LombokPost - Sejak hari pertama musibah ambruknya musala, sejumlah wali santri mengecek tiap sudut Ponpes Al-Khoziny dan berkeliling ke tiga rumah sakit di Sidoarjo.
Mereka rata-rata berharap alat berat segera digunakan dalam evakuasi karena ingin bisa segera mendapat kepastian.
Dikabarkan M. Azam Habibi Dirawat, saat Didatangi Ternyata M. Azam Haidar.
BAU menyengat dari reruntuhan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, kian terasa di hari keempat pasca bangunan tersebut ambruk, Kamis (2/10). Dan, itu semakin menambah keresahan keluarga korban yang masih mencari kejelasan nasib orang-orang terkasih mereka.
Tutik, salah seorang wali santri asal Bangkalan, sejak musibah terjadi pada Senin (29/9), tak beranjak dari lokasi. Putranya, Achmad Suwaifi, siswa kelas VII MTs Al-Khoziny, masih tertimbun reruntuhan.
"Ada alat besar, kenapa tidak segera digerakkan dari kemarin? Kami keluarga sudah ikhlas, meski keluar nanti tidak selamat, yang penting segera dievakuasi," ucapnya dengan nada getir.
Sejak hari pertama, tim penyelamat belum menggunakan alat berat karena getarannya dikhawatirkan akan membuat reruntuhan musala ambruk lagi. Otomatis, itu akan membahayakan para korban yang masih hidup di bawah puing.
Guratan kelelahan tampak menguasai wajah Tutik. Tapi, perempuan 43 tahun itu tak sendirian. Ada banyak keluarga santri lain yang juga masih harap-harap cemas menanti kepastian.
Di posko informasi yang ada di kompleks ponpes yang terletak di Kecamatan Buduran tersebut, tertera 66 nama santri yang belum diketahui keberadaannya. Jumlah tersebut dikurangi tujuh korban yang berhasil dievakuasi sepanjang Rabu (1/10).
Diduga, mereka yang belum diketahui keberadaannya itu menjadi korban tertimbun. "Sudah lebih dari tiga hari, itu rasanya tidak enak sekali. Saya mohon agar segera dieksekusi, apa pun hasilnya, kami siap menerima," paparnya.
Achmad Rofi juga tak kalah resah. Warga Bangkalan itu, sejak musibah terjadi Senin lalu, terus mengecek tiap sudut pondok. Beberapa keluarganya juga berkeliling ke tiga rumah sakit di Sidoarjo yang menjadi tempat korban dievakuasi.
"Kami sudah pasrah, tapi kami masih selalu berdoa untuk anak kami," ungkap pria 48 tahun itu.
Anaknya, Daul Milal, santri kelas VIII MTs. Keluarga Rofi mencari mulai dari RS Siti Hajar, RSUD R.T Notopuro hingga RS Delta Surya. Namun, semua upaya itu tak membuahkan hasil.
"Sudah dua tahun anak saya mondok di sini," ucapnya pelan.
Kabar Simpang Siur
Pencarian yang penuh tanda tanya juga dialami Rofiq, kakek dari Muhammad Azam Habibi, warga Surabaya. Sejak Rabu (1/10), ia mencari cucunya dengan berbekal kabar simpang siur.
Nama Azam sempat disebut ada di daftar korban di RSUD R.T Notopuro, tapi ketika ditelusuri ke IGD, petugas mengatakan santri tersebut sudah pulang. "Katanya, keluarga lihat di data sudah dievakuasi. Tapi, belum ada kabar jelas di mana. Saya cari-cari ke RSUD, tapi masih bingung karena asalnya Azam itu dari Madura," katanya.
Pria 56 tahun itu mengatakan bahwa ayah dan ibu Azam juga belum tahu di mana keberadaan buah hati mereka. Yang menyulitkan, nama Azam yang mirip cucunya juga banyak. "Ada beberapa nama Azam dan masuk ke daftar pencarian, ibu bapaknya juga nunggu di pondok ini," imbuhnya.
Para keluarga korban tahu, peluang menemukan anak atau cucu mereka dalam keadaan selamat semakin tipis. Namun, bagi mereka, kepastian lebih penting ketimbang menunggu dalam ketidakjelasan.
Di sela-sela penantian, mereka hanya bisa duduk bersama, saling menguatkan, dan mendaras doa. Doa itulah yang menjadi penopang ketika tenaga mulai habis dan harapan terasa samar. "Kami tidak bisa apa-apa, hanya bisa berdoa. Semoga anak-anak kami segera ditemukan," ujar Rofiq. (AHMAD REZATRIYA – H. EDI SUDRAJAT, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam