Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Romi Humandri Menembus Skuad Timnas Futsal Indonesia, Tak Patah Semangat meski Sempat Dua Kali Dicoret

Supardi/Bapak Qila • Senin, 18 November 2024 | 17:24 WIB

 

SAMBUT: Ribuan masyarakat Desa Selagik, Kecamatan Terara Lombok Timur saat menyambut kepulangan Romi Humandri Timnas Futsal Indonesia yang berhasil meraih juara AFF Futsal 2024. SUPARDI/LOMBOK POST
SAMBUT: Ribuan masyarakat Desa Selagik, Kecamatan Terara Lombok Timur saat menyambut kepulangan Romi Humandri Timnas Futsal Indonesia yang berhasil meraih juara AFF Futsal 2024. SUPARDI/LOMBOK POST

LombokPost-Perjuangan Romi Humandri untuk ikut andil membawa Indonesia juara AFF Futsal Championship 2024 cukup berliku. Sebelum bergabung dengan skuad Garuda, pemuda asal Desa Selagik, Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim) sempat dua kali dicoret saat seleksi.

Supardi, Lombok Timur.

MEMASUKI Desa Selagik sebuah baliho dengan foto sosok pemuda terpampang di simpang tiga arah kantor desa, Sabtu (13/11). Baliho bertuliskan welcome home, the champions Romi Humandri itu berjejer sepanjang jalan. Baliho-baliho itu sengaja dibuat oleh masyarakat setempat untuk menyambut kedatangan Romi setelah berhasil memenangkan AFF Futsal Championship 2024.

Antusias masyarakat menyambut kedatangan Romi terlihat sejak pagi. Ratusan warga berkumpul di sekitar kantor desa. Sementara puluhan warga lainnya bergotong royong merapikan jalan menuju kantor desa yang berlubang dan ditumbuhi rumput liar. Ini dilakukan demi memberikan penyambutan yang meriah dan istimewa bagi pemuda kebanggaan mereka yang berhasil mengharumkan nama Desa Selagik di kancah internasional.

Tepat pukul 14.00 Wita, rombongan mobil yang menjemput Romi dari bandara tiba dikampung halaman. Seketika ribuan masyarakat tumpah ruah menghadang mobil. Mereka tidak sabar melihat dan bertemu dengan timnas futsal kebanggaan Lotim itu. Ribuan pasang masa terlihat berkaca-kaca melihat pria berpostur tinggi itu berjalan menuju kantor desa.

Tidak hanya masyarakat sekitar, kepulangan Romi Humandri juga disambut Pj Bupati Lotim HM Juaini Taofik di aula kantor desa. Masyarakat berebut untuk foto bersama dengan sang atlet.

Kepada Lombok Post, Romi mengatakan bermain bola merupakan hobinya sejak kecil. Namun awal mula mengenal futsal saat masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Kemudian setelah naik kelas 2 ia mulai aktif mengikuti berbagai turnamen antar sekolah. Baik tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi. Setiap turnamen klubnya futsalnya selalu masuk dalam tiga besar.

      “Saat SMA itu banyak turnamen yang sudah kami ikuti dan setiap turnamen kami tetap masuk dalam tiga besar. Baik tingkat Kabupaten maupun tingkat provinsi,” bebernya.

Sejak itulah ia mulai rutin berlatih mengasah kemampuannya bersama klub futsal di desanya. Kemampuannya bermain bola dilirik banyak club futsal di Lombok. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama klub futsal profesional yakni Vamos Mataram.

Sejak itu, kemampuan Romi bermain futsal semakin dikenal dan ikut bermain di liga. Karena memiliki kemampuan bermain futsal, ia akhirnya mendapatkan undangan mengikuti seleksi nasional untuk bergabung di Timnas Futsal.

“Tapi saat seleksi pertama itu, saya langsung ke coret. Mungkin karena saya orang baru, dan mungkin kemampuan masih kurang bagus dibandingkan yang lain. Makanya tidak lolos,” katanya.

Kegagalan itu tidak membuatnya kecewa dan menyerah. Justru sejak itu ia semakin rajin berlatih  dan selalu memberikan penampilan terbaik setiap pertandingan. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa membawa Timnas Futsal Indonesia meraih juara.

