LombokPost - Di luar dua korban bocah yang sudah ditemukan meninggal, masih ada seorang anak lainnya yang hanyut dan masih dalam pencarian.
KAI juga harus membatalkan belasan perjalanan kereta api, selain melakukan rekayasa pola operasi dan memutar perjalanan.
FITRIA Indriyani sontak berteriak minta tolong begitu sang putri, Rahma Aurel, terjatuh dan hanyut dalam selokan di kawasan Argo Mulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.
Fitria yang panik juga masuk ke saluran air yang tengah diperbaiki itu dan sempat hanyut, tetapi segera bisa meraih pegangan hingga akhirnya selamat.
Namun, putrinya yang berusia 9 tahun sampai pukul 16.00 Rabu (29/10) belum ditemukan. “Ini kami masih melakukan pencarian,” kata Siswanto, salah seorang relawan, kepada Radar Semarang Grup Jawa Pos.
Pedurungan sebenarnya tidak dirundung banjir separah kecamatan tetangganya, Genuk, yang dalam sepekan terakhir direndam air bah. Namun, tingginya intensitas hujan di Ibu Kota Jawa Tengah itu menyebabkan berbagai jalur air penuh dan deras.
Dari CCTV di lingkungan sekitar lokasi yang masuk wilayah Kelurahan Tlogomulyo, Rahma yang berjaket dan berjilbab itu jatuh pada Selasa (28/10) sekitar pukul 17.56. Ia dan sang ibu, dari informasi sejumlah warga, berada di lingkungan tersebut untuk mencari sedekah.
Di hari dan kecamatan yang sama, tetapi di tempat kejadian perkara berbeda, Achmad Riefqie Arzan, bocah tujuh tahun, juga hanyut. Diduga, siswa kelas 1 MI Tarbiyatus Sibyan itu terseret arus di selokan depan sekolahnya sekitar pukul 11.00.
Keluarga mengatakan bahwa Riefqie tidak pulang ke rumah setelah sekolah. Rabu (29/10) dini hari sekitar pukul 03.00, bocah itu ditemukan dalam kondisi sudah meninggal di aliran Kali Kwaron, Alastua, Pedurungan. “Korban anak laki-laki, siswa MI, ditemukan sejauh 2,5 kilometer dari titik lokasi hanyut,” ungkap Siswanto.
Baca Juga: DPRD dan Gubernur Anggarkan Rp 1 Miliar Tangani Dampak Banjir Wera-Ambalawi di P-APBD 2025
Bermain di Genangan
Dua kejadian bocah hanyut ini menambah daftar korban anak hanyut selama banjir di akhir Oktober 2025. Sebelumnya, seorang bocah, Faisal Azam Saputra, juga ditemukan meninggal di kubangan air di wilayah Kecamatan Genuk pada Sabtu (25/10).
Korban yang juga masih berusia anak-anak itu tenggelam di kawasan Jembatan Pertigaan Masjid Gebangsari, Kecamatan Genuk. “Awalnya, korban bermain di tempat genangan air bersama teman-temannya. Itu memang dalam, tapi kan itu jalan berbatasan dengan sungai. Sungainya sudah rata dengan jalan, tidak kelihatan karena tertutup air,” beber Kapolsek Genuk Kompol Rismanto.
Korban meninggal lainnya, Eko Rusianto, 43, warga Panggung Kidul, Semarang Utara, juga ditemukan pada hari yang sama. Korban tenggelam di sekitar Rumah Pompa, Kawasan Industri Terboyo Genuk–Semarang, sekitar pukul 14.45.
“Iya, itu karyawan dari BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) yang membersihkan kolam retensi. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” ungkap Rismanto.
Imbas ke Perjalanan KA
Setidaknya ada 16 perjalanan KA menuju wilayah timur dan sebaliknya yang harus dibatalkan kemarin akibat banjir Semarang. Di antaranya KA 496 Kedung Sepur relasi Semarang Poncol (SMC)–Ngrombo (NBO), KA 495 Kedung Sepur relasi Ngrombo (NBO)–Semarang Poncol (SMC), KA 268 Banyubiru relasi Semarang Tawang (SMT)–Solo Balapan (SLO), KA 267 Banyubiru relasi Solo Balapan (SLO)–Semarang Tawang (SMT), dan KA 261 Blora Jaya relasi Alastua–Semarang Poncol.
Lainnya, KA 266 Ambarawa Ekspres relasi Semarang Poncol–Alastua, KA 187 Joglosemarkerto relasi Solo Balapan–Semarang Tawang (Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto tetap jalan). Kemudian KA 263 Ambarawa Ekspres relasi Alastua–Semarang Tawang, KA 264 Ambarawa Ekspres relasi Semarang Tawang–Alastua, KA 498 Kedung Sepur relasi Semarang Poncol–Ngrombo, dan KA 497 Kedung Sepur relasi Ngrombo–Semarang Tawang.
Juga KA 192 Joglosemarkerto relasi Semarang Tawang–Solo Balapan, KA 186 Joglosemarkerto relasi Semarang Tawang–Solo Balapan, KA 189 Joglosemarkerto relasi Alastua–Semarang Tawang, KA 265 Ambarawa Ekspres relasi Alastua–Semarang Poncol, dan KA 262 Blora Jaya relasi Semarang Poncol–Alastua.
Selain pembatalan perjalanan, rekayasa pola operasi KA juga dilakukan terhadap sejumlah kereta jarak jauh. Misalnya, dengan mengganti titik keberangkatan dan ketibaan. Pola ini diberlakukan untuk KA 261 Blora Jaya relasi Cepu–Semarang Poncol yang diubah menjadi relasi Cepu–Alastua, dan KA 266 Ambarawa Ekspres relasi Semarang Poncol–Surabaya yang diganti menjadi relasi Alastua–Surabaya.
Bahkan, ada pula yang diputar melalui jalur selatan. Seperti KA Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya–Jakarta, KA Matarmaja relasi Malang–Jakarta, KA Airlangga relasi Surabaya–Jakarta, serta KA Sembrani relasi Surabaya–Jakarta.
Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang Franoto Wibowo menyampaikan, tren genangan air di kilometer 2+3 hingga 3+0 pada jalur hulu dan hilir antara Stasiun Alastua–Semarang Tawang sejatinya telah menurun. “Para petugas KAI Daop 4 Semarang terus melakukan sejumlah upaya normalisasi jalur KA tersebut. Akan tetapi, pada Rabu (29/10), beberapa perjalanan kereta api terpaksa diubah relasinya serta dibatalkan sementara,” katanya. (Hariyanto, Semarang – Z. Hikmia, Jakarta/ttg/JPG/r3)
Editor : Pujo Nugroho