LombokPost - Kehadiran inovasi insinerator menjadi solusi persoalan tumpukan sampah yang terjadi di Desa Cicadas, Kabupaten Bogor.
Melalui inovasi ini sampah dari kegiatan rumah tangga dapat dilenyapkan dengan minim asap.
Insinerator minim asap ini merupakan karya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University.
Inovasi ini hadir sebagai solusi pengelolaan sampah desa yang selama ini masih banyak dilakukan melalui pembakaran terbuka.
Alat sederhana ini mampu mengurangi asap pekat, menekan timbunan sampah, serta lebih ramah lingkungan dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
Perwakilan tim, Indra Bagus Ramdhani, mengatakan inovasi ini berangkat dari persoalan nyata di lapangan.
"Kami melihat ada masalah sampah di Desa Cicadas ini, seperti banyak tumpukan sampah liar, bahkan ada yang membuang sampah ke sungai," ujar Indra, mahasiswa Departemen Kimia IPB University.
Akma Naufal Rabbani yang juga anggota tim mahasiswa menambahkan bahwa persoalan sampah di desa tidak hanya berkaitan dengan perilaku masyarakat, tetapi juga keterbatasan sarana.
"Masalah yang paling besar adalah minimnya infrastruktur sampah. Hampir di sebagian RT atau RW tidak memiliki infrastruktur maupun sistem pengelolaan sampah," katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat dalam membayar iuran sampah. Kondisi tersebut menyebabkan pengangkutan sampah secara komunal sering terhenti. "Kadang bisa sampai mandek, bahkan sampai tiga bulan," ujarnya.
Menurut Akma, keberadaan insinerator minim asap mampu meminimalkan kebutuhan pengangkutan sampah. Hasil uji coba selama hampir satu bulan, tidak terjadi penambahan volume sampah yang signifikan.
"Pengeluaran warga untuk pengangkutan sampah yang sebelumnya sekitar satu juta rupiah per sekali angkut dapat ditekan, cukup dengan biaya operasional petugas kebersihan," jelasnya.
Secara teknis, insinerator ini dibuat dari bata hebel yang mudah diperoleh. Desainnya memiliki ruang bakar memanjang dengan pengaturan aliran udara sehingga api menyala lebih stabil dan asap pembakaran berkurang secara signifikan. Hal ini memungkinkan masyarakat membakar sampah tanpa mencemari kualitas udara.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University berharap pengelolaan sampah desa dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. (Muhammad Ali, Kabupaten Bogor/cr1/c/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida