Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Logo MU Punya filosofi Kesetiaan dan Kegigihan, Manchester United “Buka Cabang” di Kantor Desa dan Warung Soto

Lombok Post Online • Senin, 22 September 2025 | 12:30 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Orang-orang di balik logo dan nama Manchester United di pemerintahan Desa Kleteran, Kabupaten Magelang, dan warung soto di Kabupaten Sidoarjo tumbuh di masa kejayaan klub Inggris tersebut.

Ini cara mereka merawat kesetiaan, meski risikonya dirundung karena klub kesayangan tengah terpuruk. 

Kata Ferguson Sidoarjo, Mungkin Saya Perlu Turun Lagi Gantikan Amorim.

MANCHESTER United (MU) memang belum pernah menjuarai lagi Premier League Inggris atau Liga Champions setelah Sir Alex Ferguson meninggalkan kursi kepelatihan pada 2013.

Ini menjadikan banyak pendukungnya merasa tinggal di gua lebih menyenangkan ketimbang jadi sasaran empuk perundungan.

Tapi, pada akhirnya, siapa bisa melawan memori kolektif tentang klub yang pernah sangat dominan di Premier League, serta berjaya pula di Eropa dan dunia sepanjang 1990-an sampai pertengahan paro kedua dekade 2000-an?

Jadi, di Timbuktu atau Nagoya, di Pamekasan atau Gibraltar, tak usah heran kalau kemudian Anda banyak menemukan orang seperti Tri Asmoro, seorang kepala dusun di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, atau Suroso, seorang pemilik kedai soto ayam di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Orang-orang yang tumbuh dan mencintai MU di masa kejayaan di bawah Ferguson. Dan, merawat loyalitas mereka sampai sekarang dalam beragam bentuk, dengan segala risiko.

Tri, kepala dusun Kleteran, menggagas logo untuk pemerintahan desanya yang mirip dengan logo klub berjuluk The Red Devils atau Setan Merah tersebut. Suroso dengan yakin menamai warung sotonya "Manchester United".

“Walaupun sekarang lagi fase-fase terpuruk, mayoritas perangkat desa di sini masih mendukung MU apa pun yang terjadi,” kata Tri kepada Radar Magelang Grup Jawa Pos, Kamis (18/9) pekan lalu.

Diejek? Hehehe tidak ada artinya bagi Suroso. “Namanya permainan, kalah menang itu sudah biasa. Mental baja saya,” kata pria yang dijuluki Rawit Ferguson itu kepada Jawa Pos Jumat (19/9) pekan lalu.

Iseng dan Memori Final 1999

Tri tentu tak mengira logo Desa Kleteran yang meniru logo MU itu bakal seramai sekarang, menjadi sorotan di berbagai platform. Lha wong, ide awalnya iseng saja.

Logo tersebut ditempelkan di dua area: pada bagian meja pelayanan dan pada bagian pintu gerbang kantor Desa Kleteran.

“Itu kan awal mulanya cuman iseng, untuk mengisi tempat kosong di sisi kiri pintu gerbang yang tadinya pudar. Koordinasi dengan perangkat desa lain yang sebagian besar pendukung MU, kok nemunya logo ini (MU) seperti itu,” kenang Tri, seraya tertawa.

Logo itu sebenarnya bukan logo resmi Kleteran, hanya logo internal desa.

Cuma digunakan sebagai visual di balai desa, tidak untuk penggunaan resmi seperti surat atau simbol pemerintahan.

Yang pertama mengunggah logo Desa Manchester eh, Kleteran itu adalah akun TikTok MasGung, dan langsung ramai jadi pembicaraan.

Perangkat Desa Kleteran juga sekalian membikin kaus olahraga yang mencantumkan logo ala MU tersebut di bagian dada.

Warna dasar kaus juga disamakan dengan warna kebesaran Red Devils: serba merah.

Tri, kepala dusun Kleteran, menggagas logo untuk pemerintahan desanya yang mirip dengan logo klub berjuluk The Red Devils atau Setan Merah tersebut.
Tri, kepala dusun Kleteran, menggagas logo untuk pemerintahan desanya yang mirip dengan logo klub berjuluk The Red Devils atau Setan Merah tersebut.

Adapun Suroso mem-branding ulang warungnya atas saran seorang teman setelah kemenangan MU atas Bayern Muenchen di final Liga Champions 1999.

Kemenangan dramatis itu menjadikan Setan Merah meraih treble alias tiga gelar di musim itu.

“Tahun 1999, juara Champions. Kebetulan ketika itu yang sering cangkruk di warung soto semua fans-nya MU. Akhirnya jadi Soto Manchester ini,” kata Suroso ketika ditemui di warungnya yang terletak di kawasan Taman Pinang Indah, Sidoarjo, Jumat (19/9) lalu.

Sebagaimana halnya yang terjadi di Kleteran, kedigdayaan juga melambungkan nama Soto Manchester United.

Terutama pada masa pandemi, saat Suroso memindahkan lokasi dari kawasan alun-alun menuju Taman Pinang, dekat dengan Gelora Delta Sidoarjo.

Sebelumnya, ayah empat anak itu berjualan lama di kawasan Sekardangan, di kabupaten yang sama.

Kini, dalam sehari, Soto Manchester United milik Rawit biasa menghabiskan rata-rata 40–45 ekor ayam. Jumlah itu bisa meningkat hingga 70 ekor sehari di akhir pekan. “Alhamdulillah, memang tambah laris di sini. Sebelumnya mungkin terjual separuhnya,” kata pria yang dipanggil Rawit sedari kecil itu.

Soto Manchester United juga kerap jadi jujukan atlet dan pelatih. “Persebaya sering ke sini, pelatih-pelatihnya kemarin juga TikTok-an di sini, pemain Deltras apalagi,” ujarnya.

Kebetulan, Rawit memang gemar menonton Persebaya, bahkan sering langsung ke stadion.

Tapi, MU tetap di hati, meski kini terseok-seok.

“Dulu kan MU juga begitu. Akademinya main, kalah terus. Naik-naik, akhirnya juara (1999). Mungkin Ruben Amorim, pelatih MU, mau saya ganti. Turun tangan maneh aku, hehehe,” ucap Rawit berseloroh.

Bagi Tri, logo MU juga punya filosofi kesetiaan dan kegigihan.

“Makna kesetiaan diterapkan untuk pemerintah desa yang melayani masyarakat, dan kegigihan dimaknai sebagai perjuangan untuk pelayanan masyarakat desa,” katanya. (NASIP FAHRUDIN, Magelang-RIZKA P. PUTRA, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#premier league #liga champions #manchester united #mu