LombokPost - Di kaki Gunung Pangrango, tepatnya di Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, hamparan hijau memeluk udara sejuk.
Tak banyak yang tahu, hutan rindang ini bukan warisan alam, melainkan buah cinta sepasang suami istri: Bambang Setiawan dan Rosita.
Dua puluh lima tahun lalu, Rosita hanya ingin memenuhi keinginan sederhana mendiang suaminya: memiliki rumah di pinggir hutan.
Tapi di kawasan Puncak, hutan sudah lama sulit ditemukan. Maka, mereka berdua memutuskan membuat hutan mereka sendiri.
“Suami saya ingin rumah di pinggir hutan, tapi hutannya tidak ada. Jadi kami buat sendiri,” kenang Rosita, Selasa (14/10).
Tahun 2000 menjadi awal segalanya. Dengan tabungan seadanya, ia membeli tanah dua ribu meter persegi dari warga sekitar.
Lahan itu tandus, tanahnya asam, pH hanya dua sampai empat. Tak ada tanda-tanda kehidupan, tapi Rosita tak menyerah.
Ia dan keluarga menanam bibit sedikit demi sedikit, mencicil pupuk, dan menyiram setiap tunas yang tumbuh.
“Kami pupuk berton-ton. Akhirnya tanahnya mulai hidup,” ujarnya.
Setahun kemudian, keajaiban kecil terjadi. Tunas-tunas hijau muncul, udara jadi lembab, dan suara burung mulai terdengar lagi.
Rosita menerapkan sistem tumpang sari—menanam sayuran di sela-sela pohon keras tanpa bahan kimia.
“Kalau nyiram sayurnya, pohonnya ikut subur. Itu rahasianya,” katanya sambil tersenyum.
Kini, dari dua ribu meter itu, lahannya menjelma menjadi 30 hektare hutan organik.
Sebuah “kebun raya kecil” yang ia rawat dengan tangan dan hatinya sendiri.
Setiap kali ada pohon mati, langsung diganti. Setiap jengkal tanah disuburkan kembali.
Namun perjuangannya tak selalu mudah. Rosita sering berhadapan dengan calo tanah yang ingin menghentikan pembelian lahan.
“Kalau ada yang mau macam-macam, saya lawan. Ini bukan untuk dijual, tapi untuk anak cucu,” tegasnya.
Seluruh asetnya telah habis dijual demi membeli tanah dan bibit.
Tapi bagi perempuan kelahiran Cimande, itu bukan pengorbanan melainkan panggilan jiwa.
“Orang cari view, pohon malah ditebang buat vila. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ujarnya lirih.
Kini, di bawah rindangnya hutan itu, kehidupan tumbuh liar namun harmonis. Menurut penelitian mahasiswa IPB, terdapat 121 jenis flora, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, dan 59 jenis insekta yang hidup di sana. Semuanya tumbuh alami, tanpa pupuk kimia.
“Yang menghitung itu mahasiswa S-1 sampai S-3 IPB. Saya cuma menanam, alam yang bekerja,” tuturnya rendah hati.
Hutan Organik Megamendung kini menjadi laboratorium alam bagi pelajar dan peneliti. Banyak sekolah datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati. Rosita membuka pintunya untuk siapa pun yang ingin menanam dan belajar.
“Silakan datang, semua gratis. Kalau makan, bayar seikhlasnya untuk biaya pohon,” ujarnya santai.
Meski tak berijazah tinggi, Rosita hafal nama ilmiah dan asal pohon yang ia tanam. Ia belajar langsung dari alam.
“Saya belajar dari tanah. Alam itu guru terbaik,” katanya.
Kini, di usianya yang ke-63, semangatnya tak pernah padam. Ia sudah berpesan pada anak-anaknya agar lahan itu tak dijual selamanya.
“Tanah ini nanti kembali lagi ke alam. Sudah jadi kesepakatan keluarga,” ujarnya tegas.
Rosita percaya, membangun hutan bukan soal modal besar, tapi soal niat. Ia tidak menyesal meski seluruh hartanya habis.
“Modalnya besar, tapi jangan ditanya berapa. Nanti orang takut menanam,” katanya sambil tertawa kecil.
Kepada pemerintah, ia hanya menitip satu pesan sederhana.
“Tanam jangan cuma tanam tinggal. Pohon itu butuh dirawat seperti bayi,” pesannya.
Kini, cita-cita Bambang Setiawan telah tumbuh subur. Di bawah naungan daun dan hembusan angin Megamendung, Rosita berdiri memandang hasil kerja tangannya.
Ia menanam bukan untuk dirinya, tapi untuk masa depan.
“Inilah hutan mini di Bogor,” katanya sambil menatap langit, warisan hijau untuk anak cucu kita,” pungkasnya. (Muhammad Ali, Kabupaten Bogor/cr1/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida