LombokPost - Ada bidan yang tetap membantu kelahiran bayi sungsang setelah rumahnya hanyut; ada dokter yang harus merawat pasien di puskesmas sembari menenangkan sang anak yang ketakutan melihat banjir menerjang; dan ada direktur RSUD yang sampai kini harus tidur di rumah sakit karena kediamannya masih terendam lumpur.
SAAT air bah masih tinggi, seorang ibu bertaruh nyawa melahirkan bayi sungsang.
Seharusnya dia dirujuk. Namun, jalan di Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang, terputus.
"Saya bilang dalam hati, ya Allah saya saja yang menolongnya," kenang Arnawati, seorang bidan di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, yang bertempat tinggal di desa tersebut, kepada Jawa Pos tentang kejadian pada 26 November tahun lalu itu.
Padahal, Arnawati juga korban. Rumahnya di tepi sungai hanyut. Jawa Pos yang melihat langsung ke lokasi hanya menemukan bekas kamar mandi. Bidan 47 tahun itu dan keluarga harus tinggal di tenda yang didirikan di bekas ruko yang hancur diterjang banjir.
Dengan alat-alat seadanya di dalam tas merah yang dibawanya, dia turun tangan. Ada gunting, benang, kapas, dan penerangan dari tisu yang disulut minyak goreng. Juga bantuan bidan desa setempat. Bayi itu akhirnya lahir selamat.
Air belum surut ketika kabar duka lain datang: rumah orang tuanya juga hanyut. Armawati tetap bertahan di desanya. Dengan stok obat yang kian menipis, perempuan 47 tahun itu membagi paracetamol satu per satu bagi warga yang sakit.
"Saya jatah, satu orang satu biji. Kalau nggak berat, saya sarankan minum air hangat," ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Kamis (15/1) pekan lalu.
Kini, setelah hampir dua bulan, ada kabar melegakan. Para tenaga kesehatan yang terdampak mendapatkan bantuan untuk membangun rumah mereka.
"Saya juga manusia. Saya korban, tapi juga dituntut untuk memberikan layanan kesehatan," kata dokter bedah RSUD Muda Sedia, Surya Martua Harahap, kepada Jawa Pos Jumat (16/1) pekan lalu.
Ketika banjir besar menerjang, Surya tengah menuju rumah sakit. Dia sempat terjebak banjir selama empat hari dan menjadi pengungsi.
Harus Ungsikan Anak
Tenaga medis dan tenaga kesehatan di RSUD Muda Sedia 90 persen menjadi korban. Selain Surya, Direktur RSUD Muda Sedia Andika Putra juga harus mengungsikan anak-anaknya ke Medan, Sumatera Utara.
Di Tamiang, Andika tinggal bersama dengan istrinya. Hingga kini, keduanya tidur di rumah sakit karena rumah mereka terendam lumpur.
Vika Indah Lestari juga harus membagi waktu antara membersihkan rumah dan mengurus Puskesmas Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, tempatnya mengabdi.
“Di sini pelayanan memang baru setengah hari karena masih ada staf yang harus bersihkan rumahnya,” tutur perawat 36 tahun itu.
Pada 26 November yang kelam itu, Vika harus memeluk buah hatinya dan berkumpul dengan 37 orang lainnya di sebuah rumah kayu tingkat. Air tak mau surut cepat, sementara perbekalan semakin tipis.
"ASI tidak keluar, tapi harus tetap diberikan agar anak tidak rewel," kenangnya.
Harus Tenangkan Buah Hati
Azmi Rizki, dokter di Puskesmas Tamiang Hulu, malah harus merawat tujuh pasien rawat inap, menenangkan buah hatinya yang ketakutan, dan memikirkan orang tuanya di kampung.
Saat kejadian, kebetulan buah hatinya yang berusia 10 tahun sedang libur sekolah dan datang ke rumah dinas. “Hari kedua banjir, pasien kami minta pulang karena kami tidak bisa menyediakan perawatan dan memberikan makanan,” katanya.
Sementara, dia bersama anak dan sembilan tenaga kesehatan lain tetap harus menyambung nyawa. Untuk mengisi perut, dokter umum 34 tahun itu hanya mengonsumsi pisang rebus yang kebetulan dimasaknya sebelum banjir datang.
“Setelah kejadian, kami mengungsi di posko dan pelayanan tetap jalan. Kami bergantian,” kata Azmi.
Pada saat Jawa Pos berkunjung ke Puskesmas Tamiang Hulu pada Kamis (15/1), ada dua orang pasien di instalasi gawat darurat. Adapun di halaman, lumpur masih terlihat.
Data awal dari Dinas Kesehatan Aceh Tamiang menunjukkan, ada 593 tenaga kesehatan yang rumahnya rusak. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Aceh Tamiang Mustakim, data tersebut sudah diserahkan kepada pusat.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mendorong agar rumah tenaga kesehatan yang menjadi korban bencana di Sumatera dapat menjadi prioritas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). "Bagaimana tenaga kesehatan bisa bekerja normal kalau rumahnya sendiri belum normal?" ujar Budi.
Deputi IV BNPB, Jarwansyah, menyampaikan, data dari Kementerian Kesehatan telah diterima. "Rinciannya, di Aceh sebanyak 3.050 unit, di Sumatera Utara 48 unit, dan di Sumatra Barat 167 unit, dengan total 3.265 unit rumah," kata Jarwansyah.
Nantinya, akan dilakukan verifikasi. BNPB membagi rumah terdampak ke dalam tiga kategori kerusakan: ringan, sedang, dan berat. Bantuan stimulan diberikan sebesar Rp 15 juta untuk rumah rusak ringan, Rp 30 juta untuk rusak sedang, dan Rp 60 juta untuk rusak berat dalam bentuk pembangunan rumah.
Bantuan itu diharapkan bisa sedikit meringankan beban para tenaga kesehatan, yang dalam istilah Kepala Puskesmas Tamiang Hulu Purwono dituntut menjadi Superman. "Antara jadi korban dan tetap melakukan layanan," katanya. (FERLYNDA PUTRI, Aceh Tamiang/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida