LombokPost - Tanker MT Abigail W kandas dalam kondisi tanpa muatan, tetapi proses evakuasinya terhalang ombak tinggi dan hujan deras.
Kantor Kesyahbandaran menjamin, keberadaan kapal jumbo itu tak akan mencemari perairan sekitar.
SETELAH sepekan berjuang, akhirnya ada sedikit kabar baik dari pesisir Pantai Panduri, Tuban, Jawa Timur, Rabu (28/1).
Bodi tanker MT Abigail W yang terjerembab perlahan mulai bergeser.
Tapi, perjuangan sepertinya masih akan panjang untuk benar-benar melepaskan tanker berbobot 1.738 ton tersebut dari tempatnya terdampar sejak Rabu (21/1) pekan lalu.
‘’Tak hanya melakukan penarikan, hari ini (kemarin, red) kami dibantu dengan kru permesinan MT Abigail W yang mencoba mulai menggerakan mesin,’’ ujar Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Kelas III Tanjung Pakis C. Metropolitan Jaya kepada Radar Tuban Grup Jawa Pos.
Operasi evakuasi hari ketujuh dimulai pukul 10.00. Sempat kembali tertunda karena cuaca ekstrem, proses kembali bisa dilanjutkan pada pukul 14.00.
Pergerakan dua kapal pembantu, TB Mitra Anugrah 23 dan TB Transco Dara, dikerahkan dengan menambah diameter tali towing kapal lebih besar.
Itu percobaan yang kesekian kali dalam sepekan sejak terdampar.
Cuaca tak bersahabat yang menyulitkan tim evakuasi. Pada percobaan Selasa (27/1) lalu, misalnya, tim harus menepi karena ombak dan hujan deras.
MT Abigail W kapal pengangkut minyak berbahan baja milik PT Pertamina Trans Kontinental.
Sekitar pukul 19.20 pada Rabu pekan lalu, kapal yang dinakhodai Muhammad Harun Sinaga dan membawa 15 awak tersebut terdampar di bibir Pantai Panduri yang masuk wilayah Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, akibat terjangan angin kencang dan gelombang tinggi.
Kekuatan angin saat itu diketahui mencapai 30–35 knot, sedangkan tinggi gelombang berkisar 1,5 hingga 2 meter.
Tapi, nakhoda dan seluruh kru kapal telah dievakuasi dengan selamat.
Tanker tersebut tengah berlayar dari Pelabuhan Merak, Banten, menuju Terminal Khusus Pertamina Patra Niaga Tuban.
Saat kejadian, kapal tidak membawa muatan.
Sejumlah pihak dilibatkan dalam proses evakuasi, antara lain PT Pertamina Patra Niaga, PT Trans Pasific Petro Chemical Indotama, keagenan kapal PT Pertamina Trans Kontinental, Satpolairud Polres Tuban, serta kru Kapal MT Abigail W. Percobaan evakuasi pertama dilakukan pada Kamis (22/1) mulai pukul 17.00 dengan metode penarikan menggunakan dua kapal tunda, yakni TB Ratu Harbour dan TB Maiden Power.
“Proses evakuasi kami lakukan hingga pukul 23.00, namun tidak berhasil karena cuaca buruk dan ombak besar dengan ketinggian 2–3 meter serta kecepatan angin hingga 31 knot,” jelas Metropolitan.
Upaya evakuasi dilanjutkan pada Jumat (23/1) siang dengan metode yang sama.
Namun, hasilnya kembali belum berhasil karena kondisi cuaca di perairan Tuban masih kurang bersahabat.
“Pembaruan data pasang surut harian terus kami lakukan karena waktu aman evakuasi kapal biasanya saat pasang tertinggi, yakni pukul 11.00 hingga 15.00,” kata Metropolitan.
Faktor Keselamatan
Keselamatan tim penyelamat kapal menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, ketika gelombang terlalu tinggi, tim evakuasi tidak akan memaksakan proses penarikan.
Meski proses masih panjang, Metropolitan menjamin kalau belum bergesernya tanker MT Abigail W dari pesisir tidak akan mencemari lingkungan maupun merusak biota laut setempat.
Sebab, tanker tersebut tidak mengangkut muatan apa pun. Pertamina Patra Niaga juga memastikan, kejadian ini tidak akan mengganggu distribusi BBM.
Hingga Kamis (28/1), belum ada target waktu kapan evakuasi akan tuntas.
Pihak KSOP menyatakan akan terus memantau kondisi cuaca sebelum kembali melakukan percobaan penarikan.
Fokus evakuasi sepekan terakhir adalah membuat badan kapal dapat terapung terlebih dahulu.
“Tidak ada estimasi jangka waktu. Intinya, kami tetap berusaha agar kondisi kapal bisa terapung, sehingga proses evakuasi selanjutnya lebih mudah dilakukan,” kata Metropolitan. (ANDREAN, Tuban/ds/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida