itu sesekali mengingatkan Koran ini untuk berhati-hati. Sampai di area hutan, Sidiq mengajak Koran ini untuk masuk ke hutan lebih dalam.
Sebenarnya, motorpun bisa dibawa masuk hutan, tetapi kondisi tanah usai hujan tidak memungkinkan sehingga terpaksa diparkir dipinggiran hutan saja.
Berjalan kaki menuju lahan yang dikelola Sidik tidak memakan waktu lalu. Kurang lebih 15 menit, telah tiba di dalam hutan. Tampak sebuah pondok yang dibangun seadanya, sebagai tempat Sidik untuk beristirahat atau berjaga-jaga saat malam hari.
Tak jauh dari pondok, tampak pula kolam kecil dari terpal digunakannya bersama rekan sebagai air bersih untuk keperluan masak, mencuci dan lainnya.
Dua puluh meter dari pondok, Sidik mengajak Koran ini melihat lebih dekat pohon buah durian khas Desa Karang Sidemen, namanya Durian Otong sejenis durian Bangkok namun berukuran sedikit kecil.
Puluhan buah durian Otong terlihat diikat oleh tali rapia disetiap pohonnya. Agar ketika buah jatuh pertanda matang, dengan diikat tali maka buah yang jatuh tidak akan pecah atau rusak.
“Ini buah durian lokal khas Karang Sidemen, Durian Otong namanya sejenis durian Bangkok,” ucapnya.
Ia menuturkan, buah durian ini memiliki daging yang legit dan berwarna putih, selain manis ada pula sedikit rasa pahit. Jika pahitnya kentara terasa, tandanya buah Durian Otong usai dipanen langsung dimakan.
“Seharusnya tunggu dulu sekitar dua hari usai jatuh dari pohonnya,” terang Sidik sembari memberikan buah durian yang lain untuk dinikmati.
Benar saja, buah Durian Otong setelah dua hari dipanen sangat menggugah selera. Manis nan legit, membuat siapa saja yang menikmatinya tidak cukup satu.
Selain itu, yang membedakan Durian Otong dengan buah durian lainnya adalah tidak mengeluarkan wangi harum yang menyengat. Sehingga cocok bagi yang ingin mencoba buah durian namun enggan mencium aroma buahnya.
Sidik mengaku, jenis Durian Otong ini kurang bagus ditanam pada lahan yang sangat basah, lebih pas ditanam pada lahan agak kering. Agar memberikan tekstur daging buah yang lebih legit dan manis. “Lebih cocok pada lahan agak kering,” ujarnya.
Saat ini harga buah durian di tingkat petani mulai normal. Lantaran ketersediaan buah durian telah melimpah, belum lagi gempuran dari buah durian dari Bali yang masuk ke Lombok.
“Untuk dagingnya yang putih kisaran Rp 25-30 ribu per buah, beda lagi harganya yang kuning bisa diatas Rp 30 ribuan,” tandas pria yang memasuki usia setengah abad itu. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida