LombokPost - Idulfitri tiba, tapi Muhammad Azri, orang tua, dan kedua kakaknya yang juga masih anak-anak masih harus merayakannya di tenda pengungsian sejak jadi korban banjir bandang akhir November tahun lalu. Tak ada ketupat, opor ayam, apalagi baju baru.
Di tenda darurat berlapis terpal yang lusuh itu, Muhammad Azri merayakan Lebaran.
Bersama dua kakaknya yang juga baru berusia delapan dan lima tahun, tubuh bayi lelaki enam bulan tersebut sudah harus beradaptasi dengan terpaan angin malam, sengatan panas, dan suara-suara asing di sekeliling tenda pengungsian di halaman kantor bupati Bireuen, Aceh, itu.
Azri bersama kedua orang tua, Arif Ramadhan-Murrina, serta kedua kakak, Aska Algifari dan Muhammad Rafqa Aulia, merupakan para korban banjir bandang akhir November tahun lalu.
Di Aceh, Bireuen, sebenarnya bukan termasuk kabupaten paling parah terdampak.
Tapi, sampai dengan Rakyat Aceh (Grup Jawa Pos) menyambangi Senin (23/3) sore lalu, Arif dan keluarga masih harus merayakan Lebaran di bawah tenda.
Kesedihan akibat kondisi mereka membuat keluarga itu tak bisa sepenuhnya gembira merayakan hari raya. Tangis Azri yang sesekali pecah seperti mewa-kili ketidaknyamanan itu.
Tak ada halaman luas, tak ada mainan baru. Yang ada hanyalah tanah lapang, debu, dan tenda-tenda pengungsian yang berdiri berderet sam-pai dengan Kamis (26/3).
”Kalau malam, kami sering kesulitan karena angin dan udara dingin. Apalagi untuk bayi,” ujar Murrina lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin.
Ia terus mengusap tubuh Azri, mencoba menghangatkan dengan pelukan yang menjadi satu-satunya perlindungan paling nyata. Di dalam tenda sederhana itu, tak ada kasur empuk, tak ada selimut tebal.
Hanya tikar seadanya dan beberapa barang yang berhasil diselamatkan. Ketika hujan turun, kekhawatiran pun bertambah: air bisa masuk kapan saja.
Baca Juga: Banyak Infrastruktur Rusak Diterjang Banjir Bandang, DPRD Sarankan Perbaikan Darurat Lewat Skema BTT
Keheningan, Doa, dan Harapan
Tak ada ketupat, opor ayam, apalagi baju baru di Lebaran kali ini. Juga tawa riang dari sanak atau sahabat yang berkunjung. Keheningan yang nglangut (sepi, bingung, dan renungan panjang, red) mendominasi di sela doa dan harapan yang terus dimunajatkan.
Arif, sang kepala keluarga, berusaha tetap tegar. Tapi, tetap saja dia tak bisa sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan melihat kondisi keluarganya, terutama Azri.
”Yang penting anak-anak sehat. Kami hanya berharap ada bantuan dan solusi supaya bisa kembali hidup normal,” ujarnya dengan nada penuh harap saat disambangi Rakyat Aceh tepatnya di hari Lebaran ketiga, Senin (23/3) sore.
Hari-hari di pengungsian terasa berjalan sangat lambat. Bagi Azri, ini adalah awal kehidupan yang keras. Bagi orang tuanya, ini ujian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Keberadaan Azri di tengah kondisi tersebut juga seakan menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa di antara yang paling membutuhkan perhatian adalah mereka yang paling lemah dan tak berdaya. Bayi yang belum bisa berbicara, namun mampu merasakan semuanya. (Akhyar Rizki, Bireuen/rif/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda Farida