Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sidoarjo Punya Pabrik Gula Terbanyak di Indonesia, Banyak yang Ingin ke PG Toelangan karena Penasaran dengan Gambaran di Buku

Lombok Post Online • Kamis, 25 September 2025 | 15:29 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Tur ke bekas pabrik-pabrik gula di Sidoarjo diminati, tapi butuh dorongan dari pemerintah setempat agar bisa berkembang seperti PG De Tjolomadoe dan PG Banjaratma.

Pabrik yang masih berproduksi pun menghadapi tantangan bahan baku dan penjualan produk.

KE Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur, mereka biasanya singgah untuk melihat “kampung halaman” Nyai Ontosoroh. Sosok yang digambarkan sebagai putri juru tulis di pabrik gula (PG) setempat.

“Banyak yang ingin masuk ke PG Toelangan karena penasaran dengan gambaran di buku,” ujar Founder Komunitas Tilik Mburi Radhitya Ditto kepada Jawa Pos.

Yang dimaksud Ditto adalah para peserta tur yang diadakan oleh Tilik Mburi sejak 2021. Adapun Nyai Ontosoroh merupakan karakter dalam Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer — novel yang juga telah diadaptasi ke layar lebar.

Di film, aktris Ine Febriyanti memerankan perempuan tangguh yang diceritakan menikah dengan pria Belanda bernama Herman Mellema tersebut.

Rute tur yang sekarang diadakan sebulan sekali itu tidak hanya singgah ke PG Toelangan. Sidoarjo memang merupakan kabupaten dengan jumlah PG terbanyak di Indonesia, meskipun yang masih aktif sampai sekarang hanya dua: PG Kremboong dan PG Candi.

Dalam Bumi Manusia, Pram menggambarkan Tulangan sebagai wilayah yang kaya tanaman tebu, menghampar di kanan-kiri. Deskripsi tersebut mewakili wajah Sidoarjo tempo dulu.

Pegiat sejarah Komunitas Sidoarjo Masa Kuno Sudi Harjanto mencatat setidaknya ada 14 pabrik gula di Sidoarjo. Selain di Krembung, Candi, dan Tulangan, ada pula PG Ketegan, PG Waroe, PG Seroeni, PG Buduran, PG Panjunan, dan PG Tanggulangin. Juga PG Porong, PG Popoh, PG Watoetoelis, PG Kemerakan, dan PG Balongbendo.

Menurut Sudi, banyaknya pabrik gula di Sidoarjo tidak lepas dari Undang-Undang Agraria Tahun 1870. Aturan tersebut mendorong berkembangnya perkebunan tebu di berbagai daerah dan memicu tumbuhnya industri gula.

“Pemerintah kolonial menjadikan Sidoarjo sebagai penunjang Surabaya, salah satunya dalam industri gula,” kata Sudi.

Jejak Hilang

Sidoarjo kini memiliki 18 kecamatan. Bisa dibayangkan betapa padatnya aktivitas pabrik-pabrik gula di kawasan tersebut di masa lalu. Krembung dan Tulangan, misalnya, adalah dua wilayah bertetangga. Candi dan Tanggulangin juga kecamatan yang berbatasan langsung.

Kini, banyak pabrik gula di Sidoarjo yang tidak hanya berhenti berproduksi, tetapi juga kehilangan jejaknya. Seperti PG Kemerakan di Krian dan PG Popoh di Wonoayu.

“Yang bangunannya masih relatif bagus dan tidak beralih fungsi mungkin hanya PG Toelangan dan PG Watoetoelis,” ujar Sudi.

Temuan Jawa Pos saat menelusuri jejak pabrik gula di kabupaten tetangga Surabaya itu pada 2017 sejalan dengan yang dinyatakan Sudi. Sebagian besar pabrik lainnya telah beralih fungsi. Ada yang menjadi markas TNI-Polri, ada pula yang berubah menjadi pabrik lain.

Menurut catatan Sudi, empat pabrik gula terakhir yang eksis adalah PG Toelangan, PG Watoetoelis, PG Kremboong, dan PG Candi. Namun, hanya dua terakhir yang bertahan.

“Penutupan dua pabrik tersebut sekaligus menghapus sejumlah tradisi khas masyarakat sekitar, salah satunya manten tebu dan pesta rakyat yang biasanya digelar setiap musim giling,” katanya.

 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Tantangan Bertahan

Pabrik yang masih bertahan pun menghadapi tantangan yang tidak ringan. Gula produksi PG Kremboong, misalnya, sulit terjual. Saat Jawa Pos berkunjung ke sana pada akhir bulan lalu (28/8), karung-karung berisi gula tampak menumpuk di salah satu gudang.

“Estimasi ada seribu ton yang belum laku,” kata Manajer Keuangan dan Umum PG Kremboong Bastony Choiri ketika itu.

Padahal, mencari bahan baku tebu saja sudah tidak mudah. Sebab, banyak lahan yang telah beralih fungsi.

Ada masa ketika PG Kremboong yang berlokasi di Krembung cukup mengandalkan tebu dari petani di Sidoarjo dan Mojokerto. Namun, kini mereka bahkan harus mencari hingga ke Malang dan Lumajang.

Target produksi harian adalah 2.500 ton. Dari jumlah tersebut, gula yang dihasilkan sekitar 160 ton. “Musim giling biasa dimulai Mei,” kata pria 39 tahun itu.

Sekitar 300 petani menjadi mitra pabrik untuk menjaga pasokan tebu agar sesuai target.  Jalinan kerja sama kedua pihak berbasis bagi hasil. Dari gula yang diproduksi, 70 persen dikembalikan ke petani.

“Jadi, petani sendiri yang menjual. Di PG lain juga hampir sama teknis kemitraannya,” terangnya.

 

BERTAHAN: Bekas PG Toelangan (foto kiri) dan PG Kremboong, Sidoarjo. PG Toelangan sudah tutup sejak 2017, sedangkan PG Kremboong masih berproduksi sampai kini.
BERTAHAN: Bekas PG Toelangan (foto kiri) dan PG Kremboong, Sidoarjo. PG Toelangan sudah tutup sejak 2017, sedangkan PG Kremboong masih berproduksi sampai kini.

Daya Tarik Sejarah

Namun, pabrik gula yang sudah tutup pun sebenarnya masih memiliki potensi untuk menghasilkan uang. Bukan dari gula, melainkan dari daya tarik sejarahnya.

Seperti yang dicari oleh banyak orang di bekas PG Toelangan. Ditto menyebut, sejak dua tahun terakhir, jumlah peminat tur yang ia adakan bersama komunitasnya semakin meningkat.

Ia pun berharap Pemkab Sidoarjo mau ikut mengelola potensi tersebut. “Masyarakat yang berminat ada, tempatnya ada, tinggal bagaimana pemkab mau memanfaatkan. Potensinya besar. Kita bisa berkaca pada PG De Tjolomadoe yang jadi destinasi wisata di Karanganyar atau PG Banjaratma yang disulap jadi rest area di Brebes,” katanya. (Ahmad Reza - Edi Sudrajat, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#Indonesia #Pabrik #produk #Sidoarjo #gula