Di bulan Ramadan yang penuh berkah, Sunset Land yang dulunya hanyalah gundukan pasir, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata yang memukau. Pantai di Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram ini menawarkan pemandangan senja yang tak tertandingi menjadi "sunset point" unggulan dan tempat ideal untuk ngabuburit.
-------------------
Di bulan Ramadan yang penuh berkah, Kota Mataram bermetamorfosis menjadi panggung keindahan, di mana senja menjadi bintang utamanya. Di antara gemerlap lampu kota dan suara ombak yang berdebur, Sunset Land hadir sebagai primadona, menawarkan kombinasi sempurna antara pesona alam dan kehangatan kebersamaan.
Terletak tak jauh dari Pantai Loang Baloq, Sunset Land bukan sekadar pantai biasa. Deretan kafe berpadu harmonis dengan hamparan pasir dan deburan ombak, menciptakan suasana ngabuburit yang tak terlupakan. Pengunjung dimanjakan dengan pilihan tempat duduk yang beragam, mulai dari bean bag warna-warni yang nyaman hingga kursi-kursi kayu yang menghadap langsung ke laut.
"Selama Ramadan, Sunset Land mengalami peningkatan pengunjung yang signifikan," ungkap Budi Irawan, pengelola Sunset Land.
“Kami menyesuaikan jam operasional dengan membuka gate parkir pada pukul 15.30 Wita, dan pengunjung mulai memadati area pantai menjelang waktu berbuka,” tambahnya.
Budi menjelaskan bahwa kafe-kafe di Sunset Land telah berinovasi dengan menambahkan fasilitas rooftop, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan senja dari sudut pandang yang lebih tinggi.
“Pengunjung selalu memadati rooftop, terutama saat akhir pekan dan hari libur. Kapasitas parkir kami pun seringkali kewalahan," imbuhnya.
Lebih dari sekadar tempat ngabuburit, Sunset Land telah bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berkumpul dan berbagi kebahagiaan. "Kami berharap, Sunset Land dapat terus menjadi ikon wisata yang membanggakan bagi Kota Mataram,” harapnya.
Musim penghujan yang melanda beberapa waktu terakhir membawa dampak signifikan, abrasi menggerus tepian pantai, mengancam keberlangsungan usaha para pedagang. "Sekarang kondisinya agak tergerus, nanti beberapa minggu balik lagi," ujar Budi dengan nada prihatin namun tetap optimis.
Ia menjelaskan bahwa abrasi adalah fenomena langganan yang sudah mereka hadapi sejak lama. “Ini bukan hal yang mengagetkan bagi kami. Tapi, tentu saja, kondisi ini membuat beberapa pengunjung merasa khawatir, dan kafe-kafe pun menjadi karut marut,” terangnya.
Dampak abrasi tak main-main, penurunan pengunjung mencapai 80 persen dalam beberapa hari. Namun, semangat para pedagang tidak luntur. Mereka tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi pengunjung, terutama di bulan Ramadan. “Sepi sudah kalau gitu,” ucapnya.
Di media sosial, sudah banyak yang mulai booking untuk buka bersama di 13 kafe yang ada. Ini menunjukkan bahwa Sunset Land tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk ngabuburit.
Pesona Sunset Land tidak hanya memikat warga lokal, tetapi juga wisatawan dari berbagai daerah. Naya, seorang pengunjung dari Bandung, mengaku terkesima dengan pengalaman ngabuburitnya di sini.
“Suasananya asyik, duduk di bean bag, melihat matahari terbenam, sambil menunggu adzan maghrib. Ini adalah cara terbaik untuk menghabiskan sore di bulan Ramadan,” ujar Naya dengan antusias.
Naya bercerita bahwa ia mengetahui Sunset Land dari unggahan teman-temannya di media sosial. “Foto-foto senjanya sangat indah, jadi saya penasaran dan memutuskan untuk datang langsung," katanya.
Selain menikmati pemandangan senja yang memukau, pengunjung Sunset Land juga dapat memanjakan lidah dengan berbagai hidangan lezat yang ditawarkan oleh kafe-kafe di sepanjang pantai. “Pilihan makanannya sangat beragam, mulai dari hidangan laut hingga makanan ringan," ujar Naya.
Namun, di balik keindahan senja dan kehangatan kebersamaan, Sunset Land menyimpan cerita tentang perjuangan dan ketahanan. Sunset Land, dengan segala keindahan dan tantangannya, tetap menjadi destinasi yang istimewa di Kota Mataram.
Tempat ini bukan hanya tentang menikmati senja, tetapi juga tentang merayakan kebersamaan dan ketahanan di tengah perubahan alam. Di sini, keindahan alam berpadu dengan semangat juang masyarakat. (SANCHIA VANEKA/r3)
Editor : Jelo Sangaji