Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Ropi dan Kawan-Kawan Ciptakan “Lombok Kecil” di Tengah Kuwait

Nurul Hidayati • Jumat, 20 Februari 2026 | 12:00 WIB

 

TAMBAH ILMU: Ropi Harnawadi saat mengikuti kajian saat ramadan tahun lalu di Kuwait.
TAMBAH ILMU: Ropi Harnawadi saat mengikuti kajian saat ramadan tahun lalu di Kuwait.
  

 

LombokPost - Tak ada bedug, tak ada pasar takjil, hanya azan yang menggema di antara gedung-gedung Kuwait. Namun bagi Ropi Harnawadi dan diaspora NTB lainnya, Ramadan di tanah rantau tetap hangat karena rindu pada Lombok selalu menemukan jalannya.

Sudah enam tahun lamanya, Ropi menjalani ibadah puasa jauh dari riuhnya suara "Sahur.. Sahur.." yang biasa membelah kesunyian malam di kampung halaman di Menseh, Pengonak, Praya Timur, Lombok Tengah.

​Kini, di bawah langit Kuwait yang terik, Ropi berbagi kisah tentang bagaimana rasanya menjadi "Batur Lombok" yang harus beradaptasi dengan ekstremnya alam Timur Tengah demi sesuap nasi dan segenggam harapan.

​Jika di Mataram atau Praya jalanan akan dipadati pedagang takjil sejak pukul empat sore, suasana di Kuwait sungguh kontras. Tak ada aroma gorengan yang menusuk hidung atau antrean panjang warga membeli es campur di pinggir jalan.

​"Di sini tidak ada pasar takjil atau budaya ngabuburit seramai di Lombok," ujar Ropi.

Satu-satunya penanda waktu berbuka yang paling dinanti hanyalah suara kumandang azan yang menggema dari menara-menara masjid, tanpa ada bunyi bedug yang mengiringi.

​Tantangan terbesar merantau di Kuwait adalah cuaca yang ekstrem. Ropi menceritakan pengalamannya tahun lalu saat Ramadan jatuh pada musim panas. Durasi puasa membentang lebih panjang dari tanah air, yakni sekitar 14 hingga 15 jam.

​"Suhunya bisa mencapai 40 derajat Celsius. Sangat ekstrem, apalagi kalau harus bekerja saat musim panas yang terik," kenangnya.

​Meski bekerja di lingkungan yang heterogen, Ropi merasa bersyukur karena berada di negara muslim. Toleransi tetap terjaga dengan baik. Rekan kerja yang tidak berpuasa pun menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang sedang menjalankan ibadah.

Baca Juga: Takjil yang Ditawarkan saat Ngabuburit di Lapangan Malomba Cukup Beragam, Anak-Anak Bisa Melukis atau Naik Odong-Odong

Meski raga di Kuwait, lidah tetaplah lidah Sasak. Untuk mengobati rasa rindu yang membuncah pada kuliner rumah, Ropi dan sesama perantau kerap "memaksakan" diri meracik bumbu seadanya.

​Dapur apartemennya sering kali berubah menjadi dapur Lombok sesaat sebelum berbuka. Pelecing Kangkung, Ayam Taliwang, Beberok, hingga Serbuk menjadi menu wajib untuk mengobati lara. Bahkan, mereka masih sempat mengusahakan adanya jajanan sebagai takjil "darurat".

​"Kami buat bareng-bareng sama teman-teman perantau. Rasanya mungkin tidak persis sama dengan di Lombok, tapi kebersamaannya yang membuat makanan itu terasa istimewa," kata Ropi tersenyum.

​Kesepian saat sahur yang sunyi tanpa rombongan pemuda keliling kampung terobati dengan adanya komunitas. Ropi aktif dalam Forum Diaspora Indonesia Kuwait (FDIK) dan Komunitas Keluarga Nusra (Nusa Tenggara).

​Di sinilah para perantau asal NTB berkumpul. Selain itu, terdapat Masjid Indonesia yang menjadi pusat kegiatan spiritual bagi warga tanah air.

Di sana, mereka bisa berbuka bersama, melaksanakan salat tarawih, hingga tadarus Alquran, menciptakan atmosfer "Lombok Kecil" di tengah megahnya bangunan Kuwait.

​Bagi Ropi, pelajaran berharga dari enam tahun merantau adalah menghargai setiap detik kebersamaan dengan keluarga yang dulu mungkin dianggap biasa saja.

Jika bisa "mengimpor" satu momen dari Lombok, Ropi tak ragu memilih momen sahur dan buka puasa bersama keluarga besar. "Suasana ini yang benar-benar saya rindukan," imbuhnya.

Ropi menitipkan salam rindu untuk keluarga di Praya Timur. ​"Selamat menunaikan ibadah puasa untuk keluarga di Lombok. Semoga semuanya sehat selalu di sana," pungkasnya. (Nurul Hidayati, Mataram/r3)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #toleransi #Kuliner #Puasa #Lombok