Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Evan Dimas Darmono Memilih Fokus Melatih SSB setelah Rehat Bermain, Hanya Mau Hadiri Undangan ke Turnamen Anak-Anak atau Coaching Clinic

Lombok Post Online • Kamis, 9 Oktober 2025 | 15:09 WIB
Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Evan Dimas Darmono sebenarnya mendapat tawaran dari sejumlah klub Super League maupun Championship, juga ajakan menjadi asisten pelatih.

Tapi, dia tak bisa meninggalkan puluhan anak didiknya di SSB Saraswati Nuswantara, Tulungagung, karena bukan cuma teknik sepak bola yang dia ajarkan.

PESAN lewat WhatsApp dari Pangestu Agung masuk ke ponsel Evan Dimas Darmono. Isinya: ajakan untuk bermain fun football.

Karena Agung dikenal sebagai agen tarkam, mantan kapten tim nasional (timnas) itu tidak langsung percaya. Dia kemudian membalas pesan tersebut.

"Ini benar-benar main fun football ya? Kalau tarkam, saya tidak bisa," begitu balasan yang dikirimkan Evan.

Tapi, Agung meyakinkan Evan. "Dia bilang ke saya kalau acaranya memang fun football, untuk menghibur masyarakat. Tidak ada tarkam," jelas pemain didikan Mitra Surabaya itu kepada Jawa Pos yang menemuinya di Tulungagung, Jawa Timur  (20/9).

Dari balasan itulah, berangkatlah Evan ke Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 6 Juli lalu. Tapi, sesampainya di Lapangan Andalas Sianturi Kayuares, Banjarnegara, Evan kecewa berat.

"Begitu tiba, ternyata saya diminta bermain untuk pertandingan tarkam. Sudah banyak penonton, karena itu adalah laga final," beber pilar lini tengah Indonesia U-19 saat menjuarai Piala AFF U-19 2013 itu.

Karena sudah kadung datang, Evan tak kuasa menolak. Dia memperkuat tim GRKP FC. Lawannya Potato Reborn. Evan satu tim dengan Cristian Gonzales. Sementara, di tim lawan ada Diego Michiels dan Ferdinand Sinaga.

"Di laga itu, saya hanya main 20 menit," jelas pemain 30 tahun itu.

Masalahnya, video Evan saat bermain tarkam di Banjarnegara itu langsung ramai menuai perhatian. Dari sekian kritikan, ada yang menyebut Evan “ngamen” karena sudah tidak bisa bersaing di Super League.

"Selama ini saya cuma mau hadir kalau diminta mengisi kegiatan yang bermanfaat. Misalnya, mengisi turnamen antar SSB (sekolah sepak bola) atau coaching clinic untuk pemain muda," bebernya.

Fokus ke SSB

Evan adalah mantan “golden boy” sepak bola Indonesia. Dia memimpin rekan-rekannya di Indonesia U-19 menjuarai Piala AFF U-19 dengan gaya permainan yang langka dimainkan tim di tanah air kala itu: passing football yang dilengkapi pressing tinggi.

Sayangnya, hanya segelintir dari tim tersebut yang bertahan lama di persaingan strata tertinggi. Evan termasuk yang segelintir itu. Dan, di usianya yang baru 30 tahun, dengan pengalaman panjangnya melanglang buana di berbagai klub di Indonesia dan Malaysia serta timnas berbagai level, playmaker dengan kemampuan mengumpan prima itu sebenarnya masih sangat layak bermain di Super League.

Karena itu, banyak yang kaget dan bertanya langsung kepadanya setelah mendengar pernyataan Agung di sebuah siniar. "Selama masih banyak pemain asing, Evan Dimas tidak mau bermain lagi di (kompetisi) Indonesia. Dia merasa kasihan dengan pemain lokal," kata Agung dalam siniar di akun YouTube Bicara Bola.

Evan tegas membantah pernyataan tersebut. Tapi, pemain yang lahir dan besar di Surabaya itu memilih untuk tak menegur Agung. Baginya, yang terpenting orang-orang dekatnya tahu kalau dia rehat bermain bukan karena pemain asing.

Dia memilih fokus membangun SSB Saraswati Nuswantara yang terletak di Desa Mojoarum, Gondang, Tulungagung tersebut. "Sekarang sudah ada 60 anak yang bergabung. Saya tidak hanya mengajarkan teknik sepak bola, tapi juga menanamkan etika dan moral yang baik kepada mereka sejak dini," kata Evan yang sudah setahun menangani SSB tersebut.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Menolak Tawaran

Di bursa transfer awal musim ini, ponsel Evan kerap berdering. Banyak tawaran yang datang untuk pemain kelahiran 13 Maret 1995 tersebut.

Baik dari klub Super League maupun strata di bawahnya, Championship. Ada pula beberapa pelatih yang memintanya untuk menjadi asisten.

Tapi, semua ditolaknya. Alasan penolakan itu tadi: fokus membangun SSB Saraswati Nuswantara. Dia tidak bisa meninggalkan murid-muridnya.

"Apalagi di SSB, saya banyak mengajarkan hal penting di luar lapangan. Mulai dari kebersamaan, guyub rukun, sampai kedisiplinan," jelas Evan.

Baginya, kerukunan itu hal yang paling penting. "Saya juga menanamkan ke anak-anak, kalau lawan itu adalah saudara. Mereka sama-sama pemain bola. Jadi jangan ada perselisihan," tambahnya.

November mendatang, Sanggar Saraswati Nuswantara juga punya gawe. Mereka berencana menggelar trofeo. Salah satu petinggi Kabupaten Tulungagung sudah memberi lampu hijau.

Rencananya, trofeo akan digelar untuk memperingati Hari Jadi Tulungagung ke-820 pada 18 November.

BERBAGI ILMU: Evan Dimas Darmono melatih anak didik di SSB Saraswati Nuswantara di Desa Mojoarum, Gondang, Tulungagung (20/9).
BERBAGI ILMU: Evan Dimas Darmono melatih anak didik di SSB Saraswati Nuswantara di Desa Mojoarum, Gondang, Tulungagung (20/9).

"Sekarang tinggal mencari pesertanya. Mungkin nanti ada legenda timnas, tim lokal, dan satu lagi bisa dari tim media atau wartawan," beber Akbar Firmansyah, pendiri Sanggar Saraswati Nuswantara. (Bagus Putra Pamungkas, Tulungagung/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#pertandingan #jawa timur #tulungagung #tarkam #evan dimas