Kalau sudah namanya hobi, profesi yang dijalani pun akan awet hingga puluhan tahun lamanya.
Salah satunya, Sandra penyiar wanita Lombok FM yang masih mengudara di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Berikut ulasannya.
---------
SEJAK duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Lombok Timur (Lotim), Sandra dikenal sebagai wanita yang cukup vokal dikelasnya.
Hingga akhirnya ia pun memilih bergabung pertama kali sebagai penyiar radio di Radio Komunitas, Lotim.
Mencoba-coba, menyalurkan salah satu kemampuannya yang memang hobi cuap-cuap.
Ketertarikan Sandra menjadi penyiar didukung dengan jurusan yang diambil dibangku SMA, yaitu jurusan Bahasa Komunikasi.
Dan ia memang bercita-cita menjadi seorang penyiar radio.
“Ketika lulus SMP saya mulai tertarik, makanya saat SMA saya ambil jurusan Bahasa Komunikasi,” ucap Sandra disela-sela waktunya sebelum siaran, Kamis (7/3).
Meski bercita-cita menjadi penyiar, kata dia, ternyata membutuhkan mental dan keberanian yang kuat.
Mengapa? Untuk berani berbicara dibelakang layar, ternyata harus ditempa pula berbicara dihadapan khalayak atau orang banyak.
Sehingga ia pun kerap terjun berorganisasi saat SMA, salah satunya kepramukaan.
Anak kedua dari lima bersaudara ini beralasan, sebagai penyiar kerap dihadapkan pada demam mikrofon atau mik.
Jika ada demam panggung ketika akan pentas diatas panggung, maka ada pula yang namanya demam mik.
“Makanya itu saya awali dengan bagaimana untuk berani ngomong didepan orang banyak,” ucap Sandra.
Puluhan tahun menjadi penyiar radio, diakui menghadapi banyak lika-liku.
Tidak semudah dan segampang yang orang lihat dari luar dan beranggapan, 'ah gampang cuma ngomong doang'.
Kenyataannya, tidak semudah dan seindah seperti yang dilihat.
“Tapi yang namanya berbicara itu, disebuah ruangan dan hanya berhadapan dengan mik, orang yang dengar entah dari mana diluar sana tapi rasa takut untuk berbicara itu ada,” ungkapnya.
“Termasuk penyiar senior pun kalau sudah namanya lama tidak siaran pasti gugup, demam mik,” tambah wanita berkacamata ini.
Untuk menghadapi ini semua, wanita yang sudah berumah tangga itu pun membekali dirinya dengan membaca koran, majalah dan sebagainya.
Semua itu ia persiapkan malam hari dan dituangkan pada sebuah skrip untuk dibacakan keesokan harinya.
“Mau bagaimana canggih perubahan teknologi, namanya skrip itu tetap dibutuhkan, materi yang mau kita bahas itu harus ada,” tegas Sandra.
Setelah dibekali ini semua, ditambah menjalani profesi penyiar dengan hobi alias suka.
Dia yakin jalannya akan lancar dan aman.
Bahkan bisa bertahan hingga puluhan tahun seperti dirinya saat ini.
“Kalau pemikiran jadi penyiar itu duit (gaji, red) tidak akan bertahan disitu. Namun jika jalani karena hobi, mau dia ada uang, tidak ada uangnya ya jalan sampai sekarang,” pungkasnya. (bersambung/lestari dewi)
Editor : Kimda Farida