Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Perjuangan Warga Meang yang Bermimpi Mendapatkan Akses Jalan yang Lebih Manusiawi

Umar Wirahadi • Rabu, 5 Februari 2025 | 16:50 WIB

 

JALUR NERAKA: Inilah kondisi jalan menuju Dusun Meang yang ditempuh dari Dusun Pangsing, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong. Ruas jalan nyaris putus dengan lubang besar di pinggir jalan.
JALUR NERAKA: Inilah kondisi jalan menuju Dusun Meang yang ditempuh dari Dusun Pangsing, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong. Ruas jalan nyaris putus dengan lubang besar di pinggir jalan.
 

Dusun Meang, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar) kembali menyita perhatian setelah viral di media sosial.

Itu terkait aktivitas warga yang gotong royong menandu seorang ibu yang hendak melahirkan karena akses jalan yang sangat mengenaskan.

Tahun sebelumnya pernah kejadian seorang ibu melahirkan di tengah jalan yang berujung sang bayi meninggal dunia. Banyak Bayi Lahir di Tengah Jalan saat Ditandu

----------------

SAMSUL Hakim, tidak bisa tenang setelah mengetahui air ketuban istrinya pecah, Minggu siang itu (19/1). Dia menjadi panik.

Istrinya, Siatri, 22 tahun, harus segara mendapatkan pertolongan dokter atau bidan secepatnya agar bayi yang di kandungnya bisa lahir dengan selamat.

Tanpa berpikir lebih lama lagi, pria 23 tahun itu langsung membonceng istrinya.

Tujuan awalnya menuju klinik di Desa Persiapan Pengantap.

Jarak tempuh dari Dusun Meang menuju klinik itu kurang lebih 20 kilometer.

"Pokokn sak penting lampak juluk doang (Yang penting jalan dulu aja, Red)," tutur Samsul Hakim kepada Lombok Post saat ditemui di rumahnya di Dusun Meang, Sabtu (25/1).

Persoalannya, jalan yang dilalui tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda motor. Apalagi sambil membonceng ibu hamil.

Kondisinya bisa bertambah sakit karena badannya diguncang di atas kendaraan.

Kalau pun nekat bisa-bisa bayi yang dikandungnya langsung mbrojol keluar.

"Makanya saya nggak maksa. Pokokn lebih gati lampak daripade tegonceng (Pokoknya lebih sering jalan kaki daripada naik motor, Red)," ujar Samsul.

Saat istrinya jalan kaki, Samsul tetap di atas motor mengiringi dari belakang.

Bahkan sering kali dia mendorong Honda Beat miliknya itu karena kontur jalan yang terjal dan berbatu.

Dia juga menuntun  motornya saat lewat di jalan penuh lumpur. Maklum hujan mengguyur deras sejak pagi itu.

"Tapi saya kasihan dengan istri. Saya takut bayi saya keluar di tengah jalan," ungkap ayah dua anak itu.

Setelah susah payah berjuang naik turun jalan berbukit, sampailah suami istri itu di Dusun Pangsing pukul 15.00 Wita.

Mereka berangkat dari rumahnya di Dusun Meang pukul 14.00. Artinya perjalan nan melelahkan melalui "jalur neraka" itu ditempuh selama sejam.

Dari jalan Dusun Pangsing, Samsul langsung membawa istrinya ke sebuah klinik di Desa Persiapan Pengantap. Jaraknya kurang lebih 10 kilometer lagi. Beruntung jalan sudah bisa dilalui kendaraan.

Sehingga dia bisa membonceng istrinya.

Setelah dicek, pihak klinik menolak memberi penanganan karena air ketuban sudah pecah. Samsul lalu membawa Siatri ke klinik Dusun Kombang.

Di sana, petugas juga menolak dengan alasan serupa.

Tidak patah semangat, Samsul pun langsung menggeber Honda Beat-nya ke Puskemas Sekotong. Dia tiba di puskemas itu pukul 18.00 Wita.

Setelah melalui penanganan yang intensif, pukul 00.00  istrinya melahirkan anak laki-laki secara normal.

"Alhamdulillah. Saya bersyukur sekali. Istri saya bisa melahirkan anak kedua kami dengan selamat," ujar Samsul.

Istrinya baru boleh pulang keesokan harinya. Yaitu Senin siang (20/1).

Kali ini perjalanan bisa dibilang lebih berat daripada saat berangkat. Sesampai di Dusun Pangsing hujan turun disertai angin kencang.

Nah, tidak ada pilihan lain selain Siatri harus ditandu. Ibu dua anak itu juga tidak bisa jalan kaki karena kondisi badannya masih lemah setelah melahirkan.

Samsul pun sudah menyiapkan potongan bambu. Dia juga meminjam dua buah kain dari kerabatnya di Dusun Pangsing. Kali ini Samsul tidak sendirian.

Dia dibantu ayah mertuanya dan dua orang tetangganya.

Salah satunya bernama Nuriadi. Sehingga Siatri pun ditandu secara bergantian oleh empat orang. Adapun bayi Siatri digendong oleh ibunya bernama Sumar.

Sambil menandu, Nuriadi berinisiatif mengeluarkan ponselnya lalu mengambil video pendek.

Dalam video itu dia menarasikan kondisi jalan Dusun Meang yang menegaskan sambil menandu orang yang baru melahirkan.

Nah, potongan video itulah yang viral di media sosial. Kondisi makin memperihatinkan karena saat itu hujan cukup deras disertai angin kencang.

"Itu saya yang videokan sambil menandu. Sebenarnya ngga ada maksud agar video itu viral. Ada teman yang posting di grup-grup WhatsApp sehingga jadi viral," tutur Nuriadi.

Cerita menyedihkan tentang ibu melahirkan yang ditandu warga Meang bukan kali ini terjadi. Ketua RT Maskur mengatakan peristiwa serupa kerap terjadi.

Hanya saja tidak ada waktu bagi warga untuk mem-viral-kan kejadian itu.

"Sudah sering begini. Hampir setiap tahun ada (ibu melahirkan yang ditandu, Red). Hanya tidak ada yang di-viral-kan," tutur Maskur.

Tahun 2023 pernah ada kejadian yang lebih miris lagi.

Seorang perempuan bernama Harni bayinya tidak bisa diselamatkan. Sang ibu keburu melahirkan di tengah jalan dan bayinya meninggal dunia.

"Kejadian seperti ini harusnya mengetuk hati nurani para pembuat kebijakan. Kami merasa dianaktirikan. Kami terlalu kecewa sama pemerintah," tegas Maskur.  

Bukan hanya ibu melahirkan. Orang sakit parah juga banyak yang ditandu saat hendak menuju puskemas.

Mereka ditandu saat berangkat maupun pulang dari rumah sakit atau puskemas.

"Karena kalau naik kendaraan jadi tambah sakit. Makanya lebih baik ditandu atau digendong oleh saudaranya," imbuhnya.

Lombok Post pernah merasakan langsung kengerian saat melintasi ruas jalan menuju Dusun Meang, Sabtu lalu (25/1).

Saat itu perjalanan dari Desa Persiapan Pengantap menuju Dusun Pangsing, masih terasa normal.

Jalannya mulus meski badan jalan sempit.

Tapi nyali langsung berubah ciut ketika sampai di pertigaan Dusun Pangsing menuju Dusun Meang. Di sinilah "jalur neraka" itu dimulai.

Jalan tanah dengan kontur  menanjak nan terjal terlihat dari ujung jalan.

Jalan juga masih menyisakan lumpur di beberapa titik akibat hujan. 

Beruntung, aktivis pemuda Dusun Meang bernama Hendrik Pratama bersedia menjemput wartawan koran ini.

Dia mengendarai Honda Revo lawas keluar 2016.

Bodi motor itu sulit terlihat karena dipenuhi percikan lumpur.

"Ini saya pinjam motor Pak RT. Memang biasa dipakai warga lewat jalan ini. Karena nggak sembarangan motor berani lewat sini," ujar Hendrik lalu tertawa lepas.

Dampaknya Harga Panen Anjlok, Para Guru Kesulitan ke Sekolah.

Buruknya infrastruktur Dusun Meang berdampak luas pada berbagai hal.

Mulai urusan pendidikan, kesehatan, hingga perekonomian warga yang mayoritas petani menjadi terpuruk.

Para guru sulit mengajar karena terjebak jalan berlumpur. Sedangkan petani merugi karena harga panen anjlok.

Letak Dusun Meang, Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, sangat terpencil.

Lokasinya terpojok di tepi pantai selatan Pulau Lombok.

Dusun yang didiami sekitar 500 jiwa itu sangat terisolasi karena dipagari gunung dan bukit dari semua sisi.

Sisi selatan langsung berbatasan dengan laut lepas.

Untuk mencapai Dusun Meang bisa ditempuh melalui dua jalur. Yaitu melalui Dusun Pangsing dengan jarak tempuh sekitar 4,5 kilometer.

Satu lagi melalui Dusun Ombol dengan jarak sekitar 5,5 kilometer.

Mirisnya, kedua jalur itu sama-sama mengenaskan.

Saat musim hujan seperti saat ini kondisi jalan hancur lebur.

Sangat tidak layak menjadi akses untuk dilalui manusia.

Karena itulah tidak ada angkutan yang sanggup menembus medan berat itu. Apalagi sambil membawa penumpang.

Lombok Post pernah menjajal dua jalur itu saat berkunjung Sabtu pekan lalu (25/1). Saat berangkat saya memilih melalui jalur Dusun Pangsing.

Di awal perjalanan pengendara langsung dihadapkan dengan kontur jalan yang terjal dan curam.

Semua badan jalan dilapisi tanah liat dan sedikit bebatuan.

"Kalau hujan ini banjir semua. Air dari atas bukit turun sehingga jalan ini seperti sungai," tutur Hendrik Pratama, pemuda Dusun Meang yang menjemput wartawan koran ini.

Beruntung saat berkunjung Sabtu pekan lalu cuaca sedang tidak hujan. Sehingga jalan dari Dusun Pangsing bisa dilalui meskipun dengan menguras energi. Selain jalan berbatu yang terjal dan menanjak, di sana sini juga masih tersisa jalan berlumpur dengan kubangan air. Itu karena Jumat (24/1) sebelumnya terjadi hujan deras.

"Coba kalau hari ini (Sabtu pekan lalu, Red) hujan pasti nggak bisa lewat," ujar Hendrik.

Dari atas motor butut itu saya merasakan guncangan hebat. Badan rasanya seperti dibanting ke atas karena ruas jalan yang bergelombang.

Dalam kondisi seperti itu saya beberapa kali turun dari motor dan jalan kaki puluhan meter.

Di sepanjang jalan saya berpapasan dengan beberapa warga Meang yang juga memilih jalan kaki daripada naik motor.

Pemandangan indah Dusun Meang tampak jelas dari ruas jalan di atas ketinggian bukit ini. Terlihat pantai selatan yang membiru dan deburan ombak menderu-deru di pinggir pantai.

Panorama alam itu makin mempesona dengan pohon kepala yang tumbuh hijau di sana sini.

Keindahan panorama itu seolah menjadi hiburan warga Meang dalam perjalanan menaklukkan medan berat ini.

"Lebih molah te lampak adeng-adeng. Lebih aman. Naik motor sayan te sakit (Lebih baik jalan kaki pelan-pelan. Lebih aman. Kalau naik motor badan sakit semua, Red)," kata Rahman, 53 tahun, salah seorang warga yang ditemui di tengah jalan.

Akses jalan lebih susah lagi kalau melalui Dusun Ombol. Jalannya lebih jauh karena memutar gunung. Bahkan warga harus melewati sungai yang membelah jalan.

Celakanya sungai itu tanpa jembatan penghubung. Sehingga warga harus turun menyeberangi sungai yang cukup dalam dan lebar.

"Kalau sepeda motor pasti nggak bisa lewat. Makanya banyak yang lewat Pangsing kalau musim hujan," tutur Hendrik.

Berbeda ketika musim kemarau. Warga lebih memilih jalur dari Dusun Ombol. Karena kontur jalan agak landai, tidak terjal sebagai jalur Dusun Pangsing.

"Tapi kelemahannya lewat sini (Dusun Ombol, Red) jalan penuh debu. Harus pakai helm untuk lindungi mata," sambungnya.

Kondisi infrastruktur yang memprihatinkan itu membuat aktivitas warga menjadi sangat terganggu.

Para guru, contohnya, sangat kesulitan datang mengajar. Di Dusun Menang ada satu sekolah tingkat sekolah dasar (SD). Yaitu SDN 11 Buwun Mas.

"Kalau musim hujan begini sering guru-guru nggak bisa datang. Bukan karena malas. Tapi karena jalan rusak ini," kata Ruslan, guru SDN 11 Buwun Mas.

Seringkali, tutur dia, sejumlah guru hanya sampai di tengah jalan.

Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah karena terjebak hujan. Sepeda motor mogok tidak bisa jalan karena rodanya terendam kubangan air dan lumpur.

Dalam kondisi begini tidak sedikit guru yang pernah mengalami rantai motor putus.

Akibatnya mereka harus mendorong kendaraannya di sepanjang jalan yang becek dan berlumpur.

"Daripada celaka, ya balik lagi. Percuma cuma gak bisa lewat," tutur Ruslan sambil menerawang.

Kondisi seperti itu, ungkap dia, bukan sakali dua kali. Tapi seringkali terjadi selama musim hujan.

Akibatnya, Ruslan terpaksa menggantikan tugas guru yang lain untuk mengajar di kelas yang berbeda-beda. Maklum dia satu-satunya guru yang tinggal di Dusun Meang. Guru yang lain berasal dari tempat yang jauh. Mulai dari Gerung, Lembar, Mataram, hingga Lombok Timur.

"Semua guru ini PP setiap hari. Makanya harus dimaklumi kalau nggak bisa datang karena rumahnya jauh," ujar ayah 4 anak itu. 

Jika ada guru yang tidak datang karena kendala hujan, Ruslan harus menggabungkan beberapa kelas agar siswa bisa diajar dalam waktu bersamaan.

Misalnya kelas 1 sampai kelas 3 digabung jadi satu kelas. Penggabungan kelas juga melibatkan kelas 4 sampai kelas 6.

Selain terkendala jalan, para guru juga kelelahan karena menempuh perjalanan dengan jarak yang jauh.

Bukan hanya perjalanan menuju sekolah yang butuh perjuangan ekstra. Para guru juga akan kesulitan pulang jika hujan deras.

Mereka harus menunggu jalan kering sampai bisa dilewati sepeda motor. Itu pun lebih banyak dituntun.

Para guru harus pulang bersamaan agar mereka bisa saling bantu mendorong sepeda motor.

"Kalau lagi hujan keluarnya susah. Harus nunggu jalan kering," pungkas pria kelahiran 31 Desember 1970 itu.

Jalan yang rusak parah juga membawa efek berantai bagi petani. Ketua RT Dusun Meang Maskur mengatakan para petani sangat dirugikan karena harga panen menjadi anjlok.

Pengepul atau pengusaha selalu membeli hasil panen di bawah harga pasar.

"Petani seperti saya ini selalu menjerit. Kalau beli bibit dan pupuk mahal. Tapi kalau jual hasil panen murah sekali," ujar Maskur.

Pengepul atau pengusaha tidak mau membeli hasil panen di Meang dengan harga pasar. Pasti lebih murah. Harga Jagung kering, misalnya.

Harga normal di pasaran mencapai Rp 500 ribu per kuintal. Tapi petani Meang hanya dibeli Rp 300 ribu per kuintal.

Itu karena pengusaha harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengangkut barang dari Meang sampai ke jalan raya.

Mereka mengeluarkan ongkos buruh yang tidak sedikit karena faktor jalan rusak.

"Makanya seringkali petani minus. Tapi kami harus tetap kerja meskipun risikonya rugi. Nggak ada yang bisa diharapkan kalau nganggur," tutur Maskur.

Atas dasar itu, warga Meang sangat berharap agar jalan segera diperbaiki.

Kini, anak-anak muda Meang yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Meang (FP2M) getol menyuarakan aspirasi itu. Mereka juga menggandeng Forum Mahasiswa (FM) Lobar.

Agar aspirasi didengar, para aktivis itu aktif menggelar demo ke kantor Bupati Lobar. Mereka juga aktif melakukan audiensi dengan Pemkab dan DPRD Lobar.

"Kami akan tetap berjuang sampai jalan menuju dusun kami diperbaiki pemerintah," ujar Fauzi Aries, tokoh pemuda Meang. (UMAR WIRAHADI/r3)

Editor : Kimda Farida
#Motor #Jalan #Sekolah #Dokter #jiwa #pertolongan #jarak tempuh #neraka #Sekotong #Gotong Royong #Terpencil