Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Chill and Play Padel, Komunitas yang Menularkan Demam Padel di Kota Mataram

Umar Wirahadi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:04 WIB
Drh Redityana Putri Sekar Larasati dan anggota komunitas Chill and Play Padel berfoto usai mabar padel di Rooftop Padel Club, Kamis (15/1).
Drh Redityana Putri Sekar Larasati dan anggota komunitas Chill and Play Padel berfoto usai mabar padel di Rooftop Padel Club, Kamis (15/1).

LombokPost – Demam olahraga padel melanda Kota Mataram dan sejumlah kota di Pulau Lombok.

Olahraga global asal Meksiko ini berkembang dengan cepat. Bukan hanya lapangan baru yang terus bertambah, komunitas penghobi padel pun bermunculan.

Salah satunya Chill and Play Padel. Bahkan komunitas ini ikut berkontribusi menyebarkan demam padel di Bumi Gora.

Rooftop Padel Club yang terletak di lantai 3 Mataram Mall sedang ramai-ramainya, Kamis sore (15/1).

Bagimana tidak. Lima blok lapangan semua terpakai. Keseruan benar-benar terlihat di dalam lapangan yang dilapisi kaca itu.

Termasuk di lapangan sisi kanan. Dua pasang pemain cewek berhadapan memperebutkan poin. Ayunan raket yang cepat, langkah kaki yang gesit beradu dengan teriakan heboh para pemain setiap kali memenangkan rally.

"Kebetulan hari ini sedang mabar (main bareng, Red) dengan teman-teman komunitas," kata Drh Redityana Putri Sekar Larasati kepada Lombok Post.

Mereka adalah penggila olahraga padel yang terhimpun dalam komunitas Chill and Play Padel. Larasati, sapaan karib Drh Redityana Putri Sekar Larasati adalah koordinator komunitas itu.

"Kalau lagi mabar begini, hampir semua anggota datang. Makanya seru," ujar Larasati.

Komunitas Chill and Play Padel baru seumur jagung. Yaitu berdiri sejak November 2025.

Meski demikian jumlah anggotanya terus bertambah. Saat ini sudah mencapai 64 orang. Baik yang berstatus level beginner (pemula) dan intermediate (menengah).

Baca Juga: Padel Olahraga Baru dengan Gaya Hidup Baru, Pilar Penting untuk Sport Tourism NTB

"Jumlahnya tambah terus. Dan kebanyakan memang orang-orang yang sudah bekerja," jelasnya.

Larasati menceritakan, pendirian komunitas ini hampir bersamaan dengan berdirinya lapangan Rooftop Padel Club yang dibangun Oktober 2025.

Ia merasa termotivasi untuk mengembangkan padel itu di Lombok. Apalagi jumlah lapangan makin bertambah. Sehingga memudahkan para untuk bermain.

"Niat awalnya dulu supaya banyak yang nemani saya bermain padel. Lebih fun saja kalau banyak teman," papar perempuan yang bekerja sebagai dokter hewan itu.

Komunitas Chill and Play Padel berfoto usai mabar padel di Rooftop Padel Club, Kamis (15/1). Para anggota komunitas juga mengembangkan relasi bisnis lewat olahraga ini.
Komunitas Chill and Play Padel berfoto usai mabar padel di Rooftop Padel Club, Kamis (15/1). Para anggota komunitas juga mengembangkan relasi bisnis lewat olahraga ini.

Meski demikian tidak mudah mencari kawan bermain padel. Harus ada hosting yang bertugas mengerahkan para pemain untuk mabar di setiap kota.

Nah, kebetulan hingga akhir 2025 lalu belum ada organizer yang ditunjuk. Sehingga Larasati berinisiatif membuka pendaftaran member melalui aplikasi Ayo.

Ini adalah platform digital yang dimanfaatkan pecinta olahraga untuk mencari lawan atau teman berolahraga (sparring), main bareng, hingga sewa lapangan.

Tidak disangka, saat pertama kali membuka aplikasi itu, banyak yang mendaftar. Mereka tertarik untuk ikut bermain padel. Banyak yang langsung tertarik minta join menjadi anggota.

"Akhirnya terbentuk komunitas Chill and Play sampai sekarang. Dan anggota terus bertambah," sambungnya.

Dari 64 anggota, mayoritas di antaranya adalah beginner. Dan sebagian cukup mahir atau ada di level intermediate.

Bagi yang beginner, mereka disarankan untuk mengikuti latihan singkat (coaching) agar bisa bermain sesuai dengan rule.

Mayoritas anggota adalah pekerja profesional. Mulai dari perbankan, karyawan kantor, hingga pemilik bisnis atau pengusaha.

Yang menarik, lapangan padel bukan hanya sekedar untuk berolahraga.

Arena tersebut memiliki manfaat ganda. Selain membakar kalori, lewat komunitas ini mereka juga memperluas relasi bisnis dan jaringan usaha.

"Tidak jarang ada anggota kami yang mendapatkan klien dan mitra bisnis baru karena aktif di padel," paparnya.

Demikian juga dengan dirinya. Sebagai dokter hewan, Larasati tidak jarang mendapatkan pasien baru dari anggota komunitas. Sebab banyak di antaranya adalah penyuka hewan. Seperti kucing dan anjing.

"Saya sering dapat pasien ya dari sesama anggota. Secara langsung tentu keuntungan ini kembali juga ke kita," paparnya.

Larasati mengakui bahwa padel adalah jenis olahraga mahal. Salah satunya terlihat dari outfit yang dikenakan oleh para pemain. Untuk raket, contohnya.

Rata-rata para anggota komunitas memilki raket yang branded. Dengan kisaran harganya lebih dari Rp 5 juta. Belum lagi outfit yang lain seperti sepatu dan pakaian yang dikenakan.

Tanda padel olahraga mahal juga terlihat dari lapangan. Harga sewa per jam antara Rp 210 ribu sampai Rp 300 ribu per jam. Bandingkan dengan lapangan tenis yang hanya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Itu belum termasuk jasa fotografi untuk pengambilan konten foto dan video buat diposting di media sosial.

"Memang sebagian ada ajang pamer ya. Karena nggak seru kalau nggak di-posting di medsos," pungkas alumnus Fakultas Kedokteran Heran (FKH) Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) itu lalu tertawa.

Operasional Manager Rooftop Padel Club Putu Erni Noviyani Keswara mengatakan olahraga padel di Mataram benar-benar mulai booming. Itu terlihat dari tingkat okupansi terus bertambah. Saat ini setiap jam adalah prime time. Buka mulai pukul 06.00 dan tutup hingga pukul 00.00.

"Di setiap jam itu selalu ada yang main. Apalagi saat weekend, harus pesan dua hari sebelumnya baru bisa dapat slot main," kata Erni. (*)

 

Editor : Kimda Farida
#Kota Mataram #olahraga padel #Pulau Lombok #padel #komunitas padel