Delapan tahun bukan waktu yang sebentar.
Tapi selama itulah Rabiah berbagi rezeki dengan kucing liar. Berikut kisahnya.
-----
SEBELUM pukul 07.00 WITA, sebungkus nasi telah tersedia di bawah pohon, parkiran barat, Islamic Center. Tetapi pagi itu hingga 07.45 WITA bungkus nasi masih kosong.
Seekor kucing duduk tak jauh dari bungkusan nasi kosong itu. Matanya tajam menatap ke arah gerbang selatan Islamic Center.
Orang-orang yang lalu lalang di dekatnya tak dihiraukannya. Matanya terus mengarah ke gerbang itu.
Sejurus kemudian, kucing itu bangkit. Ia berlari dan mengeong mendekati wanita paruh baya yang menjinjing beberapa bungkus plastik.
Wanita itu seperti sudah tahu kucing itu menunggunya. Plastik bening di tangannya segera diturunkan dan segera mengeluarkan bungkusan nasi.
“Nasi,” katanya seraya tersenyum ramah, Minggu (21/1).
Dari dalam plastik, ia kembali mengeluarkan satu bungkusan lagi. Setelah dibuka isinya beberapa ekor ikan tongkol.
Tangannya kemudian mencampurkan daging ikan tongkol dengan nasi putih. Kucing itu tidak sabar dan segera melahap nasi bercampur daging ikan.
“Sudah delapan tahun saya kasih makan kucing di sini,” tuturnya.
Ia melipat kakinya dan duduk tak jauh dari kucing yang sedang makan dengan lahap. Tapi raut wajahnya masih terlihat gelisah.
Ia berulang kali menoleh ke sudut-sudut bangunan Islamic Center. “Ada satu lagi, dia belum datang. Ekornya panjang,” katanya.
Ia berulang kali memanggil kucing tersebut. Tapi tak juga menampakkan batang hidungnya.
“Pis, pis, pis!” serunya berulang-ulang.
Rabiah menunggui kucing yang tengah makan di dekatnya. Sekali waktu tangannya mengusap kepala kucing tersebut.
“Kalau ada rezeki lebih saya datang dua kali sekitar jam 6 pagi dan sekitar jam 1 siang,” tuturnya.
Kucing-kucing itu seperti tahu kapan ia datang. Mereka telah menunggu di titik tersebut sebelum Rabiah tiba.
“Ke mana yang satu lagi ya?” tanyanya lirih.
Dulu jumlah kucing yang diberi makan di tempat itu sebanyak 5 ekor. Tapi kini yang tersisa tinggal 2 ekor.
“Saya nggak, tahu ke mana yang lain. Apa diambil orang atau sudah mati. Dua ekor ini anaknya,” tuturnya.
Hampir setiap hari ia memberi makan kucing jalanan di beberapa titik. “Sebelum berangkat nyapu ke SMK Muhammadiyah, saya datang dulu ke sini,” ujar wanita yang tinggal di Arong-Arong Timur, Dasan Agung, Kota Mataram.
Selain di Islamic Center, Rabiah juga memberi makan kucing jalanan di beberapa tempat. “Ada di sana 2-3 ekor (menunjuk Masjid Raya Attaqwa, Red), seekor di SD itu (SD 5 Mataram), empat ekor di (SMK) Muhammadiyah, dan 3 ekor di rumah,” jelasnya.
Suatu ketika ia pernah ditegur karena memberi makan kucing jalanan di salah satu sekolah. “(Pihak sekolah bilang) ‘jangan kasih makan kucingnya nanti buang kotoran di sini’, tapi saya jawab ‘kan saya cuma kasih makan di pagar pak’,” tuturnya iba.
Baca Juga: Sampah di Sungai Pitung Bangsit Kediri Selatan Terus Menggunung, ini Respons DLHK NTB
Pihak sekolah akhirnya mengizinkan ia tetap memberi makan. Asalkan, tidak menaruh makanan di dalam wilayah sekolah. “Kata bapaknya ‘ya sudah asal jangan dikasih di dalam ya’, saya bilang ‘nggih pak’,” ucapnya sambil menyampaikan rasa terima kasih.
Seperti berita di awal, selama 8 tahun Rabiah memberi makanan kucing jalanan. Waktu yang sangat lama untuk sebuah ketulusan menolong bintangan tersebut.
Setiap hari, Rabiah menghabiskan Rp 15-25 ribu untuk membeli ikan. “Kalau lagi tidak ada rezeki, paling tidak saya ke pasar cari kepala ikan. Yang penting ada yang saya bawakan untuk mereka (kucing-kucing) itu,” tuturnya. (Bersambung)
Editor : Kimda Farida