Desa Ungga di Kecamatan Praya Barat Daya menjadi sentra kerajinan perak yang banyak digandrungi wisatawan.
Ditengah persaingan produk-produk yang tak kalah menarik, perajin setempat mesti mampu berinovasi dan bekreatifitas. Tak terkecuali Muhammad Farid owner Ungga Creative.
-----------
SUDAH tidak asing lagi ketika mendengar nama Desa Ungga di Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah (Loteng).
Desa ini merupakan sentra kerjinan perak yang banyak digandrungi dan diminati oleh lokal maupun wisatawan intrnasional.
Mulai dari bros, cincin, anting, kalung, giwang, liontin, dan masih banyak lainnya.
Perhiasan-perhiasan tersebut dibentuk dioalah sedemikian rupa sehingga menghasilkan produk kerajinan yang berkelas dan siap untuk dipasarkan.
Pasca menjadi souvenir atau buah tangan saat ajang World Superbike (WSBK), kemewahan hasil kerajinan perak ini bak menghilang ditelan bumi.
Seakan kalah saing dengan hadirnya berbagai macam kerajinan yang ada di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
Namun ini tidak berlaku bagi Muhammad Farid pemilik Ungga Creative.
Sejak tahun 2016 berdiri, usaha kerajinan yang digeluti perajin asal Desa Ungga ini didominasi kerajinan perak.
Seiring berjalannya waktu dan maraknya produk kerajinan serupa bahkan lebih menarik, kerajinan perak Desa Ungga kian tersingkir.
Salah satu inovasi yang dilakukan Farid adalah memadupadankan kerajinan peraknya dengan produk kriya lain.
Seperti kain hasil tenun, peralatan rumah tangga dan produk kreatif lainnya.
“Selain kemampuan ini, juga penting bagi pengrajin asah pengetahuan dan keluar kandang. Melihat seperti apa kondisi perkembangan kerajinan kriya yang dapat dikembangkan di daerah,” katanya.
Belum lama ini, dirinya beserta sejumlah perajin di Loteng mengikuti kegiatan pameran atau ajang Indonesia Enterprenuer 2023 dari salah satu majalah ternama ibu kota.
Meski hanya masuk seratus besar lalu menjadi 30 besar se-Indonesia, bagi Farid itu cukup berarti.
Sebab dari seratus besar ini, perajin asal Lombok yang bisa masuk berjumlah hanya sebelas orang.
“Disana kita tidak hanya bersaing atau menampilkan produk unggulan, namun kita sesama pengrajin saling bertukar pengetahuan, teknik lain yang kemungkinan bisa diadaptasikan,” ucap Farid.
Selain secara mandiri, perajin perak masih merasa perlu diberikan pembinaan dari pemerintah agar bisa naik kelas.
Terutama bagi perajin mikro yang belum lama terjun ke kerajinan perak.
Sebab satu sisi mereka masih memerlukan wadah untuk produk kerajinan hingga pendampingan.
“Sekarang sudah ada perajin yang beralih menjadi pengepul, ini membantu kami tapi kami juga butuh ada peran pemerintah disana. Sehingga aktivitas kerajinan perak perhiasan tetap bertahan,” kata kata bapak beranak tiga itu.
Dengan hadirnya galeri pada sentra IKM Olahan Pangan, diharapkan membuka pintu bagi perajin Desa Ungga untuk memamerkan hasil kerajinan mereka.
Sentra IKM Olahan Pangan menjadi angin segar perajin dalam memasarkan produk kepada wisatawan. (lestari dewi)
Editor : Kimda Farida