Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Hian Eng, Putri Pendiri Jawa Pos The Chung Sen Kunci Sehatnya Air Putih Hangat dan Obat Terampuh Tertawa Tiap Hari, Berupaya Hindari Olahan Kimia Buat

Lombok Post Online • Kamis, 18 Desember 2025 | 11:10 WIB
BUGAR: Hian Eng bersama kawannya, Claire Woodwards, berlibur di Nice, Prancis, pada September 2024 lalu.
BUGAR: Hian Eng bersama kawannya, Claire Woodwards, berlibur di Nice, Prancis, pada September 2024 lalu.

LombokPost - Di usia 90 tahun, Hian Eng tak punya pantangan makanan, beraktivitas tanpa alat bantu, dan terakhir mengalami flu 37 tahun silam. Hobi belajar sedari kecil membuatnya bisa menguasai delapan bahasa.

SEPEKAN di Surabaya, kota tempat sang ayah The Chung Sen mendirikan Jawa Pos pada 1 Juli 1949, Hian Eng tak pernah mengeluh capek. Perempuan 90 tahun itu selalu tampak bugar menjalani berbagai aktivitas.

Di usia yang sudah sesenior itu, perjalanan panjang London–Singapura–Surabaya pun dia lakoni tanpa perlu pendamping. Dia juga menghindari tongkat dan kursi roda.

Semuanya ternyata bersumber pada resep sederhana yang konsisten dia jalankan: minum yang jernih-jernih. Apa pun makanan yang dia konsumsi, minumnya selalu air putih hangat.

“Saya tak punya pantangan makan. Apa saja boleh,” ucapnya kepada Jawa Pos.

Maklum, kadar gula darah dan kolesterolnya aman. Tekanan darah? Normal. Tak ada olahraga tertentu yang dia geluti. Hian hanya menjaga aktivitas rutin di rumahnya, termasuk mencuci baju dan membersihkan rumah.

Ibu tiga anak itu tinggal sendirian sekarang. Rumahnya dengan putra-putrinya juga berjauhan.

Hian tinggal di Central London, sedangkan anak-anaknya berdomisili di bagian utara dan timur ibu kota Inggris tersebut.

“Kami tak selalu bertemu setiap pekan, hanya komunikasi dengan telepon rutin,” kata putri kedua The Chung Sen itu.

Apoteker Pediatri

Hian sudah pensiun sejak 1996. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pediatric pharmacist atau apoteker pediatri. Pengetahuannya terhadap obat-obatan dan bahan kimiawi juga jadi bekal menjaga diri. Hian berupaya menghindari olahan kimia buatan.

Ia tak memakai sabun muka, pelembap, hingga riasan wajah. “Tak perlu apa-apa, saya dibantu kacamata hitam atau topi untuk menghalau sinar matahari,” katanya.

Resep itu diikuti Hian dari sang ibu, Megah Endah Tedjo. Semua nutrisi didasarkan pada konsumsi gizi dari makanan. Dia juga tak pernah lagi mengonsumsi obat-obatan atau vitamin.

Ia pun mengaku tak pernah lagi mengalami sakit, baik flu, diare, maupun penyakit-penyakit umum lainnya. Terakhir kali Hian flu hampir empat dekade lalu, tepatnya pada 1998 sepulang melakukan perjalanan dari Meksiko.

“Setelah itu saya tidak pernah sakit lagi. Anak-anak juga tak pernah saya berikan obat, hanya saat kecil,” jawabnya.

Menurut Hian, obat yang paling ampuh adalah tertawa setiap hari. Hati yang bahagia dan pikiran yang tenang sudah menjadi kunci penting menjaga kualitas hidup, termasuk berbincang dengan orang baru maupun kawan-kawan yang sefrekuensi.

“Saya suka ngobrol dengan teman-teman. Kami sama-sama night owls alias hobi bergadang,” jawabnya.

Hian mengaku hampir setiap hari tidur pukul 02.00 dan bangun sekitar pukul 09.00. Jika ada kebutuhan mengurus sesuatu, barulah ia memutuskan bangun lebih pagi, sekitar pukul 07.00–08.00.

Hobi Belajar

Sejak muda, Hian sudah suka belajar. “Saya pernah kuliah di Belanda, waktu itu sudah usia 35 tahun, tapi sekolah sama remaja-remaja yang belum sampai 20 tahun,” kenangnya, kemudian tertawa.

Kebiasaan belajar itu masih terbawa hingga sekarang. Di usia kepala sembilan, Hian terlihat lancar mengoperasikan gawai kekinian. Ponsel iPhone, tablet, bahkan mempelajari akal imitasi (AI). “Saya penasaran saja, jadi kalau ada yang baru, ya cari di internet. Sumber apa pun saya baca,” imbuhnya.

Hobi belajar juga mendorong Hian mempelajari banyak bahasa. Total ada delapan bahasa yang ia kuasai. Karena tinggal di Eropa, bahasa Indonesia menjadi yang paling jarang digunakan dan dilatih olehnya.

“Karena saya sekolah di zaman kolonial Belanda, pelajaran bahasa Belanda wajib saya kuasai paling awal,” ucapnya.

Setelah masuk sekolah menengah, ia harus belajar bahasa Inggris, Prancis, dan Jerman selama lima tahun. Penguasaannya terhadap empat bahasa tersebut membuat Hian lebih mudah mempelajari bahasa lain saat menetap di Eropa.

Setelah pindah ke London, Hian mulai belajar bahasa Spanyol, Yunani, dan Yugoslavia (Serbo-Kroasia). Bagi Hian, belajar bahasa itu seru. “Paling susah Yunani, karena aksaranya beda sendiri,” tuturnya. (RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#jawa pos #surabaya #Aktivitas #kecamatan #KONSUMSI