Muhammad Faiz, joki cilik yang ikut serta dalam tradisi budaya Malean Sampi di Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Meraih juara tiga, bocah SMP itu dengan gagah berani memacu dua ekor sapi jagoannya.
----------
DIIRINGI musik Gendang Beleq, khas Suku Sasak, puluhan sapi-sapi diarak memasuki dan mengelilingi area persawahan.
Area yang berlokasi di Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat itu menjadi arena pacuan para sapi berukuran besar.
Termasuk Muhammad Faiz, bocah cilik yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu.
Walau duduk di bangku kelas tiga, Faiz akrab disapa, bak joki professional mulai melemaskan otot-otot.
Baca Juga: Hj Lale Syifaun Nufus Berpotensi Jadi Anggota Dewan dengan Raihan Suara Terbesar untuk Dapil NTB 2
Sesekali ia menepuk-nepuk badan kedua ekor sapi yang ukurannya jauh lebih besar darinya. Bertelanjang dada, Faiz hanya mengenakan celana pendek dan memakai Sapuq (ikat kepala khas Suku Sasak, Red).
Panas matahari menyengat, tak mematahkan semangat Faiz maupun peserta lainnya unjuk kebolehan keperkasaan sapi-sapi mereka.
Sepasang sapi yang diarak mulai dipasangkan sarana pelengkap untuk dinaiki para joki.
Alunan musik Gendang Beleq yang semakin cepat. Pertanda perlombaan segera dimulai. Faiz pun bersiap.
Baca Juga: NW dan NWDI Berpeluang Besar Tempatkan Wakilnya di DPD RI
Melaju kencang, adu cepat melawan pasangan sapi lainnya. Di atas sawah yang becek, lumpur-lumpur yang mengenai badan hingga muka pun tak dihiraukan Faiz dan peserta lainnya.
Para joki sesekali melayang ke udara, namun tetap berusaha mengendalikan dan menunjukkan kelihaiannya.
Sorak sorai penonton menambah semarak perlombaan. Baik itu warga setempat, pengendara bermotor yang melintas hingga sejumlah turis asing ikut mengabadikan tradisi budaya ini.
Faiz pun keluar sebagai juara ketiga dalam Malean Sampi tersebut.
Baca Juga: Diduga Ada Penggelembungan Suara, Pendukung Caleg di Bima Blokir Jalan
Meski nomor tiga, namun ia merasa bangga karena satu-satunya bocah cilik yang masuk juara. Sebab latihan mengendalikan sapi ini sudah dilakoni Faiz sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Senang walau juara tiga, jadi joki ini diajarkan Paman,” ucapnya.
Wahid selaku ketua panitia kegiatan mengatakan, ajang ini digelar sebagai bagian dari hajatan salah satu keluarga.
Namun sisi lain sebagai wujud rasa syukur atas hasil pertanian masyarakat pada tahun ini.
Baca Juga: Buntut Pembakaran Logistik di Parado, Bawaslu Bima Sarankan Pemungutan Suara Ulang
Bisa juga dilakukan untuk menyambut musim tanam berikutnya. Dengan harapan hasil pertanian kelak dapat melimpah.
“Sebagai mana yang dipercayai oleh masyarakat, dengan digelar tradisi malean sampi, maka untuk musim panen yang akan datang, hasil pertanian bisa lebih banyak dari yang sekarang ini. Sehingga sebelum melakukan aktivitas menanam, kami menggelar tradisi malean sampi,” terangnya.
Selain menjaga tradisi masyarakat, kegiatan malean sampi memberikan efek positif. Dimana harga sapi yang menang dalam perlombaan malean sampi menjadi tambah mahal.
“Sebab kebanyakan sapi-sapi yang ditampilkan adalah sapi-sapi khusus,” tandasnya. (lestari dewi)
Editor : Marthadi