Dua minggu sudah pencarian Lalu Wisnu Aditya yang hilang tenggelam di laut belum membuahkan hasil.
Dimata keluarga dan rekan kerja, sosok dokter muda itu dikenal baik dan ramah pada siapapun. Berikut ulasannya.
--------
MELALUI sambungan telepon, Koran ini berkesempatan berbincang-bincang dengan Baiq Erna Wati, bibi dari Lalu Wisnu Aditya Wardana.
Dokter muda pada RSUD Praya yang hilang tenggelam saat memancing dilaut, yang hingga kini belum ditemukan.
Terdengar suara Baiq Erna Wati mulai terbata-bata, tatkala Koran ini ingin menggali lebih dalam sosok dr Wisnu.
Sebab dia harus mengingat kondisi terakhir saat ini bahwa pencarian keponakan tersayangnya belum membuahkan hasil.
Meski sudah mengerahkan segala cara dan bantuan, baik dari keluarga, relawan, hingga pemerintah daerah.
Erna menuturkan, dr Wisnu merupakan pria kelahiran Praya pada 11 Maret 1997 silam.
Ia adalah putra dari pasangan Lalu Muchlis Jayadi dan Sri Swandariah.
Wisnu merupakan alumnus dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al Azhar Mataram pada tahun 2022.
“Setelah lulus kuliah kemudian praktek ke rumah sakit dan klinik kesehatan,” katanya.
Selain menjadi dokter muda di RSUD Praya, kata Erna, dr Wisnu juga membuka praktik pada sebuah klinik di Gili Trawangan mengikuti jejak pamannya.
Dokter berparas tampan itu pun cukup dikenal oleh masyarakat sekitar tempatnya bekerja.
“Bahkan, tak disangka-sangka sejumlah warga turut membantu melakukan pencarian dokter Wisnu sejak kabar kehilangannya,” ucap Erna.
Dalam kesehariannya, dr Wisnu dikenal sebagai pribadi yang baik dan sangat ramah pada siapa pun.
Pria usia 27 tahun itu juga dikenal sebagai anak yang hormat kepada orang tua dan keluarganya.
Llantaran tidak banyak omong dan dikenal tekun, Wisnu akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
“Sosoknya itu kalem dan tidak banyak bicara. Wisnu juga sangat sopan, santun menjaga etika, attitude-nya juga bagus,” ungkapnya dengan nada parau.
Di mata keluarga, sambung Erna, Wisnu adalah sosok yang sangat peduli terhadap neneknya. Pada sela-sela kesibukannya, Wisnu kerap memperhatikan jadwal makan hingga jadwal minum obat sang nenek.
Sebelum kejadian nahas tersebut, Erna mengaku tidak ada yang aneh sebelum kejadian.
Sehari sebelumnya dr Wisnu berada di Bali.
Sehingga ketika dirinya mendengar kabar dari keluarga bahwa Wisnu hilang, Erna mengaku kaget dan tidak percaya.
Diakui, Wisnu memang kerap memancing di perairan sekitar Pantai Lancing sampai Selong Belanak, Lombok Tengah.
Korban pergi memancing menuju atau dekat pada sebuah gili di Pantai Lancing. Tetapi begitu sampai ke tengah perairan, ombak cukup besar sehingga tidak jadi memancing.
“Begitu hendak berbalik, ombaknya lumayan besar. Sehingga menghantam perahu mereka sampai dua kali dengan ketinggian ombak sekitar dua meter. Perahu mereka terbalik,” sebutnya.
Dari hasil pencarian Wisnu selama ini, untuk perlengkapan memancing seperti pancingan telah ditemukan dan diantar oleh kapten perahu pada hari kesepuluh.
Pancing ditemukan karena tersangkut pada mesin perahu.
“Selebihnya tidak ada (seperti pakaian, sandal dan lainnya, red),” kata Erna.
Dari pihak keluarga sangat berharap Wisnu dapat ditemukan dalam kondisi apapun. Keluarga mengaku telah mengikhlaskan dan selalu berdoa yang terbaik untuk Wisnu.
“Semoga segera ditemukan,” harapnya.
Sementara itu, Humas RSUD Praya Taufiq Akbar menambahkan, Wisnu masuk kerja di RSUD Praya sekitar pertengahan Januari 2024.
Saat itu, Wisnu merupakan Pegawai Tidak Tetap (PTT) atau honorer di RSUD Praya.
“Secara pribadi saya tidak terlalu kenal beliau. Karena beliaukan shift-shift-an masuk kerjanya. Kalau saya pagi saja,” singkat Taufik. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida