Pantai Tanjung Bias di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat menjadi salah satu lokasi yang ramai dikunjungi warga sebagai tempat menunggu waktu berbuka di bulan puasa. Salah satu yang menarik di pantai ini adalah pengunjung bisa menunggu azan magrib sembari menunggang kuda.
------------------------------
SORE itu Hairul terlihat berjalan di sepanjang pesisir pantai Tanjung Bias bersama seekor kuda putih. Kuda itu berukuran tanggung. Tidak terlalu tinggi. Tidak juga terlalu pendek. Sepertinya memang disiapkan untuk membuat anak-anak nyaman menungganginya. Tapi juga tidak menjadi masalah ditunggangi orang dewasa.
Hairul sendiri adalah seorang warga Batulayar yang menyewakan kuda putihnya untuk ditunggangi pengunjung. Terutama anak-anak. Ia memastikan kuda putih tanggung itu aman untuk ditunggangi. Tak hanya itu, kuda putih itu juga sangat bisa ditunggangi orang tua dan anaknya sekaligus.
“Rp 30 ribu satu orang. Jalan bolak-balik di pesisir Tanjung Bias ini,” kata Hairul pada Lombok Post sembari berjalan ke pengunjung yang mungkin saja tertarik menunggangi kudanya.
Sekitar satu jam sebelum azan magrib berkumandang, Hairul mengaku sudah mendapatkan dua orang pelanggan. Kata dia, dalam sepekan terakhir jumlah pengunjung menurun. Hal itu disebabkan oleh kondisi cuaca. Hujan disertai angin kencang membuat pengunjung tak bisa menikmati keindahan pantai.
“Ini air laut juga naik. Biasanya enak naik kuda kalau air laut surut dan ombaknya tidak besar seperti ini,” terang Hairul.
Di hari-hari biasa, sebelum cuaca membuat keadaan memburuk, para pengunjung menikmati sore yang indah di Tanjung Bias. Kuda putih miliknya yang sudah jinak dan ramah juga siap ditunggangi manusia itu bahkan terkadang kewalahan melayani orang tua yang ingin segera melihat anaknya menunggang kuda.
“Jadi sembari menunggu magrib, orang tua menemani anaknya berkuda. Jadi tidak terasa juga, tiba-tiba waktu berbuka sudah tiba,” jelasnya.
Memang kuda putih ini tak khusus dihadirkan di bulan suci Ramadan. Di bulan-bulan lainnya, bahkan setiap hari, Hairul tetap di sana menawari kuda putih tanggungnya. Namun berbicara bulan suci Ramadan, Hairul merasa selalu ada yang berbeda. Ia tak mengatakan itu berkah, namun mungkin lebih dari itu.
“Sulit dijelaskan. Tapi suasana di bulan Ramadan memang selalu berbeda,” terangnya sambil memastikan seorang anak yang tengah menunggangi kudanya salam keadaan baik-baik saja.
Di Tanjung Bias, selain kuda yang bisa ditunggangi, warga juga bisa menikmati berbagai hidangan kuliner di puluhan lapak pedagang. Di bulan suci Ramadan, hampir semuanya menyiapkan hidangan khusus berbuka. Tapi mereka juga tidak menutup akses siapa saja yang hanya datang menikmati suasana pantai untuk menunggu waktu magrib tiba.
Tak jauh dari tempat Hairul menawarkan sewa kuda putih berukuran tanggungnya, pemilik Kedai Pandan bernama Ramli Ahmad, 38 tahun, tengah duduk santai menunggu pengunjung. Kata Ramli, sudah beberapa hari angin kencang menyapu atap sejumlah atap.
“Di pertengahan puasa, biasanya pengunjung sangat ramai. Kebanyakan dari mereka datang bersama kerabat dan keluarga untuk berbuka puasa bersama. Di sini memang suasananya bagus sekali. Tapi lihat sendiri sekarang, ombaknya besar. Angin juga kencang. Ini banyak lapak yang rusak juga,” ujar Ramli.
Cuaca buruk juga berpengaruh pada sajian seafood yang dihidangkan. Kata Ramli, dalam dua hari terakhir, karena tangkapan berkurang, ia jadi terpaksa menjual ikan air tawar seperti nila. Juga ayam dan bebek.
“Ini sedang sepi sekali. Karena cuaca ini. Pengunjung merosot drastis sekali. Karena cuaca ini juga, kemarin atap lapak saya roboh. Tapi sudah saya perbaiki. Itu disamping saya ambruk semuanya. Di Tanjung Bias 1 juga banyak yang kondisinya parah karena tertimpa angin kencang,” jelasnya.
Kalau sedang ramai, pengunjung yang ingin berbuka puasa di pantai itu harus memesan lebih awal. Kalau sore kemungkinan besar sudah tidak bisa dilayani. Namun sore itu, Ramli terlihat belum mendapatkan satu pun pelanggan.
Dari beberapa pengunjung, terutama wisatawan asing, Ramli mengatakan mereka sering menyamakan suasana Tanjung Biasa seperti Sanur di Bali.
“Ya, banyak yang mengatakan ini sanurnya Lombok. Tapi kalau musim hujan angin dan air laut naik begini, memang sampahnya jadi banyak. Kita bersihkan, tak lama kemudian ada lagi yang datang. Kalau cuaca bagus, pantai ini bersih sekali,” terang Ramli.
Seperti yang disampaikan Ramli, kondisi Tanjung Bias sore itu memang sedang sepi. Di area lapaknya hanya terlihat beberapa pemuda sedang menunggu waktu berbuka dengan foto bersama. Mereka terlihat tidak ingin memesan apapun. Hanya menunggu waktu azan tiba dan sepertinya akan pulang ke rumah masing-masing untuk berbuka.
Salah seorang pengunjung bernama Karta dari Lombok Tengah mengatakan datang bersama keluarga untuk berbuka bersama. Ia memilih Tanjung Bias karena tahu tempat itu memiliki suasana yang nyaman. Kendati selama ini lebih sering atau bahkan selalu berbuka puasa di rumah, Karta mengaku sangat menikmati suasana di pantai itu.
“Ya suasana pantai pada umumnya sama saja. Tapi tempat ini menjadi favorit juga,” kata Karta.
Kendati tidak banyak spot foto yang disedikan, namun latar langit merah muda jelang matahari terbenam menjadikan Tanjung Bias sebagai salah satu tempat menarik untuk ngabuburit. Faozan, 16 tahun, remaja asal Lombok Barat mengaku sering berkunjung bersama teman-temannya selama bulan puasa.
“Terkadang hanya datang menikmati matahari terbenam seperti hari-hari biasa. Tapi beberapa kali juga memilih berbuka bersama di sini. Tapi akhir-akhir ini memang mulai jarang karena cuaca,” kata Faozan. (Fatih Kudus Jaelani/r3)
Editor : Prihadi Zoldic