LombokPost - Kabupaten Bener Meriah, Aceh, adalah “Negeri Kopi Arabika” dan sekarang sebenarnya musim panen, tapi dampak banjir bandang menyulitkan distribusi. Jasa panggul kopi seperti Nurdin pun kini mengais rezeki dengan mengangkut BBM yang juga tak mudah didapatkan selama bencana.
KARUNG dibungkus plastik itu tergantung di punggung Nurdin. Pria 37 tahun tersebut berjalan tertatih-tatih dengan napas ngos-ngosan menapaki tanjakan berlumpur. Sepatu booth usang yang dikenakannya penuh tanah liat longsoran bukit.
Kabupaten Bener Meriah yang merupakan bagian Dataran Tinggi Gayo adalah “Negeri Kopi Arabika.” Saat ini tengah musim panen. Jasa panggul seperti Nurdin membawa kopi hasil panenan turun dari perkebunan ke Pasar Buntul Gayo.
Di pasar tersebut, pada Rabu (26/11) siang dua pekan lalu itu, barulah Nurdin yang merantau dari Peurelak, Aceh Timur, tersebut sadar kalau Bener Meriah, juga berbagai kabupaten/kota lain di Aceh, dihantam banjir bandang dan tanah longsor. Truk-truk pengangkut kopi tak bisa ke Buntul karena jalanan rusak.
“Sebelumnya di atas (perkebunan) cuma dengar omongan berantai,” katanya kepada Rakyat Aceh, yang menemuinya pada Selasa (9/12) lalu.
Di tengah kebingungan akibat kehilangan sumber pendapatan dan bencana yang berdampak masif, tiba-tiba seseorang menyapanya. “Bisa bantu antar bawa barang ini hingga ke camp. Saya sudah tidak sanggup lagi jalan,” kata Nurdin, mengulang ucapan pria berusia sekitar 30 tahun dari Panton Labu, Aceh Utara yang namanya ia lupa.
Nurdin seketika menyanggupi. Berjalanlah dia hampir tujuh kilometer ke Desa Seni Antara, Kecamatan Permata. Ternyata ribuan orang sudah memadati tempat pengungsian tersebut.
Sebuah perjalanan yang tidak mudah. Beberapa titik jalan terputus. Nurdin harus turun sekitar 30 meter dari jalur utama sebagai jalan alternatif. Ia pun tak ingat berapa uang yang diterimanya sebab langsung dimasukkan ke kantong celana.
Tapi, perjalanan ke desa yang jadi titik perbatasan Bener Meriah dengan Aceh Utara itu membuka lahan rezeki baru bagi ayah dua anak tersebut: menjadi pemanggul BBM.
Rp 200 Ribu Sekali Jalan. Di sela beristirahat setelah membawa barang ke tempat pengungsian di Desa Seni Antara, ada orang lain lagi menyapanya. “Mau bawa minyak (BBM) ini lewat Guci (salah satu kampung di Kabupaten Pidie Jaya, kabupaten yang juga bertetangga dengan Bener Meriah, red). Masih ada satu jeriken lagi. Tadi yang lima lainnya sudah lebih dulu dibawa,” kata orang tersebut kepada Nurdin.
Nurdin menyanggupi. Negosiasi terjadi. Kesepakatan tercapai. Nurdin akan menerima ongkos Rp 200 ribu untuk memanggul jeriken 35 liter yang berisi Pertamax 30 liter itu.
Setelah banjir bandang menerjang, Desa Seni Antara yang menjadi titik perbatasan Bener Meriah dengan Aceh Utara itu menjadi pasar transaksi berbagai kebutuhan pokok. Beras dan BBM Pertamax serta solar di antaranya. Ada pula ikan, gula, dan minyak goreng.
Terganggunya distribusi BBM dan berbagai bahan pokok memang merupakan dampak langsung banjir bandang. Belum semua SPBU di kawasan terdampak bisa dijangkau armada pengangkut.
Jadilah titik-titik pengedropan BBM ramai didatangi. Seni Antara, yang dulu desa yang sudah tidur selepas pukul 20.00, kini ramai selama 24 jam. Puluhan ton BBM melalui pengecer atau pedagang dadakan datang ke sana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di dua kabupaten Dataran Tinggi Gayo: Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Iwan, warga Atu Lintang, Aceh Tengah misalnya, bersama tujuh kawan sekampungnya harus berjalan sehari semalam, sekitar 95 kilometer, untuk mendapatkan berbagai kebutuhan pokok. “Sore ini, kami langsung kembali, Bang. Sudah tipis kali beras di rumah. Juga ada BBM sedikit ini untuk bisa kami ke kebun,” katanya dengan wajah lesu kepada Rakyat Aceh, Sabtu (6/12) pekan lalu.
Yang tak mampu memanggul jeriken sendiri memanfaatkan jasa panggul seperti Nurdin. Sabtu siang itu sebelum bergerak, Nurdin membeli dua bambu beras atau sekitar tiga kilogram, bersama ikan asin dua ons untuk persiapan di rumah sewanya nanti.
“Hanya mampu dua trep (pulang-pergi, red) saja sehari, Bang. Itu pun bila tidak hujan. Ya, sekalian bantu karena di Takengon (ibu kota Aceh Tengah, red) minyak nggak ada,” katanya. (Idris Bendung, Bener Meriah/ttg/JPG/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam