FERIAL AYU, Lombok Utara
Krisna, nama panggilannya, mengenal biliar ketika tinggal bersama keluarganya di Denpasar, Bali. DiA sangat suka dengan permainan tersebut. Hampir setiap hari, dia belajar mendalami permainan biliar di waktu-waktu senggang.
Hingga akhirnya, pada 2015 keluarganya memutuskan untuk membuka tempat permainan biliar enam meja. Tempat tersebut kerap didatangi banyak atlet biliar, yang membuatnya semakin semangat mengasah kemampuan.
Beranjak dari sana, pria 36 tahun ini tidak hanya sekedar mengasah bakat. Bergabung dengan komunitas atlet biliar, dia pun mulai mencoba keahliannya dengan ikut dalam sejumlah turnamen. Mulai dari turnamen skala hingga besar skala lokal yang digelar di daerah tempat tinggalnya saat itu.
“Turnamen yang saya ikut itu adalah turnamen bola-bola kecil itu, turnamen open dan teman-teman sering ikut di sana, dan sekarang sudah ramai yang bola besar,” terangnya.
“Lumayan sering menang dan juga kalah, namanya juga pertandingan, pasti ada kalah ada menangnya,” imbuhnya.
Namun pada 2020, tempat permainan biliarnya ditutup karena pandemi Covid-19. Pengunjung yang sepi ditambah pemberlakuan PPKM saat itu juga menjadi salah satu pendorong. Semua fasilitas biliarnya dijual semua. Akhirnya, Krisna dan keluarga pun memutuskan untuk pindah ke Lombok.
“Biliar ini kan sampai malam, di sana hanya bisa sampai jam 7, kan PPKM, tidak boleh ada ramai-ramai,” kenangnya.
Setelah pindah ke Lombok Utara, ketika pandemi Covid-19 berakhir, dirinya tertarik membuka usaha tempat permainan biliar. Apalagi di kabupaten termuda di NTB itu belum ada tempat bermain biliar. Hingga akhirnya, dirinya membuka kembali usaha tersebut meski tidak sebesar sebelumnya di Denpasar.
“Selain untuk menyalurkan hobi dan mengasah bakat, juga untuk melihat bibit-bibit pemain profesional yang bisa dijadikan atlet, di KLU belum ada atletnya,” jelas pengelola Kolanta Biliar Lombok Utara ini.
Baca Juga: Cerita Gde Nitya Premananda Cuan Dari Billiar, Berawal dari Hobi kini Jadi Atlet Profesional di NTB
Hingga saat ini, Krisna masih kerap ikut dalam berbagai turnamen yang digelar. Dikatakannya, pertandingan biliar ini merupakan ajang yang bergengsi. Saingannya pun hebat-hebat dan kelas jam terbangnya jauh lebih tinggi darinya.
Dalam turnamen biliar, kata Krisna dibagi menjadi beberapa kelas. Ada kelas HC 3, 4, 5, 6, hingga 7. Setiap kelas memiliki tingkat permainan berbeda. Semakin tinggi kelasnya, semakin hebat permainannya. Hadiahnya pun mulai dari belasan hingga ratusan juta.
“Saya ikut yang bola kecil (kelas HC 3-4) karena di sini belum ada fasilitas bola besar, ini yang kita dorong ada dukungan untuk itu di sini,” ujarnya.
“HC 5-7 itu kelasnya internasional, sudah Sea Games,” tambahnya.
Ikut turnamen biliar, kata Krisna tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan kesiapan mental, ketenangan dan skill yang terasah. Jika salah satunya tidak ada, maka akan sulit untuk meraih kemenangan.
“Hal yang harus disiapkan sebelum turnamen adalah stiknya, ini karena banyak macam modelnya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus latihan setiap hari minimal tiga jam,” jelasnya.
“Jangan melakukan hal-hal negatif seperti minum minuman keras, apalagi judi, fokus saja berolahraga,” tegasnya.
Latihan yang konsisten dan rutin, akan membuat hasil turnamen lebih maksimal. Selain itu, paling penting adalah kesiapan mental. Mental yang jatuh bisa menjadi penyebab kekalahan meski pemainnya jago sekalipun.
“Kalau sudah jatuh mental seberapapun pintarnya orang main, pasti akan kalah karena tidak akan masuk bola itu, apalagi ketika saat genting dan saya pun masih sering mengalami itu, padahal sedikit lagi akan menang,” terangnya.
Sebagai permainan olahraga yang sedang digandrungi, dia berharap KONI Lombok Utara mendukung dengan menyediakan fasilitas. Mulai dari meja dan stik, hingga pembentukan cabor, karena selama ini belum ada cabornya.
“Sama teman atlet itu sudah ajukan di KLU untuk cabornya supaya ada, tapi memang sekarang belum ada kabar. Minimal ketika ada turnamen, ada wakilnya dari KLU, apalagi saya lihat peminat banyak ternyata di sini,” bebernya.
“Teman saya ikut melalui Mataram, dapat perunggu dan perak, kalau ada cabor dan fasilitas di KLU bakal keluar dari Mataram dan mewakili KLU,” bebernya.
Lebih lanjut, di sela-sela kesibukannya mengelola usaha biliar, Krisna juga mencoba melihat potensi-potensi anak muda di Lombok Utara. Dia memiliki semangat dan cita-cita agar biliar ini membawa hal positif bagi masyarakat, terutama anak muda.
Sebab itu dirinya tidak pernah sungkan untuk membagikan pengetahuannya tentang biliar pada siapapun. Baik itu generasi muda atau pun tua. “Rata-rata anak muda di sini senang main biliar, mereka sampai rela mengantre,” katanya.
“Ini menjadi wadah untuk mencari bibit-bibit pemain profesional dan atlet yang akan mengharumkan nama daerah nantinya,” tandasnya. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post