Ritual Nyalamaq Dilauk atau Selamatan Laut merupakan upacara adat masyarakat pesisir Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur.
Ritual ini digelar sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas kekayaan alam yang harus dijaga kelestariannya.
SIANG menjelang sore, langit di pesisir pantai Tanjung Luar nampak bersih dan cerah. Angin laut berhembus sedikit kencang menerpa wajah ratusan warga yang datang menghadiri acara Fesitval Bahari Nyalamaq Dilauk.
Para tokoh masyarakat Desa Tanjung Luar yang terdiri dari berbagai suku terlihat bersiap menyambut kedatangan Bupati Lombok Timur Haerul Warisin.
Di sebuah rumah adat, musik tradisional masyarakat pesisir mengalun keras. Satu per satu perempuan kedongkoang (kesurupan, red) berdatangan dengan tarian khas kedongkoang. Ada yang datang dengan mengejutkan dari kerumunan warga, ada juga yang datang dengan persiapan khusus dari pantai.
Suasana itu merupakan rangkaian dari pembukaan Festival Bahari Nyalamaq Dilauk. Kali ini, pembukaan festival bahari di Tanjung Luar untuk pertama kalinya dihadiri oleh bupati Lombok Timur. Rangkaiannya, selain membuka kegiatan, Bupati Lombok Timur Haerul Warisin juga diminta untuk mengikuti kegiatan awal ritual, yakni ngaririk kerbau atau mengarak kerbau yang dihias dan dimantrai.
Ketua bidang kebudayaan Lembaga Adat Desa Tanjung Luar Muhammad Saifullah menerangkan, ritual Nyalamaq Palabuang/Nyalamaq Dilauk merupakan tradisi masyarakat nelayan yang telah berlangsung sejak 1907.
Rangkaian acaranya berupa pawai alegoris penuh makna. Sebagian warga di bawah komandan Sandro (pemimpin prosesi upacara adat, red), membawa kerbau berhias keliling-desa atau yang disebut ngalipu'.
“Nantinya, kerbau berhias ini akan disembelih pada malam atau sore hari menjelang acara puncak yakni acara malagga' tikolo' atau melarung kepala kerbau ke laut,” jelasnya.
Dalam pawai tersebut, kerbau berhias diiringi perempuan pembawa ‘Jajakah’ Pangalantiq, Bone-Bone, Pasarone/ pagandah, benda pusaka bujjak, dan perempuan ‘kedongkoang’ (kesurupan, red).
Sejarah Awal Ritual
Saifullah menerangkan, dalam sebuah buku karangan W. Cool yang berjudul De Lombok Expeditie, terdapat peta Pulau Lombok termasuk Lombok Timur. Dalam peta tersebut tercantum nama sebuah pelabuhan yaitu Baai van Pidjoe. Pelabuhan ini lebih besar dari pelabuhan Labuan Tering di Lombok Barat.
Baai van Pidjoe adalah desa Pijot yang sekarang dan Labuan Tering adalah pelabuhan Lembar. “Berarti Baai van Pidjoe atau Teluk Pidjoe merupakan sebuah teluk yang cukup luas, dan di luarnya tentu ada tanjung. Itulah Tanjung Luar,” terangnya.
Karena pelabuhan Pidjoe merupakan pelabuhan yang ramai, pemerintah kolonial Belanda mendirikan kantorDouanne di tanjung tersebut. Warga desa menyebutnya Bale Boom. Itulah yang mereka sebut Palabuang.
“Selamatan laut ini dimulai sejak berdirinya Douanne tersebut. Acara puncak Selamatan Laut ini adalah pelepasan kepala kerbau (malaggak tikolok) ke laut, tepat di atas terumbu karang cincin yang jaraknya kira-kira 150 meter dari Palabuang tersebut ke arah Tenggara. Karena keramaiannya ada di depan Palabuang, maka disebutlah Nyalamaq Palabuang,” jelasnya.
Kapankah pelabuhan Baai van Pidjoe dibangun? Saifullah menerangkan belum ada dokumen otentik tentang itu. Namun dari peta yang tercantum dalam buku karangan W.Cool yang terbit tahun 1896, bisa diperkirakan kalau pelabuhan tersebut dibangun sekitar tahun 1880-an. Sejak pelabuhan itu ramai, mulailah berdatangan penduduk Sulawesi ke Pulau Lombok untuk berniaga. Nelayan pun makin bertambah karena kebutuhan ikan laut makin meningkat juga.
Suku Bajo memilih Dusun Toroh sebagai tempat tinggal mereka. Warga suku Makassar, Bugis memilih Dusun Koko yang dahulu namanya Dusun Uma sedangkan para pejabat pemerintah memilih dusun Kampung Warak sebagai tempat tinggal mereka. Warga suku Mandar bermukim di Pijot dan Kampung Baru.
Maka dikenal Dusun Toroh adalah Dusun Nelayan, Dusun Koko adalah dusun para kiai/ agamawan, dan dusun Warak sebagai dusun tempat tinggal para pejabat pemerintah.
“Untuk mempersatukan warga suku Bajo perantauan, maka upacara Nyalamaq itupun digelar. Suku Bajo menampakkan jati diri mereka di pesisir Lombok Timur. Maka para Sandro dan pelaku upacara pun semuanya dari suku Bajo. Sekarang suku yang lainnya beradaptasi,” paparnya.
Pertama Kali Dibuka Bupati
Bupati Lombok Timur Haerul Warisin membuka Festival Bahari Nyalamaq Dilauk. Haerul Warisin dalam sambutannya mengapresiasi masyarakat nelayan Desa Tanjung Luar yang sampai saat ini masih menjaga tradisi dan budaya leluhur mereka dengan melestarikan ritual ‘nyalamaq palabuang atau nyalamaq dilauk’. Festival tersebut diharapkan dapat terus berlangsung dan menjadi salah satu ikon pariwisata budaya di Lombok Timur.
“Dengan apa yang pemerintah kabupaten Lombok Timur saksikan saat ini, kami atas nama pemerintah mengucapkan terima kasih pada warga Desa Tanjung Luar. Ini adalah kegiatan yang patut dikembangkan dan dipromosikan,” kata Haerul Warisin.
Dalam kesempatan yang sama, Haerul Warisin juga menegaskan akan memberikan membantu masyarakat dalam upaya melestarikan tradisi leluhurnya. Apalagi hal itu menjadi potensi yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Ketua Panitia Festival Nyalamaq Dilauk Abbas Hasan menuturkan ucapan terima kasih pada bupati Lombok Timur yang secara khusus menyempatkan diri menghadiri event tersebut.
Ia menerangkan, event tersebut akan berlangsung selama 7 hari 7 malam. Dimulai dengan kegiatan pembukaan dan ritual ngaririk kerbau, sampai dengan ‘malaga tikolo’ atau melarung kepala kerbau di laut.
“Ada juga lomba hias sampan, siram-siraman, pencak silat, dan hiburan musik tradisional dan modren, juga drama kolosal,” terang Hasan.
Ritual Harus Terjaga
Di ritual ngaririk kerbau atau mengarak kerbau keliling kampung, sampai menjelang matahari terbenam, kerbau yang diarak berhenti di tengah jalan. Kata Abbas, entah mengapa kerbau tersebut memilih menolak untuk kembali ke pantai. Dalam aturan adatnya, kegiatan ngaririk harus diulang kembali sampai kerbau mengelilingi kampung dengan sempurna, dari titik di arak, sampai kembali ke titik semula. “Ya, jadinya harus diulangi,” kata Abbas.
Lantas bagaimana jika kerbau ‘persembahan’ ini tak kunjung sempurna mengelilingi desa? akankah ritual akan berlangsung lebih lama?
“Kita lihat besok. Yang jelas pelarungan kepala kerbau ditunda dari hari Sabtu ke hari Minggu,” tutupnya menyisakan sejumlah tanya. (Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur/r3)
Editor : Pujo Nugroho