LombokPost - Dampak terputusnya kiriman dari kampung halaman akibat bencana membuat para mahasiswa perantauan bertahan dengan beragam cara: menjual barang berharga, makan seirit mungkin, sampai menunggak uang kos. Namun, mereka tetap bergerak menggalang dana dan uluran tangan datang dari berbagai pihak.
DHEANANDA Putri Alfarizi sudah menjual laptop. Namun, uang yang terkumpul masih belum mencukupi untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Belum lagi untuk menutupi biaya hidup sehari-hari sebagai mahasiswi perantauan di Surabaya.
“Saya masih berusaha keras mencari tambahan untuk kekurangan bayar UKT,” kata mahasiswi asal Aceh Tengah itu kepada Jawa Pos yang menemui dia di Surabaya Minggu (7/12).
Aceh Tengah merupakan salah satu kawasan terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh. Jangankan meminta kiriman biaya kuliah, sekadar menghubungi keluarganya saja Dhea kesulitan.
“Terakhir saya kontak dengan keluarga hari ke-6 setelah bencana. Itu pun bisa tersambung setelah keluarga saya naik ke bukit untuk mencari sinyal,” kata mahasiswi semester ke-5 itu.
Demikian pula dengan Dimas Anugerah. Keluarga Ketua Asrama Pelajar Mahasiswa Kekeluargaan Tanah Rencong (PMKTR) yang berkuliah di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu juga sulit dikontak karena terisolasi di Aceh Tenggara.
Dalam catatan PMKTR, ada sekitar 40 mahasiswa asal Aceh di Surabaya yang keluarganya ikut terdampak bencana.
Jumlah itu lebih dari separo keseluruhan mahasiswa asal Tanah Rencong yang menimba ilmu di ibu kota Jawa Timur tersebut.
Mayoritas dari mereka baru kuliah semester pertama di Surabaya. Paling banyak kuliah di Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Unesa.
“Untuk makan dan bayar UKT banyak yang jual barang berharga miliknya masing-masing,” jelas Dimas di Asrama PMKTR Rungkut, Surabaya, kemarin.
Penggalangan Dana
Beratnya kondisi di kampung halaman, baik di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), maupun Sumatera Barat (Sumbar), otomatis berdampak pada para mahasiswa perantauan. Tak hanya yang di Surabaya, tetapi juga yang di kota-kota lain seperti Malang, Jogja, dan Jakarta.
Beruntung, solidaritas antarsesama warga tumbuh di mana-mana. Dimas menyebut PMKTR mendapatkan bantuan sembako dari sejumlah warga Surabaya berupa mi instan, beras, dan air mineral.
Ketua Umum Organisasi Kekeluargaan Tanah Rencong (KTR) Syekh Muhammad Akbar menambahkan, pihaknya bersama para mahasiswa Aceh di Surabaya juga telah melakukan penggalangan dana untuk korban bencana di Kebun Binatang Surabaya (KBS) Sabtu (6/12). Seluruh dana yang terkumpul mencapai Rp 50 juta. Dana itu disalurkan melalui mitra di Aceh, yaitu Ikatan Motor Indonesia Aceh, D_Cab Aceh, dan Land Rover Aceh.
Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) Surabaya juga mencatat, ada dua anggota mereka yang keluarganya terdampak langsung. Namun, jumlah tersebut bisa bertambah.
Karena itu, mereka bergerak menggalang donasi sejak Sabtu (29/11) pekan lalu. Aksi turun ke jalan dilakukan di beberapa titik Surabaya. “Donasi juga dibuka lewat media sosial dan transfer bank,” kata Ketua IMAMI Surabaya Muhammad Arrayan Fiqri Saputra kepada Jawa Pos.
Sampai kemarin, lanjut Aril, sapaan akrabnya, bantuan yang terkumpul mencapai sekitar Rp 25 juta. Pakaian layak pakai yang terkumpul mencapai enam karung besar dan empat karung kecil. Bantuan itu disalurkan lewat Gebu Minang Jawa Timur.
IMAMI juga terus mencari bantuan tambahan bagi anggotanya. “Uang saku dan sembako sudah disalurkan bagi teman-teman mahasiswa yang membutuhkan,” kata mahasiswa Teknik Mesin Unesa itu.
Tunggak Uang Kos
Di Kota Malang, Alamsyah Gautama bersyukur karena keluarganya yang bermukim di Kota Gunung Tua, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara, tidak terlalu parah terdampak banjir. Namun, pikirannya tertuju pada sesama mahasiswa perantauan dari kawasan lain yang lebih parah terkena dampak.
Alam lantas mencoba menggali informasi. “Semula ada 11 orang, tapi setelah saya cari tahu sampai sekarang ada 93 mahasiswa dari ketiga provinsi terdampak,” ungkap Kepala Bidang Lingkungan Hidup Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang itu kepada Radar Malang Grup Jawa Pos.
Karena terputus kiriman dari kampung halaman, ada mahasiswa yang makan mie instan seminggu penuh demi menghemat biaya. Ada pula yang menunggak uang kos. Beruntung, sebagian pemilik kos memberi keringanan atau perpanjangan waktu.
“Saya baru dapat kabar dari keluarga tanggal 30 November. Yang pertama kali merespons adalah paman saya. Kabar dari paman, seluruh anggota keluarga selamat,” tutur Rocky Maulana, mahasiswa Prodi Manajemen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang asal Kabupaten Biureun, Aceh.
Di tengah kondisi sulit itu, banyak warga Malang mengulurkan tangan. Termasuk pelaku usaha seperti Nasi Lemak Jasa Ayah yang menyediakan hidangan gratis untuk para mahasiswa perantau dari daerah-daerah terdampak bencana. Pelaku usaha lain, Restoran Spesial Ayam Tangkap, menggalang dana dari sebagian pendapatan berjualan.
Ada pula pembagian sembako yang dilakukan Yayasan Rumah Solusi. “Di saat kebanyakan orang berpikir untuk terjun ke lokasi, ternyata ada para perantau yang juga perlu dibantu. Kami dengar cerita, ada mahasiswa yang sampai tiga hari tidak makan,” kata Antok Pribadi, salah seorang pengelola yayasan. (ESTU FARIDA L-TAZQIA AULIA Z, Surabaya; NABILA AMELIA, Malang/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam