Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kiprah HIMPSI Mengani Kesehatan Mental, Penanganan pada Anak Jauh Lebih Sulit daripada Orang Dewasa

Lombok Post Online • Selasa, 18 November 2025 | 12:51 WIB

 

Misi besar Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tahun ini adalah mendampingi guru dan staf pendidikan yang menjadi korban penyerangan KKB di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Misi besar Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tahun ini adalah mendampingi guru dan staf pendidikan yang menjadi korban penyerangan KKB di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

LombokPost - Salah satu misi besar Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tahun ini adalah mendampingi guru dan staf pendidikan yang menjadi korban penyerangan KKB di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Oktober lalu.

Tenaga pengajar sempat mengalami trauma berat, dan membutuhkan pendampingan lanjutan. Para pengajar itu menjalani pelatihan selama empat hari untuk proses penyembuhan. 

Ibarat Perawat, Psikolog Masa Kini Merawat Luka Tak Terlihat

TIM HIMPSI bergegas terbang ke Jayapura, Papua, selepas insiden penyerangan KKB itu. Mereka mendapatkan beberapa tugas, salah satunya training as healing  atau pelatihan sebagai proses penyembuhan. Program itu dihelat selama empat hari.

”Kami mendeteksi gejala trauma pasca kejadian, melatih staf untuk stabilisasi emosi, mengelola stres, hingga membangun motivasi mengajar kembali,” ucap Ketua Umum Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Andik Matulessy saat ditemui Jawa Pos beberapa waktu lalu.

Dari hasil intervensi, tim mencatat sekitar 20 orang mengalami gangguan psikologis berat dan 16 orang membutuhkan pendampingan lanjutan.

Penanganan dilakukan bersama HIMPSI Papua, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya.

”Tentu, harapan besar kami mereka bisa memulihkan diri dan memiliki kemampuan menolong diri sendiri,” ujar Andik.

Pada pertengahan November tahun ini, relawan HIMPSI diterjunkan ke wilayah terdampak banjir di Poso. Sebanyak 30 tenaga relawan, termasuk guru, memberikan Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologi kepada sekitar 2.500 anak di 25 sekolah.

Menurut Andik, penanganan pada anak jauh lebih sulit ketimbang orang dewasa. ”Kami juga melibatkan mahasiswa untuk belajar menolong diri sendiri dan orang lain,” paparnya.

Dua kegiatan besar itu menunjukkan betapa pentingnya peran HIMPSI. Terlebih, di era seperti saat ini, ketika kesadaran pada kesehatan mental mulai meningkat.

Seiring meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan mental, kata Andik, profesi psikolog dipandang semakin penting dan berperan besar dalam kehidupan masyarakat modern. Tak hanya berfokus pada konseling individu, para psikolog juga hadir di lokasi bencana, ruang kelas, hingga dunia digital.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya itu menyampaikan, sejak 2022, HIMPSI membentuk suborganisasi bernama Kresna atau Korps Relawan Bencana yang beranggotakan psikolog dan relawan non-psikologi dari seluruh Indonesia. ”Kami hadir di lapangan untuk penyintas, bukan hanya di awal kejadian tapi juga dalam fase pemulihan psikis jangka panjang,” terangnya.

Saat kerusuhan akhir Agustus lalu, HIMPSI, lewat pengurus wilayah, membuka layanan konseling gratis kepada masyarakat yang terdampak. Mereka mendampingi agar masyarakat cepat pulih.

HIMPSI juga terbuka terhadap fenomena ”psikolog influencer” yang banyak memberikan edukasi kesehatan mental di media sosial (medsos).

Namun, Andik mengingatkan, ada beberapa batasan yang patut disadari bersama. Yakni, berkaitan dengan interpretasi.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

”Tentu kami mendukung edukasi yang positif, tapi konteks tes psikologi dan interpretasinya tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada risiko salah tafsir bila tanpa dasar ilmiah,” paparnya. Menindaklanjuti hal itu, ke depan, pihaknya akan bertemu dengan pengelola YouTube dengan melibatkan para psikolog.

Dengan jumlah sekitar 14.894 psikolog di seluruh Indonesia, Andik meyakini profesinya telah menjadi bagian penting dari sistem sosial modern.

”Psikolog masa kini bukan hanya memberi terapi, tapi juga menjaga keberlangsungan kemanusiaan, ya ibarat perawat, yang merawat luka yang tak terlihat,” ujar President of ASEAN Regional  Union of Psicological Societies (ARUPS) itu. (Azzami Ramadan, Surabaya/aph/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#KKB #HIMPSI #penanganan #Anak #dewasa #psikologi