SANCHIA VANEKA, Mataram
Suasana tegang bercampur antusiasme terasa di lantai tiga ruang Brida Kota Mataram, tempat berlangsungnya Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat sekolah.
Di tengah riuh rendah persiapan, terlihat Diana Naloa Ulma, siswi kelas XII IPA MAN 1 Mataram, bersama dua kawan laki-lakinya, Ibnu Malik Al Achmad dan M. Rio Huzair. Tangan-tangan mereka cekatan mengatur beberapa kabel kecil yang tertata rapi di atas dua rangka mesin miniatur berbahan kardus.
Sesekali, mereka menguji coba mesin mungil tersebut, memastikan semuanya berjalan lancar sebelum tiba giliran presentasi.
"Jadi kita mau menawarkan solusi ini," ujar Diana dengan nada penuh keyakinan, menunjuk pada Smart Composting Bin, nama alat pemilah sampah otomatis yang mereka ciptakan.
Baca Juga: Matsama MAN 1 Mataram Usung Madrasah Ramah, Cegah Bullying Sejak Awal
Bagi Diana dan tim, alat ini bukan sekadar proyek lomba, melainkan tawaran nyata untuk mengatasi persoalan sampah yang kian serius di Kota Mataram, baik sampah organik maupun non-organik.
Inovasi Diana bukan tanpa tantangan. Ia mengaku, riset tentang alat pemilah sampah otomatis sebenarnya sudah banyak dilakukan. Namun, Diana dan timnya mencoba melangkah lebih jauh dengan mengembangkan sistem komposting terintegrasi.
"Sebenarnya sudah banyak penelitian terdahulu mengenai alat ini, tetapi dirinya kembangkan dengan kompostingnya," jelasnya.
Prinsip kerja Smart Composting Bin cukup cerdas. Sampah organik yang terdeteksi secara otomatis akan dicacah atau dikompos. Proses pencacahan ini mengubah sampah menjadi kompos yang siap pakai sebagai pupuk.
“Jadi dia bakalan otomatis dikompos dan kemudian jika diambil dia akan langsung jadi pupuk," tambahnya.
Mesin ini dilengkapi dengan dua bilik instalasi dan dua sensor utama, atau "decision", seperti yang Diana sebut. Bilik pertama dikhususkan untuk sampah organik, menggunakan proximity kapasitif untuk deteksinya.
Sementara itu, bilik kedua didesain untuk sampah logam, dengan memanfaatkan proximity induktif. Menariknya, kedua sensor ini dibantu oleh proximity infra merah yang berfungsi sebagai "decision yang salah". Sensor ini akan mendeteksi jika ada kesalahan dalam pemilahan dan secara otomatis memutar arah alat.
Diana menunjukkan bagaimana mesin bekerja. Sehelai daun dimasukkan ke dalam bilik organik, dan seketika mesin berbunyi layaknya heler, mencacah daun tersebut menjadi kompos. Begitu pula dengan sampah logam, sebuah sendok besi dengan mudah terdeteksi dan diarahkan ke bilik yang sesuai.
Perjalanan menciptakan Smart Composting Bin ini tidaklah mulus. Sebelum mencapai desain final, Diana dan timnya sempat mengalami kegagalan. Percobaan awal mereka selama tiga minggu menghasilkan mesin pengolah sampah yang ternyata salah.
Mesin tersebut menggunakan infra merah yang, di luar dugaan, mendeteksi semua warna, padahal tujuan utama alat adalah menganalisa komponen mana yang dapat dipilah dan dicacah menjadi kompos.
Baca Juga: Alfariqi, Siswa MAN 1 Mataram Terbaik Lomba Speech Tingkat Nasional
"Jadi ini kurang maksimal untuk dilakukan pengolahan sampah," kenangnya.
Selain itu, alat pertama mereka juga tidak dapat mendeteksi semua gas yang ada di dalam sampah organik, membuatnya tidak efektif untuk pemilahan. Dari kegagalan inilah mereka belajar dan menganalisa ulang, hingga akhirnya memutuskan untuk menggunakan proximity sebagai sensor utama.
Dengan tekad yang kuat dan semangat kolaborasi, Diana, Ibnu, dan Rio berhasil mewujudkan Smart Composting Bin. Karya ini bukan hanya bukti kecerdasan mereka, tetapi juga harapan baru bagi pengelolaan sampah di Kota Mataram.
Editor : Redaksi Lombok Post