Matahari baru saja mengintip di ufuk timur, ketika kakek ini mulai berjalan.
Dari pinggiran desa, ia mencoba peruntungan di keramaian kota.
-----------------------
GESTURNYA penuh adab. Badan yang sedikit membungkuk, menawarkan kacang-kacang yang dibungkus kertas berwarna putih.
“Rp 5 ribu nak,” jawabnya lembut, menggambarkan kehangatan seorang ayah sekaligus kakek yang berlimpah kasih sayang.
Mustahim (71) tahun. Ia adalah seorang ayah dengan lima anak dan enam cucu.
Ia berasal dari desa di pinggiran Kota Mataram. “Bajur,” terangnya dengan nada lembut.
Sesaat kemudian, ia memamerkan senyum di balik ketegasan garis-garis wajahnya. Saat koran ini menggoda tentang jumlah istrinya.
“Aduh, mana berani (istri banyak), cukup satu,” ucapnya kemudian, dalam bahasa Sasak.
Bukan tanpa sebab koran ini menggodanya. Di usia senja, banyak kakek-kakek yang memilih lepas dari hiruk pikuk dunia dan segala persaingannya.
Kebanyakan mereka tinggal di rumah dan bermain dengan cucu-cucu.
Tapi Mustahim memilih berjalan belasan kilometer dengan pikulan yang membawa dua keranjang berisi kacang rebus dan jajan tradisional lepet.
Kerja keras di usia senja itu, seperti menggambarkan tanggungan keluarga yang masih banyak.
Tapi, Mustahim mengatakan, bebannya sebagai orang tua untuk menyekolahkan anaknya telah ditunaikan.
Lima anaknya -- sesuai kemampuannya -- telah ia sekolahkan hingga lulus SMA.
Satu-satunya alasan ia masih berjalan belasan kilo, selain urusan dapur yakni tak tega melihat cucunya pulang dengan tangan hampa.
“Saya hanya tak tega melihat cucu-cucu saya datang minta uang, dan saya tidak punya uang,” ucapnya dalam.
Dulu, sebelum punya cucu, ia tak tahu bagaimana rasanya menjadi kakek. Ia hanya sering mendengar jika banyak tetangga dan kerabat yang mengatakan: ‘kasih sayang ke cucu lebih besar pada anak’.
Kini, ia baru paham, ternyata perkataan itu benar adanya.
“Kalau anak minta uang, saya masih bisa bilang ‘nanti atau besok’, tapi kalau cucu yang minta, rasanya perih di dada kalau tidak bisa memberikan uang saat itu juga,” tuturnya.
Dengan alasan itulah, ia rela berjalan belasan kilo. Berkeliling kota, menjual kacang rebus dan jajan lepet.
“Pagi hari saya sudah keluar, anak saya yang kerja di ojek online antar saya sampai Gomong,” terangnya.
Setelah itu, ia akan mulai berkeliling dari lingkungan ke lingkungan, kelurahan ke kelurahan, hingga antar kecamatan.
Bagi Mustahim yang telah terbiasa berjualan dengan jalan kaki, perjalanan itu tak terlalu menguras tenaga.
“Mungkin karena sejak muda saya sudah biasa jualan keliling, dulu saya jualan kerupuk udang,” tuturnya.
Ketika ditemui Mustahim telah sampai di Kantor Wali Kota Mataram. Setelah sebelumnya, berkeliling dari lingkungan ke lingkungan mulai dari Gomong.
“Nanti mungkin terus ke timur,” ucapnya.
Hanya langkah kaki yang bisa menjawab, kapan ia harus berhenti dan kembali pulang. Tak jarang, Mustahim mendapati malam ketika dagangan belum laku semua.
“Kalau pegal, ya istirahat setelah itu lanjut lagi jualan,” ucapnya.
Jika tidak kuat lagi berjalan, ia baru akan mengontak anaknya untuk dijemput.
“Ada handphone (bukan smartphone, Red) model jadul yang saya gunakan,” ucapnya.
Mustahim mengungkapkan sangat menikmati pekerjaan jualan keliling itu. Ia akan terus berjualan keliling hingga kakinya tak sanggup lagi berjalan.
“Saya tidak terlalu suka jualan di pasar, saya lebih suka sambil jalan,” terangnya.
Dalam jejak langkah yang ditempuh, ia menemukan kenikmatan di setiap tempat yang dilalui.
“Jika dibanding jualan di satu tempat, lebih suka jalan karena bisa melihat-lihat banyak tempat,” ucapnya.
Kegemarannya berjalan kaki telah membuat Mustahim terlihat lebih muda dari usianya. Begitu juga tenaganya yang terlihat masih bugar.
Mustahim, bersyukur meskipun bukan orang berada, tapi hidupnya dijauhkan dari berbagai penyakit. “Jarang (sakit),” ucapnya.
Ia juga mengatakan pendengaran dan penglihatan masih sangat baik. Berbeda dengan kakek-kakek seusianya yang mulai rabun atau pendengaran menurun.
Mustahim mengungkapkan, meski secara ekonomi di bawah rata-rata, namun hingga saat ini ia belum pernah merasakan manfaat dilindungi negara.
Ketika banyak orang di sekitarnya mendapatkan bantuan berbagai macam jenis bantuan sosial dari pemerintah pusat sampai daerah, ia selalu terlewat.
“Katanya saya terlewat, saya juga tidak mengerti,” ungkapnya, masygul.
Mustahim, tak begitu paham maksud para pejabat itu yang menyebut dia tidak masuk pendataan. Ia hanya tahu, ia tak mendapat bantuan apapun.
“Tapi alhamdulillah kalau laris semua dagangan saya, saya bisa pulang bawa Rp 200 ribu, untuk istri dan cucu,” ucapnya penuh syukur. (Lalu Mohammad Zaenuddin/r7)
Editor : Kimda Farida