Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menengok Tradisi Jaga Makam Keluarga Baru Meninggal di Desa Rembitan, Tidak Memuja Roh Leluhur Tapi Wujud Kepedulian

Umar Wirahadi • Jumat, 10 Januari 2025 | 10:23 WIB
BUKAN UJI NYALI: Para pemuda dan remaja sedang mengikuti tradisi
BUKAN UJI NYALI: Para pemuda dan remaja sedang mengikuti tradisi

Warga Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) punya tradisi unik bernama nunggu kubur.

Kegiatan bermalam di kuburan ini dilakukan semalam suntuk selama tujuh malam.

Tradisi ini dilakukan warga secara turun temurun dengan tujuan menemani ruh anggota keluarga yang baru dimakamkan.

---------------------

Suara lolongan anjing terdengar dari kejauhan, Jumat tengah malam.

Binatang itu mengeluarkan lolongan panjang yang disusul dengan suara gonggongan anjing lainnya dari arah berbeda.

Meski lolongan hewan mamalia itu membuat bulu kuduk berdiri, tapi hal itu sama sekali tidak mengganggu atau membuat takut belasan pemuda yang duduk berkumpul di bawah naungan terpal.

Diterangi sinar bola lampu, mereka larut dengan aktivitas masing-masing. Ada yang asyik ngobrol satu sama lain.

Sesekali terdengar tawa ringan di antara mereka. Sebagian lagi fokus menatap layar ponsel sambil main game.

Bahkan ada yang sudah tidur berkemul sarung. Karena malam itu sudah menunjukan pukul 23.30 Wita.

Mereka sudah mulai berdatangan ke makam menjelang Magrib pukul 18.00 Wita.

Selepas Isya, jumlah pemuda dan remaja yang datang makin bertambah. Karena sebagian warga lebih dulu mengikuti kegiatan tahlilan di rumah duka.

Usai tahlilan barulah mereka berbondong-bondong menuju area makam.

Yang dijaga adalah kuburan yang baru selesai dimakamkan.

Almarhumah bernama Inaq Rese, meninggal Rabu pagi (18/12) pukul 06.00.

"Yang meninggal ini nenek saya. Memang beliau sudah tua. Usianya 90-an tahun," tutur Riko.

Warga pun sudah mulai menunggu makam Rabu malam.

Kegiatan itu dilakukan semalam suntuk hingga terbit matahari. Tradisi nunggu makam itu berlangsung sampai tujuh malam sejak pemakaman.

"Ini (menunggu makam, Red) tidak ada paksaan. Siapa saja yang bisa dan punya waktu luang silakan datang," ucap pemuda 24 tahun itu.

Sebagai tradisi yang sudah berlangsung turun temurun, berdiam diri di kuburan pada malam hari seperti sudah biasa bagi warga Desa Rembitan.

Sehingga tidak ada rasa takut meski harus bermalam dan dikepung batu nisan.

"Selama ini tidak ada perasaan takut. Mungkin karena teman kita banyak. Jadi di tengah kuburan itu ramai meskipun malam," sambung Adrian, 23, pemuda lainnya.

Menunggu kuburan juga menjadi simbol keakraban dan persaudaraan antar warga.

Ketika ada warga setempat meninggal dunia, tanpa diminta atau disuruh, mereka dengan penuh kesadaran berdatangan ke makam untuk ikut menunggu kuburan.

Seperti Jumat malam lalu, contohnya. Bukan hanya anggota keluarga almarhumah yang datang.

Tapi juga warga Dusun Rebuk Dua, hingga warga dusun lain di wilayah Desa Rembitan ikut datang menjaga makam.

"Karena sudah tradisi warga sudah sama-sama paham. Nggak harus diajak baru datang," tutur Adrian.

Kepala Desa Rembitan Lalu Minakse menuturkan kegiatan "nunggu kubur" adalah tradisi warga desa yang sudah berlangsung turun temurun.

Dia tidak tahu persis mulai kapan tradisi itu dimulai.

"Ini peninggalan nenek moyang desa kami. Sehingga dilakukan sampai sekarang," tuturnya.

Dijelaskan, sebanyak 21 dusun di desa itu menggelar tradisi bermalam di kuburan untuk menjaga warga yang baru meninggal dunia.

Hanya saja, tutur Minakse, ada sedikit perbedaan terkait waktu pelaksanaan ritual itu digelar.

Ada yang tujuh malam dan sebagian lagi melakukan sampai sembilan malam sejak pemakaman.

"Tapi prinsipnya samua dusun melakukan tradisi ini," paparnya.

Apa tujuan menunggu kuburan? Disampaikan, dalam kepercayaan masyarakat Rembitan, kegiatan itu untuk menemani ruh orang yang baru meninggal dunia.

Dia bilang, berdasarkan kepercayaan masyarakat, pada hari pertama hingga ketujuh, ruh orang yang meninggal dunia masih berada di sekitar keluarganya. Baik di sekitar rumah maupun area pemakaman.

"Sehingga tradisi nunggu kubur atau madeq leq kubur, diyakini untuk menemani ruh dari almarhum atau almarhumah," tuturnya.

Tujuan lainnya adalah memastikan ada atau tidaknya urusan dunia yang belum diselesaikan oleh mendiang saat masih hidup. Seperti urusan utang piutang, utang janji atau nazar hingga wasiat yang belum disampaikan ke keluarga atau ahli waris.

"Wasiat itu kadang-kadang disampaikan melalui mimpi orang-orang yang menunggu di kubur," tuturnya.

Selain itu, tujuan dari tradisi jaga makam adalah memastikan keamanan makam dari tangan-tangan jahil. Misalnya upaya pembongkaran makam untuk mengambil tali pocong.

"Itu juga salah satu tujuannya. Jadi bukan mustahil tidak terjadi," ungkap pria sembilan anak itu.

Sepintas, tradisi itu tidak luput dari pengaruh Islam waktu telu yang menyebar di awal-awal kedatangan Islam di Pulau Lombok.

Meski terkesan mistis dan cendrung berbau animisme, namun peziarah atau penunggu makam tidak sekedar datang dan duduk di kuburan.

Sebagian ada yang membawa Alquran dan mengaji di atas pusara almarhum. Juga berdoa untuk keselamatan mereka yang sudah meninggal dunia.

"Ini bukan pemujaan terhadap roh keluarga yang meninggal. Tapi ini bentuk kepedulian atas sesama manusia yang sudah meninggal. Apalagi kami juga berdoa dan mengaji Alquran di area makam," tandas Lalu Minakse. (Umar Wirahadi/*)

Editor : Kimda Farida
#turun temurun #tradisi #keluarga #Loteng #Bermalam #anggota #kuburan #dimakamkan