Pada tahun berikutnya ia kembali dipanggil  untuk mengikuti seleknas dan masuk dalam Timnas Futsal Indonesia dalam ajang kualifikasi piala dunia ke Arab Saudi. Namun lagi-lagi Romi menemui jalan buntu. Saat berada di Arab Saudi  namanya kembali dicoret dari timnas lantaran hanya 14 orang yang masuk dalam line up.

“Waktu di Arab Saudi, timnas bawa 15 pemain dan yang masuk line up cuma 14 orang dan akhirnya saya yang dicoret,” terangnya.

Kegagalan demi kegagalan dilalui untuk membela Timnas Futsal Indonesia. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah dan memberikan terbaik. Pada tahun ketiga di liga profesional, ia kembali dipanggil untuk seleknas dalam persiapan AFF Championship 2024 di Thailand. Hingga akhirnya dipercaya mengenakan jersey Merah Putih.

Melihat antusiasme masyarakat Selagik yang menyambut kedatangan membuat dirinya sangat terharu. Terlebih keberhasilan yang diraih itu tidak bisa disaksikan oleh ibunya. Dukungan dari masyarakat tidak hanya dilakukan saat ini saja. Namun saat dirinya menang di PON Papua masyarakat Selagik juga menyambutnya dengan antusias.

“Makanya setiap juara dan mencetak gol saya dedikasikan untuk almarhum ibu dan masyarakat Selagik. Ibu meninggal dua minggu sebelum berangkat ke PON Papua. Berita itu membuat saya sangat sedih karena saat berangkat ke Mataram almarhumah sehat,” katanya.

Mendengar berita duka itu, tidak membuat Romi terpuruk dalam kesedihan dan menyurutkan semangatnya untuk berjuang. Justru membuatnya semakin semangat dan berjanji untuk bisa membanggakan keluarga. Meskipun sosok ibu, tidak ada lagi di dekatnya.

Romi berharap prestasinya ini dapat menginspirasi anak-anak muda yang ada di desa Selagik umumnya Lotim, agar lebih banyak lagi atlet-atlet yang lahir dari Lotim. Selain itu dirinya juga berharap pemerintah daerah dan desa bisa memperhatikan fasilitas olahraga di desa, sebagai sarana mengembangkan bakat yang dimiliki.

“Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah untuk membuat lapangan bola sebagai wadah untuk menyalurkan bakat anak-anak muda di desa Selagik,” tandasnya.

Roli Humandri, kakak kandung Romi Humandri menceritakan, adiknya merupakan anak yang sering dimanjakan oleh almarhumah ibunya. Saat masih duduk di bangku SMA ia sudah aktif mengikuti berbagai turnamen dan klub bolanya selalu mendapatkan juara. Namun sayang saat itu Romi tidak mendapatkan dukungan dari orang tua untuk menjadi pemain bola.

“Orang tua dulu tidak mendukung. Romi disuruh untuk melanjutkan usaha orang tua, karena orang tua kan pengusaha seragam sekolah. Tapi karena saking gigihnya main futsal usaha itu ditinggalkan,” bebernya.

Melihat Romi yang tidak mau terjun ke dunia usaha konveksi itu. Romi akhirnya disuruh untuk mendaftar sebagai polisi setelah lulus SMA. Namun impin orang tuanya kandas. Romi dinyatakan tidak lulus masuk polisi meskipun sudah dua kali mendaftar. Romi sempat kembali disuruh untuk mendaftar yang ketiga kali. Namun terbentur dengan umur. Sehingga ia terpaksa harus mengubur niat orang tuanya dan fokus bermain futsal.

Roli tidak menyangka bahwa prestasi adiknya di bidang futsal sampai sejauh ini. Dia merasa bangga dan terharu melihat prestasi Romi dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Terlebih pencapaian Romi saat ini tidak bisa disaksikan oleh sang ibu.

“Bangga dan sangat terharu karena melihat perjuangan Romi selama ini. Apalagi sosok seorang ibu sudah tidak ada lagi di dekat kami berdua. Anaknya Memang manja tetapi semangat dan kegigihannya sangat luar biasa” tutupnya. (*/r5)

Editor : Redaksi Lombok Post
#aff #Romi Humandri #championship #Futsal