Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kiprah UNU NTB Melestarikan Permainan Tradisional Asli NTB, dari Mata Kuliah Lahirkan Olahraga Palentong

Umar Wirahadi • Minggu, 21 Desember 2025 | 23:09 WIB
Sejumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UNU NTB memainkan olahraga Palentong beberapa waktu lalu.
Sejumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UNU NTB memainkan olahraga Palentong beberapa waktu lalu.

LombokPost – Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB meletakkan kebijakan kampus yang unik sekaligus visioner.

Yaitu menjadikan basis permainan rakyat sebagai mata kuliah wajib.

Semangatnya jauh ke depan. Tidak hanya agar anak-anak tahu tentang permainan tradisional, tapi juga supaya kelak muncul produk olahraga prestasi dengan basis permainan tradisional asli NTB. 

Sejumlah mahasiswa berdiri di halaman kampus Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB di Jalan Langko, Kota Mataram.

Dari jarak 6 meter, mereka melemparkan media berupa kayu secara bergantian. Lemparan itu harus mengenai sasaran kayu berbentuk bundar yang ada di dalam lingkaran. 

Dengan akurasi yang tempat, salah seorang mahasiswa bisa mengenai sasaran. Deretan kayu pun keluar dari dalam lingkungan. Sorak sorai bergemuruh. Sejumlah rekannya memberi selamat karena berhasil memenangkan permainan itu. 

"Harus konsentrasi tingkat tinggi baru bisa kena sasaran," kata M.Zulfikri lalu tertawa.

Mahasiswa semester 5 itu adalah salah seorang dari puluhan mahasiswa yang ikut dalam praktek olahraga berbasis permainan tradisional.

"Ini namanya olahraga Palentong," kata Dr Yadi Imansyah, M.Or. Dia adalah dosen sekaligus Wakil Dekan Fakultas Pendidikan UNU NTB. 

Menariknya, olahraga Palentong yang dikembangkan kampus itu bersumber dari permainan rakyat asli NTB. Permainan rakyat ini pernah ada di Bima, Sumbawa dan sebagian masyarakat Lombok. Sebutannya berbeda-beda.

Di Bima disebut mpa'a banga. Zaman dulu media untuk melempar menggunakan biji kemiri dan jambu mente.

Di Sumbawa, namanya rabangak. Permainan ini dimainkan dengan menggunakan jambu mente, kerang dan kemiri. Sedangkan di Lombok disebut beloncek lekong. Permainannya menggunakan biji kemiri.

"Meski beda nama dan alat permainan, spiritnya sama. Yaitu melempar agar sasaran keluar dari lingkaran," jelas Yadi. 

Secara filosofi, permainan ini memiliki makna yang dalam. Bahwa orang tua mengajarkan ke anak-anaknya untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Mereka bermain dengan biji kemiri dan jambu mente untuk memastikan lingkungan tetap terhadap dengan asri.

"Cuma sekarang sudah mulai jarang dimainkan karena di hutan dan ladang bukan kemiri lagi yang hidup tapi jadi ladang jagung," ungkapnya. 

 Agar tidak punah, permainan ini dikembangkan lagi Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Pendidikan UNU NTB. Tapi medianya tidak lagi menggunakan biji kemiri atau jambu mente. 

Tetapi menggunakan kayu yang didesain seefektif mungkin. Yaitu berbentuk bundar. Dengan diameter 3x5 sentimeter dan berat 6-7 gram. "Sudah ada standarisasi ukuran dan beratnya," jelas Yadi.

Standarisasi desain dan ukuran bola kayu itu dilakukan untuk memudahkan permainan. Para akademisi juga membuat bentuk dan ukuran lapangan permainan agar menjadi standar.

"Kami modifikasi permainan rakyat ini jadi olahraga Palentong. Ini benar-benar asli NTB. Nggak ada di daerah," ujarnya bangga. 

 Saat ini permainan dan olahraga tradisional itu sudah menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswa. Bukan lagi pilihan.

Tujuannya agar mahasiswa mampu memainkan permainan ini secara teori dan praktek. Sehingga bisa diajarkan dengan baik dan sesuai standar ke para siswa nanti. 

"Palentong ini jadi produk olahraga baru dengan basis permainan rakyat asli NTB," jelasnya. 

 UNU NTB tidak puas sampai di situ. Kampus Islam swasta itu berambisi agar olahraga Palentong diakui menjadi olahraga prestasi sacara nasional. Sehingga bisa dipertandingkan di event olahraga resmi. Seperti PON, Sea Games atau Asian Games. 

"Banyak olahraga kan dari negara luar. Harapan kami di NTB ini ada satu produk olahraga yang basisnya tradisional asli NTB yang bisa jadi olahraga prestasi. Itu mimpi besar kami," tegasnya.

Sejumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UNU NTB sedang bermain egrang beberapa waktu lalu.
Sejumlah mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) UNU NTB sedang bermain egrang beberapa waktu lalu.

Untuk menuju ke arah itu, berbagai upaya sudah dilakukan. UNU NTB getol mengenalkan olahraga Palentong di forum-forum nasional.

Misalnya dalam kegiatan bertajuk Teras Main Indonesia yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Taman Mini Indonesia Indah pada November lalu.

"Kita pamerkan di sana. Palentong ini kita perkenalkan ke 34 perwakilan provinsi lain se-Indonesia," tuturnya. 

Pada 28-29 November juga digelar event tarkam Palentong. Event digelar langsung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Sumbawa.

Pada event Fornas 2025 lalu, olahraga Palentong juga diperkenalkan ke peserta Fornas di Epicentrum Mall. Saat itu dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha atau Giring Nidji. "Bahkan beliau mencoba langsung bermain Palentong," paparnya lalu tertawa.

Bukan hanya itu. Dalam Munas Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) se-Indonesia juga sudah dikenalkan olahraga Palentong. 

"Sejauh ini sudah mendapatkan sambutan positif. Dari Kemenpora, Kementerian Kebudayaan, dan BPIP," ungkap peraih Doktor di Program Studi Sport Pedagogi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu. 

 Bukan hanya olahraga Palentong. Beberapa permainan tradisional juga terus dilestarikan. Seperti permainan egrang, belanjakan, adu jengku, ketik bawi, spok siat, batu derek, Selodor, macanan Lombok atau main til, main benteng, papan caka, gasing, hingga layang-layang. 

Dari kajian UNU NTB dan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) menemukan permainan tradisional asli NTB sebanyak 170 jenis permainan tradisional. Tersebar di Lombok dan Sumbawa. 

"Kami ingin menggunakan permainan tradisional ini sebagai media pendidikan karakter bagi generasi muda. Juga menanamkan nilai seperti gotong royong, sportivitas, dan kebersamaan," pungkas Yadi Imansyah.

 

 

Editor : Marthadi
#pulau sumbawa #permainan tradisional #UNU NTB #Pulau Lombok #olahraga tradisional