Tidak hanya fasilitas, tim teknis dan perawat satwa kini juga rutin mengikuti pelatihan serta studi banding ke berbagai daerah.
Ikuti Tren Kebun Binatang Modern, Konsep Kandang tanpa Pagar.
DI balik pagar besi tinggi yang kini berhiaskan garis polisi kuning, suara burung elang bersahut-sahutan dari kandang utara.
Tak ada tawa anak-anak, tak ada derap langkah pengunjung. Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) terdiam, menunggu kejelasan nasib di tengah sengketa panjang yang belum berujung.
Padahal, di balik pagar dan kandang besi, lebih dari 700 ekor satwa kini hidup dalam ketidakpastian. Mulai dari gajah, harimau sumatra, beruang madu, hingga rusa tutul. Semuanya bergantung pada ketersediaan pakan dan perawatan rutin.
Beruntung, masa-masa gelap seperti terekam pada 7 Agustus lalu itu—setelah polisi melakukan penyegelan buntut kisruh pengelolaan di kepengurusan Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) yang terpecah dua kubu—telah berakhir. Senin (20/10) lalu, setelah garis polisi dilepas, Bandung Zoo kembali buka.
"Banyak sekolah yang menghubungi kami, sebab kunjungan ke kebun binatang merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran. Karena itu, kami buka hari ini khusus untuk tamu undangan secara gratis," ujar Humas Bandung Zoo Sulhan Syafi'i kepada Radar Bandung (Grup Jawa Pos) saat ditemui tepat di hari ketika kebun binatang tersebut dibuka lagi.
Tak sekadar beroperasi lagi, kebun binatang itu juga tampil dengan wajah baru.
Pengelola memperkenalkan konsep kandang tanpa pagar, sebuah sistem modern yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan satwa melalui tatapan langsung tanpa sekat logam.
"Konsep ini kami kembangkan agar kebun binatang lebih ramah satwa, ramah pengunjung, dan mengikuti tren kebun binatang modern di dunia," kata Sulhan.
Izin Operasional
Garis polisi sebenarnya telah dilepas sejak sepekan sebelumnya (13/10). Tapi, tim pengelola butuh melakukan pembenahan di berbagai area, mulai dari penataan kandang, fasilitas umum, hingga peningkatan standar keselamatan pengunjung.
Sulhan menyebut, di bawah naungan YMT, Bandung Zoo telah mengantongi izin operasional dari Kementerian Kehutanan untuk periode 2003–2033. Kebun binatang tersebut memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perjalanan Kota Bandung.
Berdiri sejak 1933, kebun binatang ini didirikan oleh Ena Bratakusumah. Pada 1957, Ena Bratakusumah mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) yang kemudian diteruskan oleh adiknya, Ukar Bratakusumah, dan selanjutnya oleh anaknya, Romly Bratakusumah. Kini, pengelolaan berada di tangan generasi berikutnya: Bisma Bratakusumah.
Kisruh pengelolaan Bandung Zoo bermula ketika dua kubu kepengurusan YMT, yang masing-masing mengklaim sebagai pengelola yang sah, berselisih terkait hak pengelolaan dan penggunaan lahan konservasi di jantung Kota Bandung tersebut. YMT menilai pengambilalihan tanpa dasar hukum yang sah, sementara pihak kubu lain mengklaim memiliki izin resmi dari pemerintah kota. Sengketa ini bergulir ke ranah hukum dan melibatkan Kejaksaan Negeri Bandung serta Pemerintah Kota Bandung.
Puncaknya, pada 7 Agustus, aparat Kejaksaan Negeri Bandung menyegel seluruh area kebun binatang yang per bulan mengantongi pendapatan Rp 2,8 miliar sampai Rp 3 miliar itu. “Kami menghentikan aktivitas di dalam area, hingga ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap," ujar Kepala Seksi Intel Kejari Bandung Riki Azhari ketika itu.
Sejak hari itu, pintu gerbang utama dikunci rapat, papan informasi bertuliskan penutupan sementara terpampang di depan. Dan, seluruh kegiatan wisata dihentikan.
Setelah penyegelan, sebagian besar pegawai tidak dapat masuk. Pemkot Bandung kemudian menugaskan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) untuk memastikan suplai makanan satwa tetap berjalan.
"Kami berkoordinasi, agar perawatan satwa tidak terhenti, terutama untuk mamalia besar seperti gajah, beruang, dan singa," ujar Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar (19/8).
Lokasi Penelitian
"Tak boleh," kata Ketua YMT Supriatna, "Ada satwa yang jadi korban konflik manusia." Karena itulah, belajar dari konflik yang hampir mengorbankan para hewan di Bandung Zoo, pembenahan terus dilakukan.
Tidak hanya fasilitas, menurut Sulhan, sumber daya manusia di internal Bandung Zoo juga terus ditingkatkan. Tim teknis dan perawat satwa kini rutin mengikuti pelatihan serta studi banding ke berbagai daerah.
“Tim internal kami terus belajar, mendatangkan tenaga ahli, dan mengadopsi sistem pengelolaan kebun binatang modern. Alhamdulillah, semua berjalan baik," ucapnya.
Setiap tahunnya, lebih dari 400 sekolah dari seluruh Jawa Barat tercatat rutin berkunjung ke Bandung Zoo. Selain itu, berbagai perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, dan Universitas Brawijaya Malang juga menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi penelitian dan observasi satwa.
“Kami ingin Bandung Zoo menjadi kebun binatang modern, yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap satwa dan alam," ucap Sulhan. (Diwan Sapta Nurmawan, Bandung/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam