LombokPost - Ramadan di Kota Toyota hadir tanpa gema bedug seperti di Gunungsari, Lombok Barat.
Dinginnya apartemen Jepang kini menjadi saksi bisu dialog batin paling murni antara hamba dan pencipta.
Tujuh tahun merantau telah menempa iman Muhammad Nurhadi Fazri di tengah deru mesin manufaktur asing.
Ingatannya melayang ke Gunungsari. Di jam-jam seperti ini, biasanya telinga riuh oleh suara tetangga yang saling panggil untuk bersiap sahur.
Atau ketika sore menjelang, Jalan Raya Gunungsari pasti tumpah ruah dengan kepulan asap ikan bakar, deretan penjual es cendol, dan suara dakwah yang menggema dari corong masjid.
Namun, di Kota Toyota, prefektur Aichi, Jepang suasananya 180 derajat berbeda. Pekerja Manufaktur asal Gunungsari di Toyota, Jepang Muhammad Nurhadi Fazri pun menceritakan pengalamannya menghabiskan Ramadan beberapa tahun di Jepang.
Tujuh tahun merantau di Negeri Sakura, Ramadan baginya adalah sebuah perjalanan sunyi. Di sini, sore hari hanya diisi oleh suara angin yang melewati hamparan sawah atau sesekali kepakan sayap burung gagak. Tak ada riuh ngabuburit.
Yang ada hanyalah lalu lalang pekerja Jepang yang pulang dengan sepeda atau mobil dalam diam.
Spiritualitas di Balik Mesin Pabrik
Bekerja di pabrik manufaktur kecil di tengah mayoritas non-muslim memberi Fazri panggilan akrab pria ini membuat perspektif baru tentang toleransi.
Rekan kerja, orang-orang Jepang yang sangat sopan, seringkali bertanya dengan raut khawatir namun kagum.
"Apa boleh aku makan bento di depanmu?" tanya mereka. Saya selalu menjawab dengan senyum, "Boleh, tidak masalah." Kalimat "Gambatte ne!" (Semangat ya!) menjadi penyemangat harian saat rasa lelah mulai menyapa di sela-sela shift kerja. Bagi mereka, puasa adalah hal yang luar biasa.
"Bagi saya, menjelaskan esensi spiritual di balik rasa lapar adalah bentuk dakwah kecil di lantai pabrik," imbuhnya.
Menu Darurat dan "Bisikan" Alarm
Ramadan 2026 ini jatuh di pengujung musim dingin. Suhu berkisar antara 0 hingga 10 derajat Celsius. Meski bibir terasa kering karena udara yang dingin, rasa haus tidak sehebat saat musim panas yang bisa mencapai 15 jam waktu puasa.
"Saat ini, saya beruntung "hanya" berpuasa sekitar 12,5 jam sedikit lebih pendek dari durasi di Lombok," terangnya.
Namun, urusan lidah tak bisa berbohong. Fazri sangat merindukan pelecing kangkung dan ayam beberuk yang pedasnya "nendang".
Di Toyota, cabai rawit segar adalah barang mewah. "Kami biasanya hanya mengandalkan cabai beku (frozen)," tambahnya.
Takjil pun sangat sederhana, terkadang hanya kurma dan pisang bakar dari supermarket lokal.
Sahur adalah momen paling melankolis. Tak ada suara bedug atau rombongan anak kecil yang berteriak "Sahur.. sahur..".
Di kamar apartemen yang dingin, hanya alarm ponsel yang memecah sepi pukul 04.00 pagi.
Sambil berselimut tebal, dirinya menyantap nasi, telur, dan empal daging ditemani lantunan murottal dari YouTube agar suasana rumah terasa dekat.
Ibadah Mandiri: Antara Fazri dan Sang Pencipta
Masjid terdekat berjarak 30 menit dengan sepeda. Jika cuaca sedang tidak bersahabat atau angin kencang berhembus, dirinya memilih tarawih sendirian di rumah.
Meski rindu bercengkerama dengan sesama perantau, teknologi menjadi penyelamat.
"Lewat video call, saya tetap bisa mengaji bersama keluarga di Lombok atau sekadar melihat wajah ibu dan bapak saat mereka berbuka," tambahnya.
Tujuh tahun di Jepang mengajarkan dirinya satu hal: berpuasa di negeri orang memurnikan niat. Di Lombok, puasa didukung oleh lingkungan yang masif.
Di sini, puasa adalah urusan murni antara dirinya dan Allah SWT. Gak ada pamer, gak ada ikut-ikutan.
Hanya ada kesabaran dan syukur atas rezeki sekecil air hangat dan sebutir kurma.
Kalau boleh memilih satu hal untuk "diimpor" ke Jepang, Fazri ingin membawa kemeriahan malam takbiran.
Suara bedug dan obor anak-anak keliling kampung adalah memori yang tak tergantikan, meski di sini Idul Fitri juga mulai ramai dengan kehadiran berbagai warga negara. (Nurul Hidayati, Lombok Barat/r3)
Editor : Kimda Farida