Di Nglundo, Nganjuk, patung Marsinah didirikan dan namanya diabadikan sebagai nama jalan utama serta pondok bersalin desa.
Saat May Day, yang berziarah ke makam aktivis buruh yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional itu bisa mencapai ribuan.
PETIR itu menyambar Sini di siang hari. Seseorang mengabarkan kepada warga Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, tersebut bahwa keponakannya, Marsinah, meninggal.
“Ayo cepat ke rumah sakit,” ajak si penyampai kabar kepada Sini pada 8 Mei 1993 itu, sebagaimana diceritakannya kembali kepada Radar Nganjuk Grup Jawa Pos yang menemuinya di kediamannya akhir bulan lalu.
Dunia Sini seakan runtuh. Marsinah, aktivis dan buruh di PT Catur Putra Surya Sidoarjo, Jawa Timur, yang telah resmi ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional itu, dia rawat sedari kecil.
Pada akhir Maret tahun yang sama, keponakannya tersebut juga sempat pulang ke rumah untuk merayakan Idul Fitri.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Sini terus berdoa, berharap kabar tersebut tidak benar. Namun, harapannya pupus. Marsinah ditemukan meninggal dunia di Hutan Wilangan, Nganjuk.
“Saya langsung lemas,” imbuh ibu lima anak yang merupakan adik kandung ibunda Marsinah itu.
Ibu Marsinah meninggal dalam proses persalinan sang adik, Wijiati. Usianya tiga tahun ketika itu. Sejak itu, bersama sang adik, dia dirawat Sini di sebuah rumah sederhana di Desa Nglundo.
Hingga saat ini, rumah yang masuk wilayah Kecamatan Sukomoro tersebut masih berdiri kokoh. Dirawat dengan baik oleh Sini dan sang suami.
Bahkan ada bagian yang terkait erat dengan Marsinah juga masih utuh. Lokasinya berada di tengah-tengah rumah milik Sini dengan ukuran sekitar 5 x 5 meter.
Di titik tersebut, Marsinah memiliki cita-cita sederhana. Dia ingin membangun tiga kamar. Nantinya, ketiga kamar itu diperuntukkan bagi sang adik Wijiati, sang nenek Puirah, dan dirinya sendiri.
Bahkan, ketiga kamar itu sudah dicicil untuk dibangun. Dibuatkan sekat-sekat dari tripleks berwarna hijau. Setiap Idul Fitri dan hari besar lainnya, Marsinah pulang dan melanjutkan renovasi kamar yang menjadi cita-citanya tersebut.
Namun, kematian misteriusnya yang berbuntut persidangan panjang dan menyita perhatian luas menghentikan cita-cita tersebut. “Nenek Marsinah sudah meninggal dunia, sedangkan Wijiati akhirnya punya rumah sendiri. Ketiga kamar itu masih utuh hingga saat ini,” imbuh Sini.
Menurut Sini, dia dan keluarga lainnya sengaja tidak mengotak-atik kamar Marsinah. Itu sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Apalagi, sepeninggal anak kedua dari tiga bersaudara itu, Sini sering merasa kangen. Selain melihat foto perempuan kelahiran 10 April 1969 tersebut, masuk ke kamar yang dia cita-citakan adalah caranya mengobati kerinduan kepada sang keponakan.
Abadi dalam Patung dan Nama Jalan
Penghormatan kepada Marsinah bertebaran di seluruh sudut Desa Nglundo. Sejak beberapa tahun lalu, jalan utama di desa tersebut diberi nama Jalan Marsinah.
Nama aktivis yang meninggal dalam usia 24 tahun itu juga diabadikan sebagai nama pondok bersalin desa. Ditambah sebuah patung Marsinah yang dibangun di sebelah selatan Nglundo. Lokasinya berada di tepi Jalan Raya Surabaya–Madiun.
Namun, dari banyaknya tempat itu, makam Marsinahlah yang paling banyak dikunjungi. Terutama saat Hari Buruh atau May Day, jumlah peziarahnya bisa mencapai ribuan.
Marsini, kakak Marsinah, meminta para buruh untuk terus mengingat perjuangan sang adik. "Tetaplah berjuang. Ingatlah Marsinah yang tidak sempat punya anak, kami mohon doa agar Marsinah tenang di sana," ujarnya setelah mewakili keluarga dalam penganugerahan gelar pahlawan nasional kepada Marsinah di Istana Negara, Jakarta, kemarin, seperti dikutip dari Antara. (KAREN WIBI, NGANJUK/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida