Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kiprah Safwan dalam Melestarikan Wayang Sasak, Diundang Unesco dan Aktif Kenalkan ke Generasi Muda

nur cahaya • Rabu, 19 Februari 2025 | 11:06 WIB

 

MELESTARIKAN BUDAYA SASAK: Safwan menunjukkan tokoh-tokoh wayang Sasak hasil kreasinya dalam suatu festival.
MELESTARIKAN BUDAYA SASAK: Safwan menunjukkan tokoh-tokoh wayang Sasak hasil kreasinya dalam suatu festival.
 

Gempuran teknologi dan modernisasi memengaruhi intensitas pertunjukan wayang Sasak di zaman modern.

Kondisi itu membuat Safwan merasa prihatin. Dia ingin wayang Sasak sebagai peninggalan leluhur bisa terus eksis. Safwan menularkan semangat cinta wayang ke para generasi muda di perguruan tinggi.

-----------------

Rumah yang terletak di Dusun Baturimpang Babakan, Desa Badrain, Kecamatan Narmada tidak ubahnya seperti tempat workshop.

Di sana berserakan berbagai alat untuk memahat. Di sampingnya berjejer lembaran kulit yang sudah dikeringkan.

Di atas media kulit itu, tergambar wayang berbagai ukuran.

Selain masih berbentuk pola lukisan, wayang yang sudah dipahat dan digambar juga ada. Tapi masih setengah jadi

”Ini masih harus diselesaikan. Pahatannya belum sempurna,” kata Safwan, sang pemilik rumah.

Dia lalu menunjukkan salah satu karyanya. Yaitu tokoh wayang Jayenrane alias Wong Menak.

Wayang kulit itu sudah dikerjakan Safwan selama dua hari.

Tampilan sang tokoh sudah terlihat gagah dengan ciri khas tubuh yang ramping dan keris terselip di pinggang.

”Ini sudah ada yang pesan. Tinggal finishing di ukiran busana dan wajahnya,” ujar Safwan.

Safwan adalah budayawan pegiat wayang Sasak.

Profesinya sebagai dalang sekaligus pembuat wayang kulit sudah dikenal luas.

Kualitas wayang kulit hasil kreasinya tidak hanya dikenal di Pulau Lombok.

Tapi juga banyak beredar di luar daerah. Seperti Bali, Banyuwangi, Bandung hingga Jakarta.

Selain menjadi hiasan ruangan, wayang ciptaan Safwan juga dibeli banyak kolektor.

Banyak yang diletakkan di galeri untuk dipamerkan. Satu wayang dihargai sampai Rp 800 ribu.

”Rata-rata yang beli ini kolektor,” imbuhnya.

Menurutnya, teknik pembuatan wayang cukup rumit. Sebab keaslian para tokoh wayang harus terjaga.

Pola dan bentuknya harus sama persis. Mulai dari bentuk wajah, busana, ukuran tubuh hingga asesoris yang dikenakan para tokoh wayang. Seperti mahkota dan senjata yang melekat di tubuhnya.

”Sehingga satu tokoh paling cepat bisa jadi empat hari. Kalau bentuknya lebih rumit bisa saminggu baru jadi,” tutur pria 60 tahun itu.

Sebagai dalang, Safwan sudah lama malang melintang. Dia resmi menjadi dalang sejak tahun 2008.

Hingga kini ayah lima anak itu telah diundang mendalang ke berbagai tempat di Pulau Lombok.

Bahkan tidak jarang dia diundang ke luar daerah. Pretasi internasional juga pernah diraih.

Bersama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), Safwan diundang oleh Pusat Pelatihan Internasional Warisan Budaya Tak Benda di Kawasan Asia-Pasifik di bawah UNESCO pada 2024.

Dia juga pentas untuk pertama kalinya di Gedung Seni Nasional Beijing, Tiongkok.

Pementasan wayang Sasak yang berkolaborasi dengan wayang botol itu disaksikan langsung perwakilan seniman dari berbagai negara, seperti Afrika, Brasil, Thailand, Korea, dan Jepang.

”Kami bangga sekali wayang Sasak juga diakui dunia sebagai warisan budaya tak benda Unesco,” terangnya.

Kini, Safwan semakin aktif mengenalkan wayang Sasak ke anak-anak muda. Termasuk di perguruan tinggi.

Dia mengajar di program studi Pendidikan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB.

Dia mengampu mata kuliah pewayangan, pedalangan dan pembayun.

”Dengan cara ini saya ingin menularkan dan tetap melestarikan wayang Sasak kepada generasi muda. Saya tidak ingin wayang ini dilupakan generasi penerus,” tandas pria yang sudah memiliki 7 cucu itu. (Umar Wirahadi/r8)

Editor : Kimda Farida
#Eksis #generasi #perguruan tinggi #Wayang Sasak #kulit #penerus #Lombok