Dunia medis dan dunia fotografi adalah dua bidang profesi yang berbeda. Tapi bagi Azkurli Hidayat, keduanya punya makna yang sama. Yaitu sama-sama bisa menyehatkan dan menyenangkan orang lain.
”Posisi kepala kurang tepat, Pak. Coba miring ke kanan. Hadap kamera dan senyum,” kata pria itu lalu membidik sasaran dengan beberapa kali jepretan.
Dengan pencahayaan yang proporsional, hasil foto terlihat ciamik. Sang model terlihat gagah dengan senyum yang simetris.
Sasaran yang difoto tidak main-main. Yaitu Ketua DPRD Lombok Barat (Lobar) Lalu Ivan Indaryadi.
Ketua DPRD tersenyum puas dengan kualitas foto itu.
”Inilah enaknya jadi fotografer bisa ngatur-ngatur pejabat,” kata sang fotografer Azkurli Hidayat lalu tertawa.
Dia bilang, yang dimaksud dengan mengatur dalam konteks itu bermakna positif. Yaitu supaya bisa menghasilkan kualitas foto terbaik. Sebab posisi badan dan anggota tubuh bisa menentukan kualitas sebuah foto.
”Makanya beliau-beliau sangat welcome kalau diarahkan. Saya juga enak,” sambungnya.
Azkurli Hidayat adalah aparatur sipil negara (ASN) yang berdinas di Bagian Hukum dan Humas Sekretariat DPRD Lobar.
Tugas utamanya sebagai fotografer. Dia memotret sebagai kegiatan legislator, khususnya pimpinan DPRD Lobar. Mulai dari rapat-rapat, kunjungan kerja, menyambut tamu hingga sidak ke lapangan.
”Di sini saya melayani pimpinan dewan. Tapi sering juga kegiatan 45 anggota dewan saya yang jepret,” tutur pria asal Kediri, Lombok Barat, itu.
Baca Juga: SMPN 10 Mataram Jadi Rujukan Studi Tiru Pengelolaan Sampah Dikbudpora KLU
Pria yang akrab disapa Alok ini berkecimpung di dunia fotografi terjadi tanpa direncanakan.
Awalnya, pria kelahiran 5 April 1980 itu lebih dekat dengan dunia medis. Bahkan dia kuliah di jurusan teknik elektromedik di Akademi Teknik Elektromedik (Atem) Jakarta yang sekarang menjadi Politeknik Kesehatan Jakarta II.
”Ini semacam teknisi bidang kedokteran,” jelasnya.
Tugasnya adalah memperbaiki alat-alat kedokteran yang rusak. Seperti memperbaiki x-ray pada mesin rotgent. Mesin USG hingga alat periksa jantung.
Jika mesin-mesin itu mengalami kerusakan maka akan diperbaiki teknisi elektromedik seperti yang digelutinya.
Nah, dia mengabdi sebagai teknisi elektromedik di RSUD Patut Patuh Patju sejak 2004.
Saat itu status awalnya sebagai tenaga lepas. Pada 2009 barulah dia diangkat sebagai ASN melalui formasi umum. Tugasnya tetap menyervis alat-alat kesehatan yang rusak.
Alok juga merangkap sebagai radiografer operator untuk mesin rotgent. Sehingga terdapat sedikit tidak kesamaan radiografer dengan dunia fotografi. Sebab sama-sama harus setting exposure cahaya.
”Dalam me-rontgent nggak sembarangan. Pencahayaan juga harus diatur,” imbuhnya.
Sajak saat itu dia menjadi senang dengan dunia fotografi. Dia bergabung dengan banyak komunitas fotografer. Termasuk komunitas lensa Lobar.
”Di komunitas ini saya belajar otodidak. Awalnya hanya hobi, sekarang jadi profesi,” ujar ayah tiga anak itu.
Karena kepiawaiannya dalam dunia fotografi, pada 2017 dirinya dipindah ke Humas Pemkab Lobar.
Awal kepindahannya ke Bagian Humas Pemkab Lobar sempat merasa down. Dia khawatir ilmu bidang teknisi kedokteran yang digelutinya sajak kuliah tidak dibutuhkan.
Dia juga khawatir terjadi human error pada mesin-mesin medis ketika dipegang sama tenaga yang lain. Dampaknya ke pelayanan kesehatan ke warga.
”Ternyata rasa khawatir saya ini tidak terbukti. Banyak tenaga baru yang ahli di bidang ini,” tuturnya.
Di bagian Humas Pemkab Lobar, dia dipercaya sebagai fotografer andalan. Dia selalu menjadi andalan bagi bupati Lobar periode sebelumnya Fauzan Khalid.
Ke mana bupati betugas, Alok selalu mengikuti untuk mengabadikan momen kegiatan Bupati Fauzan. Termasuk kegiatan istrinya, Khaeratun.
”Bahkan kalau ada acara mantenan atau pesta nikah ASN, saya yang direkomendasikan,” tuturnya lalu tertawa.
Dari humas Pemkab, dia ditarik lagi ke bagian humas DPRD Lobar. Kini dia melayani 45 anggota dewan dalam setiap kegiatan. (umar wirahadi/r12)
Editor : Redaksi Lombok Post