Ki Dalang Sukardi sosok budayawan berpikiran terbuka. Ia menceburkan diri dalam sengitnya pertarungan dunia digital untuk menjaga eksistensi seni dan budaya Sasak, meski usia tak lagi muda.
-----
PERTUNJUKAN Wayang Sasak “Pertale Gumi Paer” adalah mahakarya Ki Dalang Sukardi bersama seniman lainnya. Karya itu ditampilkan budayawan kelahiran 1969 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta pada bulan Desember 2023 lalu.
Pertale Gumi Paer adalah pertunjukan karya seni kolaborasi. Mengawinkan seni pertunjukan wayang kulit, tari, puisi, nembang (tembang, Red), teatrikal musik, dan kemajuan teknologi digital dalam satu panggung.
Karya ini lahir dari keterbukaan pikiran Ki Dalang Sukardi bersama seniman lainnya. Mereka meyakini setiap zaman memiliki cara tersendiri untuk menyuguhkan karya seni.
“Yang penting esensi atau nilainya tidak boleh berubah,” ungkapnya.
Era digital saat ini dengan mudah menampilkan beragam hiburan dari berbagai penjuru bumi. Hal itu yang membuat setiap orang tidak banyak waktu menyaksikan satu pertunjukan dalam waktu yang panjang.
Berbeda situasinya ketika teknologi digital belum sepesat saat ini. Setiap orang punya waktu panjang menyaksikan satu jenis hiburan. Sebut saja dulu orang rela menonton pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
“Karena memang pilihan hiburan tidak banyak,” ujarnya.
Tetapi dunia telah berubah 180 derajat. Hiburan semudah menjentikkan jari di layar smartphone. Menyuguhkan hiburan dengan waktu yang lebih panjang hanya membuat pengguna dunia digital jenuh dan meninggalkannya.
Para “pemain” dunia digital juga menyadari situasi ini. Mereka membuat platform media sosial yang beradaptasi ke arah kebutuhan informasi singkat tapi menghibur. Sebut saja semisal reels instagram atau reels facebook, video short, hingga tik-tok.
Ki Dalang Sukardi juga menyadari itu. Sadar dengan kondisi masyarakat modern dalam melihat pertunjukan seni budaya.
“Makanya, ketika saya ditantang berani tidak memperpendek lakon cerita wayang kulit yang durasi biasanya 3-4 jam menjadi 1 jam, saya bilang saya sanggup,” ungkapnya.
Begitu juga saat Galeri Indonesia Kaya meminta ia menghadirkan pertunjukan kolaborasi. Di mana banyak seni pertunjukan disuguhkan dalam satu panggung, sementara waktu bahkan kurang dari satu jam.
Itulah awal lahirnya mahakarya “Pertale Gumi Paer” tadi. “Kita memang dituntut untuk bisa tampil kurang dari satu jam, kami tampil sekitar 42 menit di mana wayang kulit, teatrikal, tari, puisi, dan digital dihadirkan dalam satu waktu dan satu panggung,” kisahnya.
Ki Dalang Sukardi tak pernah membayangkan dunia akan sesengit ini dalam persaingan seni dan budaya. Ia menyukai wayang kulit sejak masih kecil dan mulai pentas sejak duduk di bangku kelas 3 SD menggunakan wayang terbuat dari karton.
Kemudian secara profesional memainkan wayang kulit pada sekitar awal tahun 90-an. “Tidak pernah terbayang situasi akan sesulit ini, justru saat usia saya sudah tidak lagi muda,” ungkapnya.
Ia dulu berpikir kemampuannya sebagai dalang akan membuat banyak gawe atau pesta rakyat mengundangnya. Begitu juga ajakan dari pemerintah sebagai juru sosialisasi program melalui wayang kulit.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ia mendapati seni dan budaya yang dicintainya sejak kecil menuju senjakala.
Itulah yang membuatnya bertekad melakukan hal terbaik untuk menjaga kelestarian budaya. Sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai anak suku Sasak menjaga warisan leluhur.
Ia memilih terjun dalam persaingan seni pertunjukan sebagai kontribusi agar seni dan budaya Sasak tetap eksis. “Saya belajar membuat channel YouTube agar ada tempat generasi muda kelak mencari seni pertunjukan khas daerahnya,” ungkap pemilik channel YouTube ‘Sanggar Seni Jati Sware’ ini.
Selain itu, melalui sanggar seninya, Ki Dalang Sukardi rutin mengajak budayawan dan seniman berkumpul. “Berpikir apa yang bisa kita lakukan ke depan agar seni budaya Sasak tetap lestari hingga kiamat,” pungkasnya. (*)
Editor : Hidayatul Wathoni